ALT_IMG

Ria Jenaka

Sejenak melupakan kepenatan saat menghadapi hari-hari bersama murid-murid kesayangan. Joke perlu, Guyon perlu, yang penting bisa mengobati stress. Asal tidak kelewatan dalam becanda insyaAllah tidak akan menjadikan kita lupa akan tugas utama kita..., tersenyumlah kawan! Yuk kita baca...!

ALT_IMG

Pendidikan

Pendidikan merupakan hak anak-anak kita, dan kewajiban kita memberikan kepada mereka. Ternyata pendidikan yang terbaik dimulai disaat mereka (anak-anak kita) masih dalam kandungan ibunya. Perlu diketahui, bahwa disaat mereka berumur 120 hari dalam kandungan, mereka sudah mampu merespon apa yang kita rasakan, kita perbuat dan segala sesuatu di luar diri mereka. Pemberian nama juga perlu...Baca Lengkap...!

Alt img

Guru Oemar Bakrie

Kita semua tahu, dedikasinya tidak dapat dipungkiri dan dilupakan begitu saja oleh sebagian besar penduduk negeri ini. Kiprahnya mampu melahirkan orang-orang besar layaknya Habibi. Namun sebagian mereka terlupakan, bagaimana kisah mereka di negeri ini? Kita akan dan terus ikut mewarnainya...Baca Kisahnya...!!!

ALT_IMG

Kata Mutiara

Kadang kita merasa tersesat, butuh suluh untuk menerangi jalan. Mungkin sebuah kata akan membuatmu merasa terang benderang di jalan yang kita anggap lurus (semoga). Di sini ada kata-kata mutiara yang insyaALLOH akan menggugah semangat kita... Lihat semua...!

ALT_IMG

Wrooterist

Ini lho kumpulan tulisanku..., jelek-jelek juga gak apa-apa, namanya sedang berlatih. Beri komentar yach...! Kalo perlu diponten, nanti di kasih reward lho... Baca yuk...!

Tampilkan postingan dengan label O-Bakrie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label O-Bakrie. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Januari 2014

Trio Bujang Ngelakar

0 komentar
Senin, 13 Januari 2014

Sore jam 17.42 kelas aku bubarin. Suara gaduh di luar sangat mempengaruhi anak-anak di dalam kelasku. "Pak Pulang Pak", "Wayahe-wayahe...!", begitu kira-kira celetukan anak-anak. Seperti biasa, selesai doa anak-anak menyalamiku. Yang nggak mau salaman "tak sepatani" (aku doain) nggak naik kelas. Terpaksa mereka menyalamiku. Mereka berebut tanganku yang belum 100% persen sembuh dari kecelakaan 6 bulan lalu.

"Yan, pulang yuk?" seruku pada Wayan. Seorang guru muda, energik, mahasiswa S2 di Unila.

"Ya mas..." tangannya menyambut tangankku untuk salaman. Hahhh..., apa masalahnya si Wayan mencium tanganku. Murid bukan, adek bukan. "Semoga pikiran baik datang dari segala arah", kata si Wayan.

Terlihat juga Mono dan Agil sedang menunggu habisnya anak-anak keluar sekolah sambil mendorong motornya. Aturan yang ketat, tidak boleh ada suara bising knalpot di lingkungan sekolah. KECUALI KNALPOT GURU. Agil terlihat sibuk menarik kartu parkir mbantuin Mas Tarjo. Satpam sekolah yang pernah gagal untuk menjadi ABRI.

Wayan, Mono, dan Agil. Trio Bujang, ungkapan yang pas buat mereka. Jam tanganku sudah membentuk angka 5:56, sebentar lagi magrib. Males rasanya untuk segera pulang. Melihat Trio Bujang masih tegak di teras ruang guru. Motor Varioku tak dorong ke arah mereka. "Mie Suroboyo Pak Dhe yuk...?" ajakku kepada mereka.

"Waah..., kayaknya ada yang mau nraktir makan nih...?" kata Mono sambil tersenyum mengharap. Jidatnya yang kehitaman menunjukkan rajinnya dia sholat. Masih muda memang, kira-kira 9 tahun di bawahku. 

"Ayo kalo mau...!" jawabku. Akhirnya Wayan dan Agil pun tergerak. Kami berempat bergeser dari sekolah menuju lokasi Pak Dhe penjual Mie Suroboyo. Kira-kira 7 kilo dari arah kami mengajar. Rasa-rasanya seperti 'ngemong' sore itu.

Apes, atau untung buatku. Pasalnya Pak Dhe nggak jualan. Mungkin dikarenakan besok hari libur Peringatan Maulid Nabi. Beruntung, ternyata mereka, Trio Bujang, hendak besuk Asror, salah satu guru terbaik di sekolah kami yang telah menghantarkan seorang siswa untuk juara Olimpiade Fisika Terapan hingga tingkat Nasional. Malaria dan DBD kata mereka. 

***

Sesaat setelah sholat magrib, aku, Mono dan Agil kembali ke ruang 319. Wayan nggak ikut sholat. Agil, sosok guru berpostur kecil, lucu (bisa ngelucu) menurutkan kepada kami. Sambil menghibur Asror:

Satu hari, ada beberapa guru nggak hadir pada jam mengajar pagi. Tentu mereka bukan malas-malasan untuk menunaikan kewajiban mereka. Kondisi kelas beberapa di antaranya kacau. Maklum, anak-anak SMT swasta. Kaki pada diangkat di atas meja.

Tentu kondisi seperti ini tidak diharapkan oleh siapa pun. Termasuk kepala sekolah. Dasar lagi apes, ada salah satu kelas yang kacau beliau. Kelas salah seorang guru yang memang nggak bisa hadir hari itu. Kepala sekolah terlihat marah. Anak-anak kena semprot. Gurunya? Nggak dong, kan nggak hadir brow...

Nggak berapa lama, Agil bertemu dengan kepala sekolah. Agil pun nggak malu-malu tanya kepada pimpinannya. "Ada apa Pak...?" tanya Agil agak ketakutan melihat mimik pimpinannya.

"Ini gimana, masa anak-anak kakinya pada diangkat. Memangnya ke mana gurunya?" jawab kepala sekolah. 

"Sudah ijin Pak," jawab Agil. Sebenarnya dia tahu, kalau kepala sekolah sudah menerima informasi bahwa ada beberapa guru nggak masuk hari ini.

"Saya alpain semua...!!?!?" desak kepala sekolah.

"Siapa Pak, anak-anak dialpa semua...?" Agil terasa kaget. Waduh bisa gawat ini...

"Bukan," kata kepala sekolah. "Guru-guru yang nggak masuk itu saya alpain semua," seru kepala sekolah kemudian.

Agil terbahak-bahak nggak sanggup mengingat kejadian itu. Dia bilang sebenarnya waktu itu juga mau rasanya ketawa seperti sekarang. Cuma nggak enak saja sama kepala sekolah.

Waduh, bisa lebih gawat ini. Ada guru yang dialpain gara-gara nggak masuk. Padahal mereka nggak bolos lho. Cuma nggak masuk. Kalau murid, itu baru bolos namanya...
Continue reading →
Kamis, 01 Maret 2012

GURU TEKOR, MURID NYOHOR

0 komentar
Bandarlampung - p4k -- Ini kisah dari Bu Ani. Dia mengajar di sebuah sekolah lanjutan pertama. SMP swasta dengan status disamakan. Sekolahannya kecil, nyempil di antara hunian penduduk. Lokasinya di tengah kota Bandarlampung. Katanya sih sekolah di sana gratis, alias gak bayar SPP. Wah…, hebat. Ada sekolah gratis. Gratis bukan berarti untuk orang-orang kalangan miskin.

Guru-gurunya terlihat berwibawa, namun sederhana. Eit…, kebalik. Guru-gurunya terlihat sederhana, namun berwibawa. Ada namanya Pak Agus. Sosoknya yang tinggi besar, tegap kehitaman. Sosok ini sangat disegani oleh anak-anak murid.

Dari tiga tingkat, paling-paling jumlah kelasnya ada 3 kelas. Kadang-kadang bisa 4 sampai 5 kelas. Bisa dibayangkan jumlah siswanya. Jika 1 kelas berisi 30 kepala, maksimal kira-kira 150-an kepala. Jumlah gurunya tidak sampai 20 orang, itupun sudah termasuk tenaga TU yang kadang harus merangkap jadi guru.

Sekolah ini memang tidak dikhususkan untuk anak-anak orang kaya. Tapi, kebanyakan murid-miridnya berasal dari kalangan bawah alias miskin. Kehidupan mereka terbatas. Bahkan ada yang hampir-hampir kurang makan. Ada yang tidak bawa uang jajan. Pokoknya ngenes-lah kehidupan murid-muridnya.

Para guru sangat paham kondisi anak-anak. Akibatnya mereka, para guru, tidak tega untuk memberikan tugas yang kira-kira harus merogoh kocek mereka. Apalagi membebani urusan orang tua mereka yang kadang-kadang makan kadang-kadang harus puasa.

Lalu siapa yang menggaji para guru? Harus ditanyakan tuh? Dari mana ya kira-kira? Yang jelas bukan dari SPP para siswa. Menurut Bu Ani, gaji guru-guru tersebut diambilkan dari dana BOS. Mereka rela menerima uang gaji kadang 3 bulan sekali. Asyik, jadi makin gede…! Jangan seneng dulu. Uang gaji yang diterima tiap 3 bulan itu dimaksudkan biar terlihat gede. Waduh…!

Seorang guru yang mengajar di sekolah gratis itu hanya mendapatkan rata-rata 250 ribu per tiga bulannya. Jika dirata-rata per bulan tidak sampai 100 ribu. Sementara gaji tukang cuci di rumah Bu Ani dibayar 300 ribu per bulan. Bu Ani sarjana, pembantu di rumahnya paling-paling lulusan SD, atau bahkan nggak sekolah. Getir ya…? Siapa nih yang salah? Bu Ani atau pembantu rumahnya?

Dihitung-hitung untuk biaya operasionalnya saja nggak cukup. Uang 100 ribu, ditengah-tengah kehidupan kota, seperti orang yang numpang lewat. Menunggunya 3 bulan, habisnya sehari. Ya gimana lagi, bulan kemarin saja masih ngebon sama tukang sayur. Sama warung sebelah.

Tapi yang sangat disesalkan, masih menurut Bu Ani, anak-anak didiknya tidak mencerminkan kondisi finansial keluarganya. Mereka terlihat bergaya. Dengan henpon yang bagus-bagus. Gaya pakaian yang sedikit norak seperti artis di sinetron-sinetron. Dandanan rambut yang kadang tidak layak untuk seorang murid SMP. Wah, pokoknya kadang makan ati. Bu Ani hanya bisa mengurut dada.

Ketika disinggung dengan biaya kecil-kecilan saja anak-anak banyak yang mengeluh. Tidak ada duit katanya. Tampilannya saja yang nyohor.

Bu Ani dan kawan-kawan guru yang lain tampak menikmati pekerjaan mereka. Mereka terlihat ikhlas mendidik anak-anak yang kadang kelakuannya menyesakkan dada. Kadang bikin emosi naik. Kadang-kadang bikin darah mendidih. Mereka hanya bisa bersabar dengan uluran tangan pemerintah.

