Ria Jenaka
Sejenak melupakan kepenatan saat menghadapi hari-hari bersama murid-murid kesayangan. Joke perlu, Guyon perlu, yang penting bisa mengobati stress. Asal tidak kelewatan dalam becanda insyaAllah tidak akan menjadikan kita lupa akan tugas utama kita..., tersenyumlah kawan! Yuk kita baca...!
Pendidikan
Pendidikan merupakan hak anak-anak kita, dan kewajiban kita memberikan kepada mereka. Ternyata pendidikan yang terbaik dimulai disaat mereka (anak-anak kita) masih dalam kandungan ibunya. Perlu diketahui, bahwa disaat mereka berumur 120 hari dalam kandungan, mereka sudah mampu merespon apa yang kita rasakan, kita perbuat dan segala sesuatu di luar diri mereka. Pemberian nama juga perlu...Baca Lengkap...!
Guru Oemar Bakrie
Kita semua tahu, dedikasinya tidak dapat dipungkiri dan dilupakan begitu saja oleh sebagian besar penduduk negeri ini. Kiprahnya mampu melahirkan orang-orang besar layaknya Habibi. Namun sebagian mereka terlupakan, bagaimana kisah mereka di negeri ini? Kita akan dan terus ikut mewarnainya...Baca Kisahnya...!!!
Kata Mutiara
Kadang kita merasa tersesat, butuh suluh untuk menerangi jalan. Mungkin sebuah kata akan membuatmu merasa terang benderang di jalan yang kita anggap lurus (semoga). Di sini ada kata-kata mutiara yang insyaALLOH akan menggugah semangat kita... Lihat semua...!
Wrooterist
Ini lho kumpulan tulisanku..., jelek-jelek juga gak apa-apa, namanya sedang berlatih. Beri komentar yach...! Kalo perlu diponten, nanti di kasih reward lho... Baca yuk...!
Trio Bujang Ngelakar
GURU TEKOR, MURID NYOHOR
Guru-gurunya terlihat berwibawa, namun sederhana. Eit…, kebalik. Guru-gurunya terlihat sederhana, namun berwibawa. Ada namanya Pak Agus. Sosoknya yang tinggi besar, tegap kehitaman. Sosok ini sangat disegani oleh anak-anak murid.
Dari tiga tingkat, paling-paling jumlah kelasnya ada 3 kelas. Kadang-kadang bisa 4 sampai 5 kelas. Bisa dibayangkan jumlah siswanya. Jika 1 kelas berisi 30 kepala, maksimal kira-kira 150-an kepala. Jumlah gurunya tidak sampai 20 orang, itupun sudah termasuk tenaga TU yang kadang harus merangkap jadi guru.
Sekolah ini memang tidak dikhususkan untuk anak-anak orang kaya. Tapi, kebanyakan murid-miridnya berasal dari kalangan bawah alias miskin. Kehidupan mereka terbatas. Bahkan ada yang hampir-hampir kurang makan. Ada yang tidak bawa uang jajan. Pokoknya ngenes-lah kehidupan murid-muridnya.
Para guru sangat paham kondisi anak-anak. Akibatnya mereka, para guru, tidak tega untuk memberikan tugas yang kira-kira harus merogoh kocek mereka. Apalagi membebani urusan orang tua mereka yang kadang-kadang makan kadang-kadang harus puasa.
Lalu siapa yang menggaji para guru? Harus ditanyakan tuh? Dari mana ya kira-kira? Yang jelas bukan dari SPP para siswa. Menurut Bu Ani, gaji guru-guru tersebut diambilkan dari dana BOS. Mereka rela menerima uang gaji kadang 3 bulan sekali. Asyik, jadi makin gede…! Jangan seneng dulu. Uang gaji yang diterima tiap 3 bulan itu dimaksudkan biar terlihat gede. Waduh…!