Guru-guru disana hanya bisa meluruskan niat. Bahwa mengajar di sana hanya sebatas mengejar nilai dari sisi ibadahnya. Hanya sebatas pengabdian atas ilmu yang selama ini dipelajari. Lain tidak. Untuk mendapatkan gaji yang layak tidak mungkin, kecuali sertifikasi. Untuk sertifikasi jelas tidak memenuhi kriteria. Pasalnya jumlah jam ngajarnya kurang dari yang dipersyaratkan, yakni minimal 24 jam. Hitungannya dari mana?

Tekor, tekor. Gurunya tekor, muridnya nyohor…! ⊛
Continue reading →
Jumat, 24 Februari 2012

Gara-gara Nggak Kompak

0 komentar
p4k -- Ada saja yang namanya kisah lucu, dimana ada lucu disitu ada yang ketawa. Kisah ini adalah kisah yang dialami kawan sekantor saya. Gara-garanya nggak kompak, antara dia dengan atasan kami. Namanya Maryadi, kebetulan kawan yang satu ini bekerja sebagai guru negeri alias Guru PNS.

Begini kisahnya, Gara-gara Nggak Kompak...

Pagi itu, Rabu yang indah 21/02/2012, diperkirakan akan ada tim verifikasi dari Dinas Pendidikan setempat. Verifikasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana persiapan sekolah kami dalam menghadapi Ujian Kompetensi Kejuruan. Hari mulai siang, para kaprog sedang asyik tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan peralatan dan bahan ujian.

Terlihat beberapa orang yang ditugaskan untuk verifikasi sudah hadir. Nggak berapa lama para verifikator itu menuju lokasi ujian. Mereka didampingi oleh kepala sekolah dan beberapa guru dari program yang ada di sekolah. Juga didampingi oleh masing-masing kepala program.

Setibanya di bengkel instalasi listrik, salah seorang verifikator bertanya mengenai kondisi genset (dinamo listrik). Dan secara kebetulan yang ditanya adalah Maryadi. Namun sebelum meminta penjelasan dari Maryadi, verifikator terlebih dahulu bertanya kepada kepala sekolah.

Menurut keterangan yang diberikan oleh kepala sekolah, genset tersebut dalam kondisi oke. Pokoke BAGUS lah, siap pake...

Mungkin karena kurang puas atas jawaban kepala sekolah, verifikator lantas bertanya kepada guru yang ada saat itu. Malang tidak dapat ditolak, Maryadi yang jadi nara sumber kali ini.

"Pak Maryadi, bagaimana kondisi genset ini, masih bagus nggak?" tanya verifikator meminta konfirmasi.

"Maap Pak, saya nggak berani jawab...!" timpal Maryadi. Raut mukanya yang lugu makin terlihat lucu.

"Lho kenapa, takut...? Udah jawab saja nggak apa-apa?" desak verifikator penuh pertanyaan.

"Bener nih Pak, nggak apa-apa?" jawab Maryadi minta kepastian perlindungan hukum.

"Ya, saya yang jamin...," verifikator meyakinkan.

"Okelah kalau begitu..., genset ini jelexs Pak, udah nggak layak pake...!" Maryadi menjawab sambil matanya menatap ke arah kepala sekolah. Dilihatnya kepala sekolah kecewa dengan jawaban Maryadi.

Maryadi dag-dig-dug, dia berpikir bakalan kena marah sama atasannya...,

Gara-gara Nggak Kompak sih, coba konfirmasi dulu ke Maryadi...!

"Tolong nanti saat verifikasi, kalo ada yang tanya ini-itu, bilang saja SEMUA BAGUS..., kalo nggak ntar nilai DP3 nya tak turunin...!" begitu seharusnya. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur...

Namanya juga cerita lucu, kadang bener kadang nggak bener, yang jelas ada benernya sih...(*)
Continue reading →
Minggu, 19 Februari 2012

Gaji PNS Naik, Rapellll Oeiiii

0 komentar
JAKARTA, p4k -- Kabar baik bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan prajurit TNI-Polri. Kenaikan rata-rata 10 persen gaji mereka bakal dibayarkan Maret mendatang. Karena kenaikan seharusnya dimulai sejak Januari lalu, seperti biasa, pemerintah juga bakal merapel untuk tiga bulan sekaligus pada bulan depan.

Pembayaran rapel kenaikan gaji PNS segera dilakukan setelah presiden menandatangani tiga Peraturan Pemerintah (PP) tentang Peraturan Gaji PNS dan TNI-Polri. Presiden juga menandatangani tiga PP lainnya untuk para pensiunan. ’’Nanti kami bayar secepatnya. Kalau sempat, Maret akan dibayarkan. Lalu, dua bulan kemarin akan diberikan rapel,’’ kata Sekjen Kemenkeu Kiagus Ahmad Badaruddin di kantornya kemarin.

Setelah PP ditandatangani kepala negara, Kemenkeu aka menerbitkan surat edaran ke kantor-kantor pelayanan perbendaharaan. ’’Itu sudah biasa kan. Kenaikan tiap tahun oleh presiden, PP-ya keluar,’’ kata Kiagus.

Dia mengatakan, biasanya akan ada jeda antara pembayaran gaji dan rapel. ’’Setelah pembayaran gaji bulanan, baru dibayarkan rapelnya. Ada time lag sedikit lah. Biasa itu,’’ katanya.

Dengan peraturan terbaru, gaji pokok terendah PNS golongan I-a masa kerja nol tahun adalah Rp1.260.000. Gaji pokok tertinggi golongan IV-e dengan masa kerja 32 tahun adalah Rp4.603.700.

Gaji tersebut belum termasuk tunjangan keluarga sebesar 10 persen gaji pokok untuk istri/suami serta 2 persen untuk anak. PNS masih menerima tunjangan pangan senilai 10 kilogram beras per orang. Pejabat struktural dan fungsional akan diberikan tunjangan jabatan. Juga ada tunjangan umum untuk yang tak memegang jabatan struktural dan fungsional. Kementerian/lembaga yang telah menerapkan reformasi birokrasi juga diberikan tunjangan remunerasi.

Wakil Menkeu Mahendra Siregar mengatakan, seluruh kenaikan gaji PNS sudah melalui kesepakatan di APBN. ’’Itu sudah masuk perhitungan dan itu bagian dari reformasi birokrasi,’’ kata Mahendra.

Dalam APBN 2012, komponen belanja pegawai meningkat menjadi Rp215,7 triliun atau sekitar 2,7 persen terhadap produk domestik bruto. Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan PNS, TNI, Polri, dan pensiunan melalui pemberian gaji ke-13 dan kenaikan gaji pokok sebesar 10 persen. Termasuk pemberian remunerasi untuk kementerian/lembaga yang telah siap melaksanakan reformasi birokrasi.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis menegaskan bahwa kenaikan gaji PNS 2012 itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mencairkannya. Sebab, hal tersebut sudah masuk dalam satuan anggaran untuk APBN 2012 yang disepakati pemerintah dan DPR.

Hanya, dia mengingatkan, besarnya anggaran untuk belanja pegawai negara itu harus dibarengi dengan formula peningkatan kinerja. ”Itu yang belum tergambar, yaitu tentang besaran unit pelayan negara dengan tingkat produktivitas,” jelas Harry.

Menurut dia, ketidakjelasan efektivitas peningkatan gaji PNS kali ini sama dengan kebijakan moratorium PNS yang telah ditelurkan pemerintah. ”Serba tidak jelas, hanya menaikkan gaji,” imbuh politikus Partai Golkar tersebut.

Dia lantas membeberkan bahwa anggaran untuk belanja pegawai tahun anggaran 2012 cukup besar. Di antara total belanja pegawai Rp 1.439 triliun, sebesar Rp 215,7 triliun digunakan untuk belanja pegawai atau mencapai sekitar 22,3 persen. ”Boleh-boleh saja menaikkan gaji, tapi basisnya produktivitas, tidak boleh hanya asal memberi seperti memberikan santunan,” ujar Harry. (jpnn/sil)

sumber : FAJARonline
Continue reading →

Namanya Nasib Utomo

0 komentar
“Kalian alpa hari ini…!” terdengar suara lantang dari lantai 2. Beberapa anak terdiam, seorang guru tengah terlihat menudingkan tangannya ke arah dalam kelas. Anak-anak yang jumlahnya 4 orang itu segera masuk. Tak berapa lama kemudian, terlihat mereka sudah mengenakan tas dan sepatu, 2 orang lagi membawa helem dan jaket. Mereka pulang.

Pak Ali pun berpapasan dengan 4 siswa tadi saat melewati tangga. Mereka adalah anak-anak di bawah perwaliannya sendiri. Mereka hanya bisa cengar-cengir. Anak-anak itu rupanya di saat pelajaran matematika mereka bolos ke kantin. Begitu selesai mereka nyantai di anak tangga. Pak Ali begitu mengetahui bahwa anak-anak itu tidak ikut pelajaran, langsung menuju kelas dan menganjurkan guru yang ada di kelas untuk mencoret daftar hadir mereka. Pak Ali akan bertanggung jawab jika ada yang tidak terima.

Adalah Pak Nasib, seorang guru ‘sepuh’ yang mengajar matematika. Pak Ali masih ingat saat masih duduk di bangku SMP. Ada film serial yang menampilkan tokoh Detektif Jepang tua yang bernama Ohara. Begitulah kira-kira Pak Nasib. Tubuhnya yang tidak sebegitu tinggi, dengan kondisi yang sudah tua masih berkarya ikut mencerdaskan anak bangsa. Sikapnya sangat tegas. Tidak bisa ditawar. Nasionalismenya sangat tinggi. Wajar, dia pernah menjadi calon korps marinir di Jawa Timur. Hanya karena dia tinggal sendiri yang ada dalam keluarganya, akhirnya dia ditolak.

Perjumpaannya dengan Pak Ali hanya sebentar saja. Karena pada tahun pelajaran yang akan datang Pak Nasib sudah pensiun. Dia merasa sangat prihatin melihat kondisi siswa sekarang ini. Kemauan belajar sangat kurang, cenderung membuang-buang waktu untuk belajar. Tidak memiliki etika di hadapan guru. Tidak menghargai orang tuanya. Begitulah yang dirasakan oleh Pak Nasib.

Di dalam obrolannya tiap hari sekolah, Pak Nasib tidak pernah terdengar membicarakan prihal sertifikasi. Meskipun guru-guru senior lainnya asyik membicarakan itu. Mereka berbicara tentang rekening, jumlah uang yang mereka akan terima dan segala sesuatunya yang berbau deskriminasi. Pak Nasib tidak. Hal ini mengundang pertanyaan dalam diri Pak Ali.

“Pak Nasib sertifikasinya di sekolah mana Pak…?” tanya Pak Ali kepada Pak Nasib pada satu kesempatan.

“Saya tidak perlu sertifikasi, biar Gusti Allah yang menyertifikasi saya…,” jawab Pak Nasib lantang. Dia memiliki dasar yang sangat kuat. Nasionalismenya ikut berperan dalam mewarnai kehidupannya, hingga kesehariannya sebagai guru. Dia bisa dibilang ‘guru stok lama’. Guru yang lahir dan besar pada awal-awal Oemar Bakrie memilih profesi sebagai guru.

Dia, Pak Nasib, beranggapan bahwa sertifikasi hanya bagi-bagi uang negara yang tidak ada timbal baliknya dari para guru kepada negeri ini. Mereka, para guru, cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana sertifikasi. Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap mutu pendidikan. Bahkan yang terlihat sekarang ini justru kebalikannya, penurunan mutu. Bagaimana tanggung jawab dia di hadapan Gusti Allah kelak?

Pendidikan sekarang bukan pendidikan seperti yang dulu lagi. Dulu, negeri-negeri tetangga belajar kepada negeri ini. Mereka belajar tentang hal-hal yang benar yang kelak di negeri asalnya akan diterapkan. Anggapan mereka benar, ilmu yang dipelajari diambil yang baik-baik saja. Sementara yang buruk tidak dibawa ke negara mereka. Mereka belajar tantang bagaimana mencerdaskan bangsanya kelak. Mereka tidak belajar sifat rakus bangsa ini. Rakus kepada apa saja, melebihi rakusnya binatang carnivora.

Saking rakusnya bangsa ini, aspal saja dimakan. Bangku sekolah dimakan. Semen, pasir, kayu, seragam, alat praktik, kendaraan, bensin, kertas, spidol, penghapus, papan tulis dan segala sesuatu yang dijumpainya bisa masuk ke dalam perutnya. Bahkan perut keluarganya. Inilah yang tidak dipelajari oleh peserta didik dari negeri tetangga saat belajar kepada kita.

Semua pejabat kebal hukum. Keadilan hanya sebuah sandiwara di depan persidangan. Sidang-sidang kejahatan, terutama tipikor, hanya sebuah tontonan untuk mengelabuhi para pemirsa keadilan negeri ini. Jelas, sutradaranya sangat pintar dan licin. Penegak hukum seperti pasukan macan ompong. Jangankan menangkap rusa untuk merobek kulit dan dagingnya, menerkam celeng tertembak yang sudah siap saji saja nggak berani.

Sejenak Pak Ali mengiyakan. Pak Ali jadi teringat akan kucing yang tinggal di rumahnya. Diamatinya kucing yang dulunya, menurut cerita, sangat doyan dengan tikus. Tikus berseliweran saja tidak sanggup dia mengusirnya karena badan tikus sudah bermutasi menjadi ‘tikus got gendut’. Jangankan mengusirnya, justru tikusnya meledek kucing tersebut. Tikus got gendut adalah bukan sembarang tikus, tidak hanya got yang menjadi tempat bermainnya. Kantor, sekolah, gedung MPR, markas-markas penegak hukum, kantor-kantor agama dan dimana saja. Seperti Tom & Jerry saja.
Beginilah bangsa ini. Sama…! Hanya beda di penampilan saja. Satu penegak hukum yang satunya kucing, satu koruptor yang satunya tikus got. Tikus got cerdas tentunya.
Nasib memang, tidak hanya Nasib saja namanya. Guru kawakan ini bernama lengkap Nasib Utomo. Dia mengalami nasib yang hampir sama dengan Bu Carolina. Pak Nasib digeser oleh birokrasinya sendiri lantaran tidak terlalu memperdulikan upeti. Dia hanya memiliki prestasi. Dan itu dianggap tidak cukup untuk menduduki kepala sekolah di sekolah bergengsi. Sekolah yang bisa dijadikan keledai untuk diambil tenaga sukarelanya. Sekolah yang bisa dijadikan sapi perahan bagi birokrasi pendidikan.

Kegigihannya dalam mempertahankan idealisme seorang patriot dan seorang guru berjiwa nasionalisme sangat sesuai dengan namanya, NASIB UTOMO. Dia adalah guru bagi Pak Ali, seorang yang membuka cakrawala ‘kebenaran’ akan dunia pendidikan sekarang ini. Guru sejati yang tidak hanya menginginkan siswanya memiliki nilai matematika yang tinggi, tapi juga budi pekertinya. Buat apa nilai matematika tinggi kalau tidak berbudi pekerti. Kenang Pak Ali.

Kini Pak Nasib sudah pensiun, jarang perjumpaan seperti ini terjadi. Dimana lagi seorang guru seperti Pak Ali menemukan gurunya seperti Pak Nasib…?

Allah memanggilnya, Jum’at (10/02/2012). Adakah Pak Nasib yang lain…? ⊛
Continue reading →
Kamis, 19 Januari 2012

Gawat Nih, Dilempar Buku oleh Guru, Murid Harus Operasi Hidung

0 komentar
p4k -- , BANYUMAS - Indri Septiana (14), siswi kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif 2 Desa Sirau Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas, harus menjalani operasi di RSUD Banyumas. Operasi itu untuk membetulkan posisi tulang hidungnya yang patah.

''Tulang hidung anak saya patah akibat ulah gurunya. Dia dilempar buku oleh guru Bimbingan Psikologi (BP) di tempatnya sekolah,'' kata Indri Septiana, saat ditemui di RSUD Banyumas, Kamis (19/1).

Saat ini, Indri masih menjalani perawatan di RS dan hidungnya pun masih dibalut. Menurut dokter yang merawatnya, untuk membetulkan tulang hidungnya yang bengkok, maka harus dioperasi. Kalau tidak, maka kondisi itu menjadi permanen. Di Rumah Sakit tersebut, Indri didampingi ibunya, Sutihat (34).

Peristiwa pelemparan buku itu terjadi Sabtu (14/01), sesuai jam pelajaran sekolah. ''Sebelum sekolah usai, saya diminta menghadap guru BP setelah jam sekolah selesai,'' jelasnya.

Karena itulah, setelah teman-temannya pulang, dia menemui guru BP-nya Imam Gozali di ruang guru BP sekolah tersebut. Namun baru saja dia masuk ke ruangan itu, tiba-tiba sebuah buku tebal terlempar ke bagian wajah, dan tepat mengenai hidungnya.

''Rasanya sakit sekali. Setelah itu, dari lubang hidung terus menerus keluar darah,'' kata Indri.

Setelah kejadian itu, gurunya yang mungkin merasa menyesal mengantarnya pulang ke rumah kos Indri. Kebetulan, rumah yang dijadikan tempat kos Indri adalah rumah mertua guru BP Imam Gozali.

Ditanya mengapa guru BP tersebut sampai marah seperti itu, Indri mengaku, karena tindakannya yang terlalu sering pulang ke rumah orang tuanya. Padahal dia sudah kos di rumah mertua guru BP bersangkutan.

''Saya memang tidak betah kos. Karena itu, seringkali kalau sudah selesai sekolah, langsung pulang ke rumah orang tua,'' jelas Indri.

Indri mengakui, soal tindakannya yang jarang pulang ke rumah kos ini, sudah sering diingatkan guru BP-nya. Tapi dia sering tidak memenuhi keinginan gurunya, dengan memilih pulang ke rumah orang tuanya. ''Tapi mau bagaimana lagi, wong saya tidak betah,'' katanya.

sumber : republika.co.id
Continue reading →
Selasa, 17 Januari 2012

Status Kepegawaian Guru Honor Masih Bermasalah

0 komentar
p4k -- Status kepegawaian guru-guru honor di sekolah negeri dan swasta masih bermasalah. Para guru honor yang mengabdi belasan tahun atau bahkan lebih itu terus berjuang untuk menjadi guru calon pegawai negeri sipil maupun guru tetap yayasan di sekolah swasta.

Ribuan guru bantu yang dibiayai APBN berunjuk rasa di Istana Negara. Jakarta, Senin (16/1/2012). Mereka mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera menandatangani peraturan pemerintah soal pengangkatan tenaga honorer di instansi pemerintah menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), termasuk guru.

Sanjaya, guru bantu di SDN Lebak, Banten, mengatakan, para guru bantu diangkat tahun 2003-2004 dengan gaji dari APBN. Para guru tiap tahun harus menandatangi perjanjian kerjasama dengan kepala dinas pendidikan setempat.

Seharusnya, tahun 2011 guru bantu yang tersisa sudah diangkat jadi CPNS bersama tenaga honorer lainnya. Tetapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. "Sampai sekarang belum ada penandatangan perjanjian kerja dengan kepala dinas dan gaji yang mestinya diterima tiap tanggal 5 belum ada," ujar Sanjaya.

Ketua Forum Komunikasi Guru Bantu Indonesia Ayub Joko Pramono mengatakan, sesuai janji pemerintah, sekitar 261.000 guru bantu yang memegang surat pengangkatan dari Menteri Pendidikan bakal diangkat menjadi guru PNS. Secara bertahap, pengangkatan dilakukan tahun 2005-2007. Namun, saat ini terhenti.

Padahal, ada sekitar 10.000 guru bantu yang sudah terdata dan disetujui untuk diangkat menjadi guru PNS. Para guru yang tersisa ini telah berusia 45 tahun ke atas.

Ani Agustina, Ketua Umum Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI), mengatakan, berdasarkan pendataan, guru dan pegawai honorer yang penggajiannya non-APBN serta non-APBD jumlahnya sekitar 600.000 orang. Selain itu, ada sekitar 47.000 guru dan pegawai yang tercecer pengangkatannya sehingga masih mendapat honor dari daerah.

Guru honorer kebanyakan guru yang diangkat untuk mengatasi kekurangan guru di sejumlah sekolah. Guru-guru tersebut sebagian mendapat honor dari anggaran sekolah.

Guru honorer ini tersebar di semua jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga SMP dan SMA/ SMK. Sementara itu, guru-guru di sekolah swasta berjuang untuk menjadi guru tetap yayasan. Namun, banyak sekolah swasta yang juga lebih suka memiliki guru honor karena tidak mampu menggaji.

"Untuk sekolah swasta kecil, tidak mampu mengangkat guru tetap. Lebih banyak guru honor. Apalagi bantuan pemerintah untuk memberi guru PNS di sekolah swasta juga tidak ada lagi," kata Kepala SMK Nasional Jakarta.

Persoalan status kepegawaian guru ini berdampak juga pada kebijakan sertifikasi guru. Pemerintah mensyaratkan guru yang ikut haruslah guru PNS atau guru tetap yayasan.

Ramlis, Kepala SMK kelas jauh Legonkulon, Kabupaten Subang, mengatakan, guru-guru honor di sekolah negeri saat ini resah. Para guru yang dibutuhkan sekolah diangkat hanya dengan surat keputusan kepala sekolah. Guru-guru yang sudah mengabdi lima tahun lebih tetap tidak bisa dapat hak untuk ikut sertifikasi.

"Guru honor di sekolah negeri sulit untuk dapat SK Bupati/Walikota untuk pengangkatan. Banyak guru honor di sekolah negeri yang resah tidak bisa mengikuti sertifikasi," kata Ramlis.

Padahal, SMK kelas jauh dibuka untuk melayani anak-anak SMP yang umumnya putus sekoalh karena tidak ada sekolah menengah di wilayah ini. Di sekolah ini ada 23 orang guru honor yang sudah berpendidikan S1.

sumber : kompas.com
Continue reading →
Jumat, 13 Januari 2012

Sertifikasi Guru; Kian Hari Kian Dipersulit...