Seorang guru yang mengajar di sekolah gratis itu hanya mendapatkan rata-rata 250 ribu per tiga bulannya. Jika dirata-rata per bulan tidak sampai 100 ribu. Sementara gaji tukang cuci di rumah Bu Ani dibayar 300 ribu per bulan. Bu Ani sarjana, pembantu di rumahnya paling-paling lulusan SD, atau bahkan nggak sekolah. Getir ya…? Siapa nih yang salah? Bu Ani atau pembantu rumahnya?
Dihitung-hitung untuk biaya operasionalnya saja nggak cukup. Uang 100 ribu, ditengah-tengah kehidupan kota, seperti orang yang numpang lewat. Menunggunya 3 bulan, habisnya sehari. Ya gimana lagi, bulan kemarin saja masih ngebon sama tukang sayur. Sama warung sebelah.
Tapi yang sangat disesalkan, masih menurut Bu Ani, anak-anak didiknya tidak mencerminkan kondisi finansial keluarganya. Mereka terlihat bergaya. Dengan henpon yang bagus-bagus. Gaya pakaian yang sedikit norak seperti artis di sinetron-sinetron. Dandanan rambut yang kadang tidak layak untuk seorang murid SMP. Wah, pokoknya kadang makan ati. Bu Ani hanya bisa mengurut dada.
Ketika disinggung dengan biaya kecil-kecilan saja anak-anak banyak yang mengeluh. Tidak ada duit katanya. Tampilannya saja yang nyohor.
Bu Ani dan kawan-kawan guru yang lain tampak menikmati pekerjaan mereka. Mereka terlihat ikhlas mendidik anak-anak yang kadang kelakuannya menyesakkan dada. Kadang bikin emosi naik. Kadang-kadang bikin darah mendidih. Mereka hanya bisa bersabar dengan uluran tangan pemerintah.
Guru-guru disana hanya bisa meluruskan niat. Bahwa mengajar di sana hanya sebatas mengejar nilai dari sisi ibadahnya. Hanya sebatas pengabdian atas ilmu yang selama ini dipelajari. Lain tidak. Untuk mendapatkan gaji yang layak tidak mungkin, kecuali sertifikasi. Untuk sertifikasi jelas tidak memenuhi kriteria. Pasalnya jumlah jam ngajarnya kurang dari yang dipersyaratkan, yakni minimal 24 jam. Hitungannya dari mana?
Tekor, tekor. Gurunya tekor, muridnya nyohor…! ⊛
Gara-gara Nggak Kompak
Begini kisahnya, Gara-gara Nggak Kompak...
Pagi itu, Rabu yang indah 21/02/2012, diperkirakan akan ada tim verifikasi dari Dinas Pendidikan setempat. Verifikasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana persiapan sekolah kami dalam menghadapi Ujian Kompetensi Kejuruan. Hari mulai siang, para kaprog sedang asyik tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan peralatan dan bahan ujian.
Terlihat beberapa orang yang ditugaskan untuk verifikasi sudah hadir. Nggak berapa lama para verifikator itu menuju lokasi ujian. Mereka didampingi oleh kepala sekolah dan beberapa guru dari program yang ada di sekolah. Juga didampingi oleh masing-masing kepala program.
Setibanya di bengkel instalasi listrik, salah seorang verifikator bertanya mengenai kondisi genset (dinamo listrik). Dan secara kebetulan yang ditanya adalah Maryadi. Namun sebelum meminta penjelasan dari Maryadi, verifikator terlebih dahulu bertanya kepada kepala sekolah.
Menurut keterangan yang diberikan oleh kepala sekolah, genset tersebut dalam kondisi oke. Pokoke BAGUS lah, siap pake...
Mungkin karena kurang puas atas jawaban kepala sekolah, verifikator lantas bertanya kepada guru yang ada saat itu. Malang tidak dapat ditolak, Maryadi yang jadi nara sumber kali ini.
"Pak Maryadi, bagaimana kondisi genset ini, masih bagus nggak?" tanya verifikator meminta konfirmasi.