0 komentar
p4k -- Bandarlampung. Hari ini Jumat (13/01/2012), istriku mengurus sertifikasi dengan mengumpulkan berkas yang kurang, yaitu KIR dari Puskes. Menurut informasi yang saya terima, sertifikasi tahun ini (2012) ada perubahan. Perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, seperti:

Akan diadakan seleksi untuk PLPG, alias tes dulu (begitu kira-kira). Di Bandarlampung rencana tes akan dilaksanakan pada tanggal 28/01/2012. Untuk lokasi belum ada informasi jelas.

Bagi guru yang belum lolos untuk mengikuti PLPG, mereka harus ikut Pendidikan Profesi Guru - PPG. Nah, jika kita mau cermati, disini ada semacam 'proyek' untuk menyedot uang para guru. Perkiraan 15 juta rupiah dalam 1 tahun tiap guru. Pertanyaan saya:

1. Bagaimana mungkin bagi guru honor yang gajinya kecil?
2. Bagaimana bagi guru-guru honor di daerah terpencil?
3. Bagaimana gelar sarjana pendidikan yang diperoleh dari kampus?

Semacam ada pengkebiran bagi Universitas atau Perguruan Tinggi yang telah mencetak para sarjana pendidikan. Untuk apa mereka menjalani pendidikan selama kira-kira 5 tahun dalam rangka untuk mendapatkan gelar S.Pd.? Jika guru-guru yang sudah bergelar S.Pd. harus mengikuti PPG, mendingan cukup mengambil Akta IV saja saat kuliah.

Aturan-aturan yang diberlakukan tidak mencerminkan komitmen awal pemerintah dalam rangka mensejahterakan para guru...? Jika memang tujuannya ingin terciptanya kesejahteraan guru-guru dengan harapan meningkatnya mutu pendidikan nasional, mungkin lebih baik sertifikasi guru dipermudah lagi.

"Berikan saja dana tunjangan sertifikasi kepada guru yang telah memenuhi syarat. Misalnya lama tahun mengajar & jumlah jam mengajar dalam sepekan. Kemudian lakukan pengawasan dan pembinaan...! Selesai urusan..."

Dana pemerintah tidak terbuang sia-sia dalam proses sertifikasi. Coba sama-sama kita (guru) cermati, ada atau tidak --di tempat kita mengajar-- guru-guru yang sertifikasi tetapi tidak melaksanakan kewajibannya dengan benar?

Contohnya begini. Ada seorang guru sertifikasi, kebetulan dia mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah misalnya, tapi tidak melaksanakan tugas mengajarnya yang minimal 6 jam dalam sepekan. Dia menugaskan kepada orang lain untuk menggantikannya mengajar. Honor yang diberikan oleh kepala sekolah tadi tidak jelas, apakah dari sekolah atau dari diri pribadinya diambil dari tunjangan sertifikasinya. Kepala sekolah ini menerima dana sertifikasi terus-terusan. Saya lebih suka menyebut guru penggantinya dengan julukan 'guru bayaran'.

Hal seperti ini jelas pelanggaran Permendiknas No. 39 Th. 2009, Pasal 1 Ayat 2, tentang beban mengajar. Padahal saya yakin, pengawas tahu masalah ini. Tapi dia diam, mereka bersekongkol. Persekongkolan antara pengawas dengan kepala sekolah yang bersangkutan dalam rangka mengkorup uang pemerintah.

Apakah hal-hal seperti telah dilakukan oleh dinas-dinas pendidikan dari pusat hingga daerah...?

Beberapa hari ini bayak guru yang merasa dipersulit untuk sekedar mendapatkan hak-haknya...? Ada yang tidak rela melihat kehidupan guru yang sejahtera...!
Continue reading →
Jumat, 23 Desember 2011

Oemar Bakrie Ikut Sunatan Masal

1 komentar
Oleh: Nur Afif E.N., S.Pd.T.


Nasib guru Oemar Bakri sepertinya tidak ada habis-habisnya. Sejak dahulu kala hingga sekarang, sejak jaman sepeda simlek hingga motor fit-x. Jika dikatakan makmur memang sebagian sudah dalam taraf makmur. Terutama dari kalangan guru yang sudah berstatus PNS maupun guru-guru yang parkir di sekolahan-sekolahan yang mengandalkan atau berbasis mutu pendidikan. Begitu juga guru yang memiliki ’sampingan’ di luar jam sekolah. Mereka mampu hidup berkecukupan.
Sementara untuk guru yang berstatus honor di beberapa sekolah luar negeri (baca swasta) lain lagi ceritanya. Beberapa sekolah itu ada yang hanya sanggup beroperasi dengan beberapa kelas dan ditunjang beberapa guru honor. Ada sekolahan gratis yang hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan dana tunjangan fungsional (insentif guru) untuk biaya operasional. Dana-dana itu digunakan untuk keperluan pengadaan buku pelajaran sampai gaji guru honor.
Seorang kepala sekolah SLTP luar negeri hanya mendapatkan gaji tidak lebih dari 500.000 rupiah dan itu diterima tiap tiga bulan sekali. Untuk tunjangan fungsional dapat diterima kira-kira dalam waktu enam bulan sekali, besarnya rata-rata tidak lebih dari 100.000 rupiah tiap bulannya. Kondisi ini terjadi di Kota Bandar Lampung.
Rupanya kesedihan Oemar Bakri tidak selesai di situ. Para bapak dan ibu Oemar Bakri hampir seluruhnya mendapat kesempatan untuk ikut sunatan masal. Tak tanggung-tanggung, dana yang nantinya akan digunakan untuk uang gaji yang besarnya tak seberapa dan sangat ditunggu-tunggu masih dipungut upeti saat pengambilan. Sementara pos-pos aliran dana sudah dirancang dan sebagian besar untuk menutup pinjaman di masa-masa menanti upah dari pemerintah atas jerih payah mencerdaskan anak bangsa.
Beberapa hari terakhir ini merupakan hari-hari yang cukup menyenangkan bagi para Oemar Bakri. Pasalnya, ada penerimaan dana tunjangan fungsional guru. Para Oemar Bakri laksana para petani yang sedang menuai hasil panen. Kegembiraan juga dirasakan di pos-pos tempat pengambilan dana. Pasalnya, beberapa dari mereka akan menjadi pemungut upeti dari jerih payah para Oemar Bakri. Ada penghasilan tambahan tentunya.
Para pemungut upeti tanpa rasa malu dan prihatin seperti tikus yang sudah kenyang tapi masih menggerogoti jatah makan para semut. Alhasil dana yang diterima menyusut. Gaji (upah) yang diterima para Oemar Bakri ikut menyusut. Rela atau tidak akhirnya disisihkanlah sebagian dana tersebut sebagai upeti.
Jika ditanya alasan mereka mengambil sebagian dari dana para Oemar Bakri, mereka menjawab, ”Itu kan suka rela, nggak ngasih juga nggak apa-apa”. Ada juga yang beralasan sebagai uang transport. Bagaimana jika tidak ada angpau untuk mereka, yang terjadi selanjutnya adalah dipersulit saat pencairan dana, bisa jadi. Ini semacam bentuk ancaman, padahal dana itu diberikan oleh pemerintah, bukan kantor-kantor tempat pencairan dana.
Artinya, jika tidak ada upeti maka nomor antri jadi lebih besar, jam tunggu tambah molor, sementara aktivitas lain sedang menunggu. Apa sebenarnya alasan para pencatut di kantor pengambilan dana para Oemar Bakri. Apakah mereka tidak digaji, atau memang sengaja dijadikan sampingan dalam pekerjaan mereka, atau memang begini cara mereka mencari kesenangan dan kekayaan dunia?
Mungkin bukan hanya penulis yang merasakan kegetiran para Oemar Bakri, tapi banyak kalangan yang mengerti dan faham situasi seperti ini, namun seolah-olah mereka buta dan tuli. Biar saja, asalkan lahan saya nggak diganggu. Kata mereka. Pemerintah daerah sendiri bagaimana?
Ibarat makanan, dana yang diterima oleh para Oemar Bakri seolah-olah mengalami absorbsi di sana-sini. Diserap sarinya saat berjalan menuju tujuan. Akhirnya ampaslah yang diterima, tak ada kelebihan untuk sekedar bersenang-senang dengan anggota keluarga. Tak ada makanan lezat dan tamasya. Makanan lezat hanya saat kondangan. Tamasya hanya saat study tour, itu pun jika para siswanya berkeinginan mengadakan hajatan di masa akhir pendidikan. Namun, yang ada hanya setumpukan bon utang yang siap untuk dilunasi. Bagaimana guru Oemar Bakri dapat mengganti tas hitam kulit buayanya.
Bayangkan saja, berapa jumlah guru yang mendapatkan tunjangan. Mereka menjadi sasaran empuk oknum-oknum yang sangat rakus, yang dengan teganya mengambil hak saudaranya sendiri. Bahkan mungkin saja orang tuanya sendiri. Apakah mereka tidak merasa berhutang budi kepada para Oemar Bakri yang telah mendidik dan mencerdaskan mereka?
Lewat para Oemar Bakri inilah kemudian banyak tercipta para menteri, banyak membikin otak orang seperti otak Habibie. Profesor, doktor dan insinyur pun jadi.
Pemerintah sejatinya mengetahui kondisi seperti saat ini. Kondisi yang dialami oleh para Oemar Bakri. Kondisi yang menimpa dunia pendidikan. Kondisi yang menindas hak anak bangsa. Kondisi yang dapat mewarnai hitam putihnya mutu pendidikan. Atau pemerintah sudah dibutatulikan oleh laporan oknum-oknum dinas terkait yang memberikan paparan bahwa kondisi pendidikan masih aman dan terkendali. Dinas terkait sudahkah optimal dalam mengurus para Oemar Bakri?
Semua itu baru yang terlihat ketika pengambilan dana, bagaimana perjalanan menuju pos yang terakhir ini. Bisa jadi beberapa persen menguap sebelum akhirnya sampai ke tangan para Oemar Bakri.
Pemerintah yang tahu terima kasih adalah pemerintah yang dapat menghargai jasa para pahlawannya. Tidak hanya mereka yang menyandang senjata yang bergelar pahlawan. Para atlet yang juara juga pahlawan. Apalagi para veteran. Bukankah guru juga seorang pahlawan, katanya mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Dahulu negara tetangga (baca Malaysia) rajin belajar di negeri kita, mereka kembali pulang dan mengaplikasikan yang dipelajari secara jujur dan benar. Hasilnya dapat sama-sama kita ketahui, kondisi masyarakatnya lebih maju –pengalaman dari teman yang pernah berkunjung ke sana-. Dari sektor non pendidikan juga banyak yang mengalami percepatan ke arah positif.
Sebaik dan sebagus apapun bahan yang akan diolah namun jika diolah dalam sistem yang bobrok akan menghasilkan hasil yang bobrok pula. Begitulah hukum alam yang senantiasa berlaku. Buktinya adalah dengan banyaknya kasus korupsi di negeri ini. Wajah Indonesia tertunduk malu, sudah seperti pakaian kumal yang sudah minta disetrika. Kusut seperti dompet kosong yang selalu masuk kantong. Apakah mereka tidak pandai dan cerdas? Apakah mereka tidak tahu hukum? Apakah mereka tidak memiliki hati nurani?
Mereka adalah orang-orang ’super’ yang bertitel. Gelar diperoleh dari bangku pendidikan tak hanya dalam negeri, bahkan tak sedikit yang sekolah ke luar negeri. Tak pernah para guru mengajarkan untuk korupsi, tak pernah ada petuah semacam itu. Meski seorang guru ’abal-abal’ mereka akan tetap mengajarkan hal yang baik-baik, yang jelas agar aibnya juga aman.
Pada kenyataanya (di Indonesia) para murid yang ’sudah jadi orang’ tega-teganya membalas air susu dengan air tuba kepada gurunya. Orang yang dengan suka rela membuka fikiran dari bodoh menjadi pintar, dari awam menjadi faham, dari dungu menjadi tahu, pokoknya dari kondisi serba jelek menjadi kondisi serba baik.
Seiring dengan perkembangan teknologi khususnya di dunia perbankkan, mungkin sekali penggunaan tabungan yang disertai dengan kartu ATM menjadi salah satu solusi. Dana guru sebaiknya ditransfer ke rekening masing-masing sekolah atau langsung ke rekening para Oemar Bakri. Kalaupun ada potongan cukup ongkos transfer dan pajak. Jadi tidak lagi lewat kantor-kantor yang menyediakan para pencatut.
Kebijakan ini tidak harus diarahkan pada perbankkan tertentu, karena akan melahirkan monopoli. Berikan kebebasan untuk menggunakan jasa perbankkan yang menurut mereka layak dan dapat dipercaya. Pemerintah khususnya departeman yang mengurusi pendidikan, cukup memberikan surat keterangan untuk pembukaan rekening baru dengan angka nominal yang tidak memberatkan bagi para Oemar Bakri.
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati, itulah teriakan dari Iwan Fals. Tapi mengapa sampai saat ini gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri? Atau memang selalu dikebiri?
sumber :
Harian Lampung Post, 30 Agustus 2008
Continue reading →
Kamis, 22 Desember 2011