"Maap Pak, saya nggak berani jawab...!" timpal Maryadi. Raut mukanya yang lugu makin terlihat lucu.
"Lho kenapa, takut...? Udah jawab saja nggak apa-apa?" desak verifikator penuh pertanyaan.
"Bener nih Pak, nggak apa-apa?" jawab Maryadi minta kepastian perlindungan hukum.
"Ya, saya yang jamin...," verifikator meyakinkan.
"Okelah kalau begitu..., genset ini jelexs Pak, udah nggak layak pake...!" Maryadi menjawab sambil matanya menatap ke arah kepala sekolah. Dilihatnya kepala sekolah kecewa dengan jawaban Maryadi.
Maryadi dag-dig-dug, dia berpikir bakalan kena marah sama atasannya...,
Gara-gara Nggak Kompak sih, coba konfirmasi dulu ke Maryadi...!
"Tolong nanti saat verifikasi, kalo ada yang tanya ini-itu, bilang saja SEMUA BAGUS..., kalo nggak ntar nilai DP3 nya tak turunin...!" begitu seharusnya. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur...
Namanya juga cerita lucu, kadang bener kadang nggak bener, yang jelas ada benernya sih...(*)
Gaji PNS Naik, Rapellll Oeiiii
Pembayaran rapel kenaikan gaji PNS segera dilakukan setelah presiden menandatangani tiga Peraturan Pemerintah (PP) tentang Peraturan Gaji PNS dan TNI-Polri. Presiden juga menandatangani tiga PP lainnya untuk para pensiunan. ’’Nanti kami bayar secepatnya. Kalau sempat, Maret akan dibayarkan. Lalu, dua bulan kemarin akan diberikan rapel,’’ kata Sekjen Kemenkeu Kiagus Ahmad Badaruddin di kantornya kemarin.
Setelah PP ditandatangani kepala negara, Kemenkeu aka menerbitkan surat edaran ke kantor-kantor pelayanan perbendaharaan. ’’Itu sudah biasa kan. Kenaikan tiap tahun oleh presiden, PP-ya keluar,’’ kata Kiagus.
Dia mengatakan, biasanya akan ada jeda antara pembayaran gaji dan rapel. ’’Setelah pembayaran gaji bulanan, baru dibayarkan rapelnya. Ada time lag sedikit lah. Biasa itu,’’ katanya.
Dengan peraturan terbaru, gaji pokok terendah PNS golongan I-a masa kerja nol tahun adalah Rp1.260.000. Gaji pokok tertinggi golongan IV-e dengan masa kerja 32 tahun adalah Rp4.603.700.
Gaji tersebut belum termasuk tunjangan keluarga sebesar 10 persen gaji pokok untuk istri/suami serta 2 persen untuk anak. PNS masih menerima tunjangan pangan senilai 10 kilogram beras per orang. Pejabat struktural dan fungsional akan diberikan tunjangan jabatan. Juga ada tunjangan umum untuk yang tak memegang jabatan struktural dan fungsional. Kementerian/lembaga yang telah menerapkan reformasi birokrasi juga diberikan tunjangan remunerasi.
Wakil Menkeu Mahendra Siregar mengatakan, seluruh kenaikan gaji PNS sudah melalui kesepakatan di APBN. ’’Itu sudah masuk perhitungan dan itu bagian dari reformasi birokrasi,’’ kata Mahendra.
Dalam APBN 2012, komponen belanja pegawai meningkat menjadi Rp215,7 triliun atau sekitar 2,7 persen terhadap produk domestik bruto. Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan PNS, TNI, Polri, dan pensiunan melalui pemberian gaji ke-13 dan kenaikan gaji pokok sebesar 10 persen. Termasuk pemberian remunerasi untuk kementerian/lembaga yang telah siap melaksanakan reformasi birokrasi.
Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis menegaskan bahwa kenaikan gaji PNS 2012 itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mencairkannya. Sebab, hal tersebut sudah masuk dalam satuan anggaran untuk APBN 2012 yang disepakati pemerintah dan DPR.
Hanya, dia mengingatkan, besarnya anggaran untuk belanja pegawai negara itu harus dibarengi dengan formula peningkatan kinerja. ”Itu yang belum tergambar, yaitu tentang besaran unit pelayan negara dengan tingkat produktivitas,” jelas Harry.
Menurut dia, ketidakjelasan efektivitas peningkatan gaji PNS kali ini sama dengan kebijakan moratorium PNS yang telah ditelurkan pemerintah. ”Serba tidak jelas, hanya menaikkan gaji,” imbuh politikus Partai Golkar tersebut.
Dia lantas membeberkan bahwa anggaran untuk belanja pegawai tahun anggaran 2012 cukup besar. Di antara total belanja pegawai Rp 1.439 triliun, sebesar Rp 215,7 triliun digunakan untuk belanja pegawai atau mencapai sekitar 22,3 persen. ”Boleh-boleh saja menaikkan gaji, tapi basisnya produktivitas, tidak boleh hanya asal memberi seperti memberikan santunan,” ujar Harry. (jpnn/sil)
Namanya Nasib Utomo
Pak Ali pun berpapasan dengan 4 siswa tadi saat melewati tangga. Mereka adalah anak-anak di bawah perwaliannya sendiri. Mereka hanya bisa cengar-cengir. Anak-anak itu rupanya di saat pelajaran matematika mereka bolos ke kantin. Begitu selesai mereka nyantai di anak tangga. Pak Ali begitu mengetahui bahwa anak-anak itu tidak ikut pelajaran, langsung menuju kelas dan menganjurkan guru yang ada di kelas untuk mencoret daftar hadir mereka. Pak Ali akan bertanggung jawab jika ada yang tidak terima.
Adalah Pak Nasib, seorang guru ‘sepuh’ yang mengajar matematika. Pak Ali masih ingat saat masih duduk di bangku SMP. Ada film serial yang menampilkan tokoh Detektif Jepang tua yang bernama Ohara. Begitulah kira-kira Pak Nasib. Tubuhnya yang tidak sebegitu tinggi, dengan kondisi yang sudah tua masih berkarya ikut mencerdaskan anak bangsa. Sikapnya sangat tegas. Tidak bisa ditawar. Nasionalismenya sangat tinggi. Wajar, dia pernah menjadi calon korps marinir di Jawa Timur. Hanya karena dia tinggal sendiri yang ada dalam keluarganya, akhirnya dia ditolak.
Perjumpaannya dengan Pak Ali hanya sebentar saja. Karena pada tahun pelajaran yang akan datang Pak Nasib sudah pensiun. Dia merasa sangat prihatin melihat kondisi siswa sekarang ini. Kemauan belajar sangat kurang, cenderung membuang-buang waktu untuk belajar. Tidak memiliki etika di hadapan guru. Tidak menghargai orang tuanya. Begitulah yang dirasakan oleh Pak Nasib.
Di dalam obrolannya tiap hari sekolah, Pak Nasib tidak pernah terdengar membicarakan prihal sertifikasi. Meskipun guru-guru senior lainnya asyik membicarakan itu. Mereka berbicara tentang rekening, jumlah uang yang mereka akan terima dan segala sesuatunya yang berbau deskriminasi. Pak Nasib tidak. Hal ini mengundang pertanyaan dalam diri Pak Ali.
“Pak Nasib sertifikasinya di sekolah mana Pak…?” tanya Pak Ali kepada Pak Nasib pada satu kesempatan.
“Saya tidak perlu sertifikasi, biar Gusti Allah yang menyertifikasi saya…,” jawab Pak Nasib lantang. Dia memiliki dasar yang sangat kuat. Nasionalismenya ikut berperan dalam mewarnai kehidupannya, hingga kesehariannya sebagai guru. Dia bisa dibilang ‘guru stok lama’. Guru yang lahir dan besar pada awal-awal Oemar Bakrie memilih profesi sebagai guru.