SIYAT CASIWAN; Pengusaha Foto yang Sempat Jadi TKI di Korea

0 komentar
Pernak-pernik kehidupan orang yang sukses memang membetikkan decak kagum pada kita. Begitu pula yang dialami oleh Siyat Casiwan dari Indramayu. Kegigihannya dalam bercita-cita tidak sia-sia, meski harus menunda kuliah dan belajar mandiri di negeri orang. Berikut penuturannya:

Berkarir di pegawai negeri sipil (PNS) bagi Siyat Casiwan (32 tahun), jauh dari impiannya semasa remaja. Kuliah pun sempat dihentikannya selama tiga tahun, dan mengadu nasib sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea.

Casiwan, begitu sapaan akrab Siyat Casiwan, menuturkan, begitu dirinya lulus dari SMA Bangun Indramayu langsung kuliah pada Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Swadaya Gunung Jati, Indramayu. Namun kuliah hanya dijalani tiga tahun, kemudian melakoni TKI di Korea selama dua tahun (2008 – 2009) di Pabrik Injection – perusahaan plastik di Korea.

“Saya rela menunda kuliah, karena pengin belajar mandiri dengan mengadu nasib sebagai TKI di Korea selama dua tahun,” kata Siyat Casiwan yang ditemui di sela-sela forum Ramah Tamah Anggota Jaringan TKI Purna Korea di Hotel Topas Galeria, Bandung, Rabu (5/10/2011).

Dari tabungan hasil kerja selama dua tahun di Korea, Casiwan kemudian mulai membuka usaha Studio Foto di kampungnya, Desa Jambe Blok Taluk Rt 03/01, Kecamatan Kertasmaya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sedang sebagian tabungannya dipakai untuk biaya meneruskan kuliahnya. Untuk usaha Studio Foto, Casiwan memodali kurang lebih Rp.75 jutaan.

Dari usaha Studio Foto ini, Casiwan tidak segan-segan menawarkan jasa juru potret kepada sesama rekan mahasiswa di kampusnya. “Dimana kita berpijak, disitu periok diletakkan. Yang penting menghasilkan dan halal,” kata Ciswan melontarkan semboyannya. “Lumayanlah dari usaha studio foto ini kuliah S-1 Bahasa Inggris bisa sampai lulus,” tambahnya.

Dengan modal ijazah S-1 Bahasa Inggris itu, Casiwan mulai berpikir prospektif masa tuanya. “Ya, saya mulai berpikir realistis. Di masa tua nanti, saya pengin menikmati pensiun juga sekaligus tetap menekuni usaha di rumah. Karenanya, selagi ada peluang usaha atau kerja yang bisa dijalani, disitulah saya mencoba untuk mengadu kemampuan,” kata Casiwan.

Pada akhir tahun 2009 di Kabupaten Indramayu ada peluang pendaftaran PNS Guru SMA. “Saya ikut mengadu nasib mendaftarkan diri sebagai PNS Guru SMA itu. Ternyata berhasil, saya diterima sebagai Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Sliek, Jatibarang, Indramayu,” ucap Casiwan dengan penuh syukur.

Meski sudah menjadi Guru di SMAN 1 Sliek, Siyat Casiwan mengaku, masih tetap menekuni usaha yang sudah dijalani. Bahkan, sesekali dirinya juga melayani pesanan barang-barang meubeler dari tetangganya.
Dari usaha Studio Foto saja, Casiwan menuturkan, kalau dalam sebulan dirinya bisa mendapatkan pemasukan kurang lebih Rp. 3 juta. Sedangkan untuk usaha barang-barang meubeler hasilnya tidak bisa ditentukan, karena hanya berdasarkan pemesanan saja. “Soal untung, jelas untung. Hanya saja tidak bisa dipastikan nominalnya, karena usaha meubeler bukan menjadi pekerjaan sehari-hari yang dijalaninya,” aku Casiwan.

Sedangkan penghasilan yang pasti, kata Casiwan adalah, dari usaha Studio Foto dan Guru SMA. Menjadi PNS/guru, bagi Siyat Casiwan, merupakan pekerjaan yang tidak pernah diimpikannya. Namun baginya lebih merupakan rizqi ‘nomplok’ yang diterima dengan tidak sangka-sangka. “Begitu ikut tes, langsung diterima,” kata Casiwan.
sumber :
Continue reading →

RASTIKA; Sukses Bisnis Miniatur

1 komentar
“Awalnya sedikit keberuntungan, selebihnya adalah Perjuangan, kemauan dan Kerja Keras..!’” tutur Rastika. Dia seorang guru honor SD yang sukses dalam berwirausaha. Berikut ini adalah kisah suksesnya:

Jalan hidup orang memang tak ada yang tahu. Begitu pun Rastika. Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ini malah terjun ke dunia bisnis miniatur gitar, bidang usaha yang bertolak belakang dari cita-cita awalnya menjadi seorang pendidik.

Lelaki kelahiran 1 Mei 1970 ini merintis usahanya pada 1998, tepat pada saat krisis moneter menerpa. Bukan perkara mudah memulai usaha saat badai krisis, sudah begitu tanpa modal sepeser pun di tangan. Pada situasi ini keberuntungan menghampiri Rastika. Seorang pembeli asal Inggris memesan miniatur gitar miliknya sebanyak 100 buah. Pembeli itu langsung membayar tunai di depan. “Saya terima Rp. 900.000,-. Uang itulah yang saya jadikan modal,” kenang Rastika. Kebaikan hati sang pembeli yang oleh Rastika kerap disapa Mr. Morgan itulah rupanya yang membuka jalan usahanya. Dari uang Rp. 900.000,- perjalanan bisnis Rastika dimulai.

Diiringi kerja keras dan keuletan, usaha Rastika dengan bendera Base Aur Craft kini mencapai kejayaannya. Setelah 12 tahun berjalan, Base Aur Craft yang bermarkas di Indramayu, Jawa Barat mampu meraup omzet hingga Rp. 125 juta per bulan. Produksinya pun meningkat tajam. Dari awalnya yang hanya ratusan, Base Aur Craft saat ini telah mampu memproduksi hingga 2.500 buah miniatur gitar per bulan. Selain omzet dan jumlah produksi yang kian meningkat, usaha ayah dua anak tersebut juga makin berkembang. Base Aur Craft juga memproduksi miniatur alat musik lainnya misalnya drum. ”Doa dari keluarga dan semangat saya untuk dapat mandiri membuat usaha saya berkembang baik sekarang,” kanangnya.

Ya, bisa dikatakan penghasilan saya telah mampu melewati penghasilan seorang guru yang menjadi cita-cita saya,” tutur Rastika. Tapi, jangan dikira apa yang diraih pria 40 tahun tersebut dilalui dengan mudah. Semuanya melewati liku-liku kehidupan dengan iringan perjuangan, pengorbanan, tekad bulat,dan kuat menghadapi cobaan.”Semua kegetiran hidup sudah saya alami sebelum sukses seperti sekarang,” aku Rastika. Awalnya pada 1994, Rastika hanyalah seorang buruh di sebuah usaha rumahan yang memproduksi miniatur alat musik gitar. Adalah salah seorang saudara Rastika yang mengajaknya bekerja di usaha miniatur gitar di daerah Bandung.

”Sebelumnya saya bekerja sebagai guru honorer. Tapi karena gaji gak cukup, hanya dibayar Rp. 15.000,- per bulan, akhirnya saya memutuskan pindah kerja,” tutur Rastika. Perpindahan tersebut sebenarnya berat. Rastika harus meninggalkan keluarganya di Indramayu menuju Bandung. Cobaan yang dialami Rastika semakin bertambah ketika tahu bahwa dia baru menerima gaji dua bulan sekali. Per hari Rastika pun hanya mendapat upah Rp. 3.000,-. Dengan penghasilan yang pas-pasan, selama tiga bulan pertama Rastika mengaku hanya makan nasi dengan lauk ikan asin. ”Saya pun sempat sakit selama sebulan,” tuturnya.

Namun, cobaan itu tak membuatnya patah arang. Motivasi untuk membahagiakan keluarga dan mengubah nasib membuat Rastika tetap bersemangat. Dalam benaknya dia justru ingin tahu cara membuat miniatur gitar dari mulai pemilihan bahan, pengecatan, hingga penyelesaian akhir. Jerih payahnya tak sia-sia. Saat perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan karena salah manajemen, Rastika justru mendapatkan berkah. Sang pembeli yang selama ini menjadi langganan perusahaan tempatnya bekerja memintanya membuatkan 100 buah miniatur gitar. ”Mr. Morgan nama sang pembeli yang saya ceritakan tadilah yang menjadi pembuka jalan usaha saya. Karenanya saya sangat menjaga hubungan baik dengan Mr. Morgan sampai sekarang,” ungkapnya.

Melalui bantuan Mr. Morgan pula hasil kerajinan miniatur gitar Base Aur Craft tiap bulan diekspor ke Inggris dan negara-negara lain seperti Italia, Yunani, hingga menembus pasar Amerika Serikat, selain untuk memenuhi permintaan dalam negeri.

Pada Oktober 2009, Base Aur Craft mendapat pesanan 3.330 miniatur gitar dan 100 set miniatur drum grup musik The Beatles. Untuk menjaga kualitas produknya, Rastika mengaku mempelajari literatur pendukung. Usahanya pun semakin mantap seiring bantuan modal dari Bank Negara Indonesia (BNI). Rastika mengaku awalnya dia mendapat bantuan modal Rp. 225 juta dari BNI. Pada 2009 kucuran modal BNI bertambah lagi ke usahanya, Rp. 125 juta.

Hingga sekarang total bantuan BNI yang sudah disalurkan kepada Rastika mencapai Rp. 500 juta. Selain itu, dia juga mendapatkan pelatihan dan diikutsertakan dalam kegiatan studi banding ke China. ”Saya bersyukur telah mendapat bantuan kredit dari BNI. Tidak hanya dari segi permodalan, tetapi juga pelatihan-pelatihan. Itu penting bagi pengusaha kecil seperti saya,” kata Rastika. Jalan panjang mencapai kesuksesan yang dilalui Rastika membuatnya selalu mensyukuri apa yang sudah didapat. Wujud syukurnya dengan mempekerjakan anak anak putus sekolah di sekitar tempat tinggalnya. ”50 karyawan saya, 30 di antaranya karyawan tetap sebagian besar anak-anak di sekitar tempat tinggal yang putus sekolah,” ujar Rastika.

Anda juga bisa lebih SUKSES..! Perjuangan dan Kerja Keras..! Dengan kemauan bulat! jangan hanya SETENGAH HATI…
sumber :
http://sembarang.info/2010/03/guru-honorer-sd-sukses-jadi-pengusaha/
Continue reading →

PAK IS; Sukses dengan Motor Seken

0 komentar
Kisah tentang seorang guru honor SD, yang begitu gigih dalam mempertahankan hidupnya. Kisah ini ditulis oleh seorang blogger bernama Efri Yaldi. Berikut kisah Pak Is:

Sebut saja namanya Is. Waktu itu, tahun 2003, dia adalah seorang guru SD biasa, masih honor lagi. Tempat mengajarnya lumayan jauh, 30 km dari kota kecil kami. Saya sering berpapasan dengannya ketika saya masih bekerja di kawasan wisata. Yap, beliau pulang kadang jam 11 atau 12 siang. Kembali ke ‘gubugnya’ yang terletak di pertigaan di tepi kota.

Di gubugnya itu, Pak Guru Is dan istrinya berjualan kecil-kecilan. Maklum, posisi strategis. Lumayan juga yang belanja. Soalnya di seberang jalan adalah pondokan putri. Tapi, sejak pondokan itu dijual, warung Pak Is kembali sepi. Saya sering singgah, kadang hanya untuk beli rokok dan ngobrol sebentar sekitar jam 8 malam.
Suatu ketika, saya kebingungan menjual motor butut yang saya beli untuk ngojek. Motor ini sengaja dulunya dipakai untuk menambah penghasilan. Join dengan para pemuda yang nganggur. Hasilnya sih lumayan, tapi karena saya sudah mau pindah ke kota, mau tak mau motor butut ini mesti dijual. Saya coba ke tukang bengkel, tapi harga yang ditawarnya sangat murah. Akhirnya saya curhat ke Pak Guru Is.

Entah mengapa, Pak Is tiba-tiba menawarkan teras warungnya untuk memajang motor saya. “Ntar kalo ada yang beli, Mas saya ketemukan dengan calon pembelinya. Silakan bernegosiasi ya, untuk saya hanya 300 ribu saja,” demikian Pak Guru Is menawarkan jasanya. Sederhana sih. Pak Is hanya menawarkan tempat, dengan komisi yang menurut saya sangat wajar.

Kurang dari 24 jam, sepeda motor itu akhirnya terjual 6,5 juta. Tentu saja saya sangat senang. Padahal, jika saya yang menawarkan ke orang-orang, hanya ditawar 4 juta. Setelah meninggalkan bagian Pak Guru Is, saya pun bersalaman, pamit pindah ke kota yang lebih besar.

Tiga tahun berlalu. Saya rindu ke kota kecil dimana saya pernah tinggal di sana 4 tahun. Sekaligus ingin jumpa teman-teman lama, termasuk Pak Guru Is. Ketika saya singgah, warungnya sudah permanen. Mirip mini swalayan. Teras sederhana yang dulunya hanya semen biasa, telah ditambah dengan kanopi yang lebar. Dan motor-motor ’seken’ yang berjejer menggoda peminatnya untuk singgah. Ada lebih 20 motor. Wah, kegigihan Pak Guru telah menghasilkan bisnis yang dahsyat. Utamanya bagi kami, para karyawan dan pegawai kelas sendal jepit.
sumber :
Continue reading →

MUNTOHA E.S.; Berani Mencoba, Akhirnya Kaya

0 komentar
Alhamdulillah, saya lahir dari keluarga yang melarat. Bagi keluarga orang tua saya, airlah satu-satunya yang gratis, lainnya harus dibeli. Hebatnya, walaupun PNS Golongan II-b, dengan 7 anak, dan tanpa usaha apapun, ayah saya mampu mencetak saya menjadi sarjana pertama ‘wong cilik’ di kampung. Saya bangga dan terus bersyukur, terlebih lagi kedua orang tua.

Namun di balik kebanggaan itu, tebersit penyesalan yang mendalam. “Mengapa saya hanya memilih SPG, IKIP, dan akhirnya hanya menjadi seorang guru? Mengapa tidak SMA lalu menjadi insinyur?” Penyesalan itu terus bertambah, terlebih setelah empat kali tidak lolos tes CPNS (1989—1992). Bagi saya itu pukulan amat berat. Karena semua orang tahu bahwa semasa bersekolah saya selalu mendapat beasiswa.

Anehnya, di balik penyesalan itu, orang tuaku tetap bangga. Setidaknya karena saya tetap bersepatu, meskipun hanya  sebagai guru honorer di SMP-SMA yang ‘la yamutu wa la yahya’ dengan gaji yang pas-pasan untuk membeli bensin buat vespa super butut. Kebanggan orang tua itu menghambat keinginan saya untuk mengadu nasib di negeri seberang.

Akan tetapi, setelah saya melakukan ‘aksi menangis’ selama seminggu, saya pun diperbolehkan merantau. Dengan honorarium dari harian Surya, majalah Mimbar Pembangunan Agama, dan Radio Suara Jerman Deutsche Welle, pada tanggal 10 November 1992 saya berhasil hengkang ke Kaltim.

Betul! Di rantauan itu mata saya makin terbuka, pekerjaan banyak dan bisa saya pilih. Bagai kutu loncat, saya pun pindah-pindah kerja. Empat bulan menjadi Editor Program di sebuah Radio FM, 3 bulan menjadi wartawan, 1 tahun menjadi guru Yayasan Pendidikan Pupuk Kaltim dan dosen Universitas Trunojoyo, dan 2 tahun berikutnya menjadi guru di Yayasan Pendidikan Prima PT. KPC.

Tidak cuma sampai di situ. Sejak 1996, saya pun merantau ke Indonesia Timur dan bergabung dengan Yayasan Pendidikan Jayawijaya milik PT. Freeport di Papua. Akan tetapi, apa mau dikata? Lagi-lagi, perpindahan tempat, selama pekerjaannya tetap guru, ternyata tidak membawa perubahan berarti secara finansial. Guru tetaplah guru. Gajinya tetap segitu-segitu, tidak sebaik nasib karyawan non-guru.

Setelah menyadari kenyataan itu, akhirnya bulan Juli 1998 saya putuskan untuk coba-coba berjualan komputer di rumah. Mula-mula saya membawa beberapa unit komputer untuk memenuhi jatah bagasi pesawat saat cuti. Dengan iklan ala kadarnya, alhamdulillah, jualan saya laris manis. Selang dua tahun berikutnya, saya menyewa toko di tengah Kota Timika. Alhamdulillah pula pelanggan makin banyak dan jualan makin laris.

Melihat usaha saya hasilnya lumayan, seorang sahabat yang baik hati dan tulus (meskipun beliau tinggal di Jakarta) mempercayakan modalnya yang luar biasa besar untuk saya putar. Modal dari sahabat saya itu saya belikan 3 angkot (untuk diversifikasi usaha). Dengan membeli 3 angkot, setidaknya tiap hari ada setoran Rp. 300.000,-.

Kalau toh ada yang harus masuk bengkel salah satunya, yang dua masih bisa jalan dan tetap ada masukan. Itu artinya tungku masih tetap bisa mengepulkan asap. Nah, bisnis angkot ini saya bilang bisnis bodoh karena risikonya relatif kecil (trayeknya cuma dalam kota dan kecepatan 40 km).

Meskipun sudah menjadi guru dan ‘pengusaha’, pikiran saya masih tertarik untuk melakukan diversifikasi usaha lagi, terutama supaya tidak shock menghadapi masa pensiun. Oleh karena itu pula, saya mengajak rekan-rekan guru di manapun mengabdi, ayolah cari income di luar gaji!

Pilihlah bisnis yang risikonya relatif kecil atau bisnis bodoh sebagai langkah awal! Jangan menggantungkan diri pada gaji saja! Apalagi menggantungkan hari tua hanya pada uang pensiun! Jangan! Biarpun rezeki sudah diatur oleh yang diatas (Allah SWT), kita harus tetap melebarkan usaha.


sumber :
Continue reading →

M. FAUZI; Sukses Merintis Lembaga Pendidikan

0 komentar
“Orang yang gagal dan tidak mau berusaha akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan.”
Muhammad Fauzi, demikian nama ayah dari dua orang anak yang beristrikan Siti Maryamah. Dulu dia hanyalah seorang guru dengan usaha kecil-kecilan yang dilakukan demi menopang kehidupan keluarganya. Namun sekarang, Fauzi telah memiliki sebuah Lembaga Pendidikan dalam naungan yayasan besar yang membina lebih dari 250 peserta didik berlokasi di dekat tempat tinggalnya di Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara.

Perubahan yang terjadi pada Fauzi bukannya tanpa alasan, namun lebih disebabkan karena melihat banyak orang yang gagal dan tidak mau berusaha. Hal itulah yang memacu motivasinya untuk bertekad dan berkeinginan tinggi untuk maju.

Kegagalan bagi Fauzi adalah istirahat sejenak untuk meraih kesuksesan kelak, sehingga tidak ada kata menyerah menghadapi rintangan dalam kamus hidupnya.

Dalam usaha meraih kesuksesan ia menggambarkan beberapa tips agar motivasi itu semakin kuat, diantaranya :

Kita harus mempunyai impian, yaitu apa yang ia cita-citakan harus dipikirkan, diimajinasikan, dibayangkan terlebih dahulu.

Tidak boleh mempunyai friksi atau pikiran yang negatif atau pesimis, seperti halnya orang itu ingin bercita-cita ingin menjadi dokter tetapi ia sudah pesimis dahulu ia berfikir bahwa apakah orang tuanya itu sanggup untuk membiayai ia untuk mejadi dokter sedangkan orang tuanya itu hanya seorang tukang becak. Fikiran tersebut harus di buang jauh-jauh karena akan menghambat kesuksesan kita.

Harus fokus terhadap apa yang ia cita-citakan, artinya saat awal jalan ia bercita-cita ingin menjadi dokter dan menjalaninya hanya setengah jalan, ketika di pertengahan jalan ia berubah fikiran dan ingin menjadi pilot, hal tersebut tidak dibenarkan karena akan menghancurkan tujuan awalnya itu.

Harus yakin, yaitu jangan berfikiran yang negatif dan berpegang teguh pada pendirian terhadap cita-citanya itu, dan yakin bahwa Allah pun akan membantu perjuangan kita.

Dalam perjalanan hidup sebelumnya, banyak hal yang dilakukan oleh Fauzi, diantaranya adalah memasuki lingkungan bisnis Multi Level Marketing (MLM), mempelajari sistem bisnisnya. Selain itu Fauzipun tak segan bergaul dengan orang-orang sukses yang kaya. Di sana ia mempelajari cara berfikir dan proses tindakan yang mereka lakukan untuk mencapai kemakmuran. Tentu saja gaya hidup mereka bukan bagian yang baik untuk ditiru.

Setelah beberapa tahun bekerja dan mendapat kenaikan jabatan, dengan uang simpanan yang dia kumpulkan Fauzi membuka usaha air mineral yang kandungan mineralnya setara dengan air zam-zam. Selanjutnya dengan izin Allah SWT Fauzi bertemu dengan investor yang mau bekerja sama dengannya dalam bidang usaha bio solar, sejenis bahan bakar ramah lingkungan dan hemat energi. Omset penjualan bio solar saat itu mencapai Rp. 10 juta per bulannya.

Selanjutnya dengan kemampuan ekonominya yang mulai meningkat, Fauzi mendirikan yayasan serta lembaga pendidikan tingkat Madrasah dengan bangunan yang terbilang cukup besar.

Impian Fauzi ke depan adalah membangun “Mushola plus-plus”, artinya mushola tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk sholat saja namun di dalamnya juga terdapat perpustakaan yang berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan serta pengajaran seperti tahfidz Al-Quran dan lain-lain. Impian Fauzi lainnya adalah membangun sebuah lembaga keuangan yang berlandaskan pada syariat Islam yang bisa membantu usaha lemah yang banyak terdapat di wilayah tempat tinggalnya.


sumber :

http://jurnalis-jakut.blogspot.com/2010/04/m-fauzi-guru-yang-sukses.html
Continue reading →

IPUNG TASIFUN; Guru, Pengusaha dan Motivator

0 komentar
Ipung adalah seorang guru SMA yang jeli melihat peluang. Kemauannya yang mulia untuk ikut menyukseskan orang-orang disekitarnya membuat dia makin sukses dalam menggeluti usahanya. Tanpa harus lepas dari tugas mulianya sebagai guru, dia mampu menjadi guru teladan dalam berwirausaha. Kisah lengkapnya demikian:

Sifatnya sebagai seorang guru, tidak luntur ketika Ipung mengembangkan usaha. Ia rajin berbagi ilmu dan memotivasi orang lain untuk giat berusaha. Di dua perusahaannya, ia banyak menampung siswanya yang sudah lulus sekolah.

SUKSES itu bisa membuat orang lain tersenyum. Sukses itu bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain. Sukses itu bisa membagi serta menularkan keberhasilan pada orang lain. Jadi, sukses itu tak hanya untuk kita, tapi juga untuk orang lain.

Demikian rangkuman definisi sukses yang keluar dari bibir Ipung, seorang guru, pebisnis dan sekaligus motivator yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Kisah sukses seorang guru hingga mampu membangun dua perusahaan beromset miliaran rupiah dalam setahun.

Pada 1994, berprofesi sebagai guru SLTA membuat Ipung mampunyai banyak waktu luang untuk  mengaktualisasikan dirinya. Rute Yogyakarta-Bandung yang kerap dilalui untuk pujaan hati pun dimanfaatkannya berbisnis kecil-kecilan. Dari Yogyakarta, Ipung selalu membawa hasil kerajinan tangan semisal kain tenun dan batik. Barang griya itu kemudian dijual kembali secara kredit ke relasi Bandung.
Hasil yang lumayanpun diperoleh Ipung. Dan kemudian ia pun berinisiatif bersama rekan seprofesinya untuk berbisnis seraya mengisi waktu luang. Bisnis perdananya waktu itu adalah seragam sekolah. Namun, karena seragam sekolah  hanya ramai mejelang penerimaan murid baru, membuat naluri bisnis mereka semakin tajam ”kita kemudian menjual beragam produk, kadang jualan sepatu, penjepit rambut, apapun yang bisa kita jual kita jual,” kata Ipung.

Namun karena rekannya banyak yang menilai bisnis ini kurang dan hanya membuang waktu saja, banyak diantara mereka yang mundur. Tapi tidak bagi Ipung dan seorang rekannya, ia terus berbisnis. Semangat dan kesabaran itu mulai mendapatkan titik terang pada 1996, ketika mereka bertemu dengan seseorang yang memesan pakaian haji dalam jumlah besar.

Lantaran kurang pengalaman, proyek itu tak berjalan mulus, hajinya sudah berangkat produknya belum selesai semua. Jalan semakin cerah ketika Ipung bertemu dengan sebuah perusahaan baju muslim yang baru merintis usaha. Ternyata busana muslim yang dipasarkan dengan sistem titip jual itu laris manis. Katanya pemicu busana itu laris karena ketika ada televisi yang menanyangkan acara Ramadhan, artisnya memakai busana buatan Ipung.

Sadar keahlian berbisnisnya masih sangat minim, Ipung mengikuti pelatihan berbisnis yang diberikan oleh Departemen Koperasi. Dari sini, ia bertemu dengan PT. Sarana Jabar Ventura. Maka, pengetahuan Ipung soal bisnis pun bertambah luas. ”Kita diajarkan bagaimana cara berbisnis, diajarkan bagaimana administrasi, dan sebagainya, kitapun diajak ikut pameran,” kata Ipung.

Usai digembleng di PT. Sarana Jabar Ventura, Ipung kemudian mejadi mitra binaan PT. Sucofindo. Disini, ia kembali mendapatkan pendidikan bisnis, semisal bagaimana mengurus administrasi, cara pemasaran dan bagaimana cara menginvestasikan diri. ”Bisnis dan diri saya menjadi lebih tertata dan itulah salah satu yang terbaik diberikan PT. Sucofindo, yang tidak ternilai. Karena saya jadi mengerti bagaimana menjalankan usaha yang baik,” imbuhnya.

Selain itu, selama menjadi mitra binaan PT. Sucofindo, Ipung juga sering dibawa ke berbagai pameran, skala nasional dan internasional. Selain bisa mempromosikan dan memasarkan produknya, Ipung pun mendapat wawasan berbisnis yang lebih luas.

Dua perusahaan yang dikelola Ipung, PT. Medani Insan Cemerlang dan PT. Wira Sukma, juga pernah mendapatkan pinjaman berupa dana talangan dari PT. Sucofindo.

Ini merupakan dana yang dibutuhkan anggota binaan yang membutuhkan dana cepat dan bisa mengembalikan dengan cepat pula. Waktu pengembaliannya selama 6 bulan hingga satu tahun. ”Waktu itu PT. Wira Sukma dikasih Rp. 30 juta, yang kedua Rp. 50 juta. Sedangkan PT. Medani yang pertama Rp. 20 juta, yang kedua dana talangannya Rp. 50 juta,” kata Ipung.

Kegigihan Ipung untuk terus belajar dan menangkap peluang, berhasil membuat perusahaannya meraup omset yang cukup besar. Tahun lalu, 2007, omsetnya mencapai Rp. 6 miliar, tahun ini PT. Wira Sukma ditargetkan meraup omset Rp. 9 miliar. Sedangkan PT. Medani, tahun lalu omsetnya mencapai Rp. 4 miliar, dan tahun ini ditargetkan Rp. 6,5 miliar.

Selain berbisnis, keseriusan Ipung menggeluti dunia usaha juga didorong niat mulia. Ia pernah melakukan survey di tempatnya mengajar. Hasilnya, ternyata hanya 20-30 persen siswanya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebagian besar sekitar 70 – 80 persen kembali ke masyarakat.

Mereka inilah yang bakal membutuhkan lapangan pekerjaan, dan oleh Ipung diberikan motivasi untuk diberikan entrepreneur. ”Jadi disekolah fungsi saya ganda, mengajar dan memotivator mereka untuk menjadi entrepreneur dan menciptakan lapangan kerja,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dari total karyawan, sekitar 40 persennya adalah mantan siswanya yang setelah lulus langsung bergabung. ”Ada juga yang menjadi rekanan perusahaan kami, itulah yang membuat saya semakin senang dengan bisnis,” ucapnya.

Saat ini Ipung telah berhasil menampung tenaga kerja untuk kedua perusahaan sekitar 39 karyawan lepas. Dan kemudian juga ada vendor semisal tukang sulam yang jumlahnya mencapai ratusan. Itulah sosok Ipung, guru yang menjadi pebisnis, dan kemudian memotivator para siswanya untuk menjadi entrepreneur.
sumber :
Continue reading →

DUDUNG; Dari Es Puter Hingga Layanan Pesta

0 komentar
Berikut ini adalah kisah seorang guru SMA dari Sukabumi. Dia dengan semangat menceritakan bagaimana dia dapat menjadikan dua sisi pekerjaan secara profesional. Simaklah kisah lengkapnya:

Dunia guru  adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupanku sebagai warga masyarakat, dalam tulisan ini saya memiliki keinginan untuk berbagi cerita tentang ‘sisi lain’ kegiatan saya sebagai seorang guru di tengah pengabdian sebagai pelayan masyarakat yang bergerak dalam dunia pendidikan. Semoga kisah saya ini ada manfaatnya, terutama bagi rekan-rekan seperjuangan seluruh guru di Indonesia. Tidaklah dilarang seorang guru untuk memiliki usaha atau profesi lain disamping sebagai guru selama tugasnya sebagai pendidik tidak ‘dirugikan’.

Nilai tambah yang berharga ketika wawasan keguruan dipadu dengan wawasan lain yang memiliki kekhasan tersendiri, yakni duni wirausaha. Berwirausaha dan menjadi guru dapat saling mendukung seandainya didalami dan dikelola secara profesional apapun jenis usahanya. Sosok guru yang memiliki kemampuan entrepreuneur menurut saya memiliki nilai plus , karena pengalamannya ini dapat menginspirasi peserta didik dalam kelas seandainya mereka bertanya dan ada kaitannya dengan wirausaha.

Saya sendiri memiliki jenis usaha sederhana yang berkaitan dengan layanan jasa pesta yakni es krim puter dan es carving. Usaha ini sudah saya rintis sejak tahun 2000 dengan modal awal Rp. 10 jutaan. Syukur pada Tuhan usaha ini sampai hari ini masih berjalan dan terus berkembang, saya berpikir pesta (seperti pernikahan, khitanan dan syukuran yang lainnya) takkan pernah berakhir akan selalu ada.

Konsumen saya adalah mereka yang akan melaksanakan pesta atau hajatan, lebih beruntung lagi setiap kegiatan pesta waktunya sebagian besar adalah pada hari Sabtu dan Minggu. Hari Sabtu dan Minggu tidaklah mengganggu pekerjaan saya sebagai guru, kalau hari Minggu saya dapat langsung memantau karyawan saya bekerja dan hari Sabtu saya hanya mengarahkan saja, saya masih bisa bekerja sebagai guru.

Anak sekolah yang mau belajar bekerja –yang saya ajar di SMA N1 Kota Sukabumi dimana tempat saya mengajar– dapat belajar mencari uang sendiri melalui usaha saya ini. Selain teori dan motivasi tentang  kewirausahaan, saya dapat mengajarkan bagaimanan bekerja, melayani orang lain dan mencari uang di tempat pesta.

Nama usaha yang saya miliki adalah CENDANA WEDDING PARTY dengan alamat Villa Taman Edelweiss No. 37 C Sukabumi Tlp. (0266) 6250468. Banyak hal yang saya dapatkan, kepuasan bathin, pendapatan bertambah, punya karyawan, banyak relasi catering, punya warisan usaha untuk anak-anak saya kemudian. Tidak sedikit rekan seprofesi yang menggunakan produk saya ini, mereka merasa terbantu ketika ada acara pesta keluarga, sebagai bonus saya bersedia secara gratis menjadi  konsultan pesta bila mereka memakai produk saya.
Usaha ini memberikan semangat dan kepercayaan diri yang luar biasa  bagi saya, mengabdi pada dunia pendidikan sebagai guru, berwirausaha untuk keluarga dan membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga dekat. Bila saya pensiun nanti usaha saya ini akan setia menemani dan terus berinovasi melayani konsumen sebagai tambang rezeki.

Bagi guru-guru diseluruh Indonesia mari menjadi guru yang profesional mengabdi mencerdaskan bangsa dan ciptakan lapangan pekerjaan untuk bangsa, awali dan mulai hari ini. Pendidikan karakter dan kompetensi entrepreuneur yang akan dimasukan pada kurikulum dunia pendidikan akan menjadi mudah bagi guru yang mengabdi secara profesional plus memiliki jiwa kewirausahan.

Sebagai spirit kepada rekan seperjuangan usaha saya ini tidak mengganggu pekerjaan saya sebagai guru, saya mengajar seperti biasa, saya ketua MGMP Sejarah Kota Sukabumi, saya melanjutkan kuliah di Pasca Sarjana, saya memiliki dua piala dan piagam tingkat nasional bidang keguruan, saya dapat juara 1 Provinsi bidang seni, juara 1 Kota bidang seni. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan mari kita untuk ‘ngotot’  melangkah lebih baik memberikan kebermanfaatan bagi semua dimanapun kita berada.
sumber :
Continue reading →

CIPTO SULISTIYO; Sang Milyarder Properti

0 komentar
Cipto adalah seorang mantan Guru Bahasa Inggris. Kemudian dengan kenekatannya, dengan perhitungan tentunya, dia banting setir ke usaha kontraktor. Saat ini dia memiliki Grup Nusuno. Kisah lengkapnya demikian:

Dengan penampilannya yang bersahaja, yang sehari-hari hanya menggunakan kemeja lengan pendek dengan celana panjang, Cipto Sulistyo adalah salah satu pengusaha top di negeri ini. Dia adalah pengusaha properti yang telah membangun banyak properti hunian di banyak kota. Memang namanya tidak setenar Ciputra, Trihatma, atau Rudy Margono. Namun, nama Cipto dengan bendera Grup Nusuno tidak dapat dipandang sebelah mata, banyak proyek kelas menengah yang digarapnya dengan aset rata-rata Rp. 800 miliar.

Di balik kesederhanaannya itu, ternyata Cipto adalah sosok yang workaholic. Kelahiran Jakarta, 3 April 1967 ini mengungkapkan,  seandainya dalam sehari ada 36 jam, ia akan lebih banyak mencurahkan waktu untuk bekerja. Baginya, hidup ini adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Dengan kegigihannya itulah, tak mengherankan, ia menjadi orang sukses. Meski tidak dilahirkan dari kalangan keluarga pebisnis, ia mampu membuktikan dirinya bisa menjadi entrepreneur yang cukup diperhitungkan.

Lulusan Sastra Inggris Universitas Nasional, Jakarta, ini sempat mengajar bahasa Inggris di lembaga kursus LIA dan LPIA. Namun, akhirnya ia pindah jalur menjadi entrepreneur. Ketika memulai bisnis, ia menjadi kontraktor, dan kemudian berkembang menjadi developer kini telah membangun tak kurang dari 9 proyek hunian di Jabodetabek. Selain itu, ia memiliki bisnis institusi keuangan (bank perkreditan rakyat/BPR), lembaga pendidikan, minimarket, pabrik cat, toko material bangunan dan percetakan. Cipto menegaskan, ”Di dunia ini tidak ada orang bodoh atau pintar. Yang ada hanyalah orang malas dan rajin. Dan saya merasa tidak malas, sehingga semua pekerjaan bisa dikerjakan oleh orang yang tidak malas”. Ia menambahkan, kunci suksesnya terletak pada tiga hal: kerja keras, fokus pada pekerjaan, plus hoki.

Perjalanan bisnisnya bermula tahun 1990. ”Nusuno itu diambil dari nama tiga orang pendirinya,”ujarnya. Saat usianya 23 tahun, ia bersama dua temannya, Nuzulul Haque dan Danardono, mendirikan Nusuno yang awalnya membidangi jasa kontraktor dan konsultan perencanaan bangunan. Kebetulan kedua temannya yang dulu sama-sama sekolah di SMP 42, Jakarta Selatan. Dengan bergulirnya waktu Nusuno lambat laun menjadi besar yang rata-rata mengerjakan proyek senilai Rp. 4-5 miliar dalam sebulan. Dalam perjalanannya, kedua teman Cipto tersebut tidak aktif dalam pengelolaan perusahaan. Sehingga, dialah yang menjadi nahkoda Nusuno dan selanjutnya menjadi pemilik tunggal.

Setelah sukses menggeluti bisnis kontraktor, Cipto tergiur menjajal bisnis properti. Mula-mula ia melakukan jual-beli tanah dan membangun ruko kecil-kecilan. Tak disangka, setiap transaksi selalu untung. Permodalan diambil dari keuntungan jasa kontraktor sebelumnya. Sayang, masa-masa emas mencetak duit itu tidak berlangsung lama. Tahun 1997, akibat badai krisis moneter, Nusuno limbung dan sempat terlilit utang Rp. 15 miliar.

Boleh dibilang, setelah 1997 itu bisnis Nusuno masih kembang-kempis. Sampai akhirnya Dewi Fortuna datang lagi pada tahun 2000-an. Tepatnya, tahun 2004-2006, saat booming dunia properti. Momentum itu tidak disia-siakan Cipto dengan memberanikan diri membangun perumahan.

Tahun 2004, Nusuno meluncurkan proyek properti perdana dengan skala medium. Namanya, Perumahan Puri Bintara di Bekasi seluas 6 hektare. Jenis rumah yang dipasarkan mulai dari tipe 64 dengan harga Rp. 215 juta/unit. Lagi-lagi Cipto dinaungi hoki: dalam tempo 1,5 tahun, 300 unit rumah ludes diserap pasar. Tak puas cuma menangani Puri Bintara, ia kembali meluncurkan proyek baru bernama Bintara Estate di Bekasi juga. Di atas lahan seluas 1 ha itu, ia membangun town house sebanyak 60 unit dengan harga Rp. 250-700 juta tiap unit, yang juga banyak diminati konsumen.

Cipto makin ketagihan membangun beberapa proyek permukiman. Maka, ia pun kemudian membangun Puri Juanda Regency di Bekasi Timur sebagai proyek ketiga. Dengan lahan 6 ha, perumahan itu terdiri atas 266 unit rumah dan banderolnya Rp. 130 jutaan per unit. Proyek keempatnya, Puri Pakujaya. Perumahan yang berlokasi di Tangerang itu menempati lahan 2,2 ha dan terdiri atas 97 unit rumah tipe 39 seharga Rp. 70 juta/unit. Sementara proyek perumahan kelima adalah Puri Kranji Regency di Bekasi, sebanyak 260 unit dengan luas tanah 4 ha.

Kendati sudah memiliki lima proyek perumahan di Bekasi dan Tangerang dengan skala menengah, Cipto masih haus ekspansi. Sasaran berikutnya adalah membangun perumahan kota mandiri yang menyedot dana lebih gede. Ada dua proyek terbaru: Grand Valley Residence di Depok seluas 33 ha dengan investasi Rp. 1,3 triliun, dan kota mandiri Kalimalang Epicentrum seluas 21 ha dengan investasi Rp. 800 miliar.
Bisnis apartemen juga dibidik Cipto. Sejauh ini setidaknya dua proyek apartemen telah dikembangkan Nusuno. Pertama, Apartemen Square Garden di Cakung, Jakarta Timur. Apartemen ini memiliki empat tower; satu tower terdiri atas 124 unit dengan harga Rp. 109 juta/unit. Yang kedua, Apatermen Eastonia di Jatiwaringin, Pondok Gede, yang berdiri di atas lahan seluas 3 ha.

Mitra bisnis Cipto menilai Nusuno adalah the rising star. Hendra Bujang, misalnya, menganggap Cipto sebagai pengusaha yang punya kemauan keras. “Visi-misi bisnisnya sangat bagus. Saya optimistis Nusuno akan lebih maju dan menjadi the rising star jika tidak ada krisis lagi,” tutur Associate Director Danpac Asset Management itu memuji. Sebelumnya Danpac adalah advisor Nusuno dalam menangani restrukturisasi dan pengembangan bisnis.

Sejauh ini Danpac baru pertama kali melakukan sinergi pembiayaan. Kerja sama yang dilakukan adalah membiayai proyek Apartemen Eastonia senilai Rp. 40 miliar. Adapun total nilai proyek Rp. 70-90 miliar. ”Kami tertarik bekerja sama dengan Nusuno karena banyak potensi. Nusuno juga telah proven lolos dari krisis global. Pertimbangan lain, sektor bisnisnya terkait dengan kebutuhan riil masyarakat, seperti properti, lembaga pendidikan, minimarket dan kesehatan,” Hendra menguraikan.

Hendra juga mengkritik Nusuno. Sebagai private company, kekuasaan masih berpusat di tangan pemilik. Padahal, di luar banyak peluang bisnis yang harus segera ditangani, sehingga prosesnya agak sulit. Jadi, di level manajemen, ia menyarankan, perlu limit tertentu pada kebijakan Cipto. Dengan demikian, sebagian kewenangan penting didelegasikan ke para profesional. Untuk itu, pola manajemen kekeluargaan mesti dirombak.
sumber :
Continue reading →

Labels