Dia, Pak Nasib, beranggapan bahwa sertifikasi hanya bagi-bagi uang negara yang tidak ada timbal baliknya dari para guru kepada negeri ini. Mereka, para guru, cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana sertifikasi. Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap mutu pendidikan. Bahkan yang terlihat sekarang ini justru kebalikannya, penurunan mutu. Bagaimana tanggung jawab dia di hadapan Gusti Allah kelak?
Pendidikan sekarang bukan pendidikan seperti yang dulu lagi. Dulu, negeri-negeri tetangga belajar kepada negeri ini. Mereka belajar tentang hal-hal yang benar yang kelak di negeri asalnya akan diterapkan. Anggapan mereka benar, ilmu yang dipelajari diambil yang baik-baik saja. Sementara yang buruk tidak dibawa ke negara mereka. Mereka belajar tantang bagaimana mencerdaskan bangsanya kelak. Mereka tidak belajar sifat rakus bangsa ini. Rakus kepada apa saja, melebihi rakusnya binatang carnivora.
Saking rakusnya bangsa ini, aspal saja dimakan. Bangku sekolah dimakan. Semen, pasir, kayu, seragam, alat praktik, kendaraan, bensin, kertas, spidol, penghapus, papan tulis dan segala sesuatu yang dijumpainya bisa masuk ke dalam perutnya. Bahkan perut keluarganya. Inilah yang tidak dipelajari oleh peserta didik dari negeri tetangga saat belajar kepada kita.
Semua pejabat kebal hukum. Keadilan hanya sebuah sandiwara di depan persidangan. Sidang-sidang kejahatan, terutama tipikor, hanya sebuah tontonan untuk mengelabuhi para pemirsa keadilan negeri ini. Jelas, sutradaranya sangat pintar dan licin. Penegak hukum seperti pasukan macan ompong. Jangankan menangkap rusa untuk merobek kulit dan dagingnya, menerkam celeng tertembak yang sudah siap saji saja nggak berani.
Sejenak Pak Ali mengiyakan. Pak Ali jadi teringat akan kucing yang tinggal di rumahnya. Diamatinya kucing yang dulunya, menurut cerita, sangat doyan dengan tikus. Tikus berseliweran saja tidak sanggup dia mengusirnya karena badan tikus sudah bermutasi menjadi ‘tikus got gendut’. Jangankan mengusirnya, justru tikusnya meledek kucing tersebut. Tikus got gendut adalah bukan sembarang tikus, tidak hanya got yang menjadi tempat bermainnya. Kantor, sekolah, gedung MPR, markas-markas penegak hukum, kantor-kantor agama dan dimana saja. Seperti Tom & Jerry saja.
Beginilah bangsa ini. Sama…! Hanya beda di penampilan saja. Satu penegak hukum yang satunya kucing, satu koruptor yang satunya tikus got. Tikus got cerdas tentunya.
Nasib memang, tidak hanya Nasib saja namanya. Guru kawakan ini bernama lengkap Nasib Utomo. Dia mengalami nasib yang hampir sama dengan Bu Carolina. Pak Nasib digeser oleh birokrasinya sendiri lantaran tidak terlalu memperdulikan upeti. Dia hanya memiliki prestasi. Dan itu dianggap tidak cukup untuk menduduki kepala sekolah di sekolah bergengsi. Sekolah yang bisa dijadikan keledai untuk diambil tenaga sukarelanya. Sekolah yang bisa dijadikan sapi perahan bagi birokrasi pendidikan.
Kegigihannya dalam mempertahankan idealisme seorang patriot dan seorang guru berjiwa nasionalisme sangat sesuai dengan namanya, NASIB UTOMO. Dia adalah guru bagi Pak Ali, seorang yang membuka cakrawala ‘kebenaran’ akan dunia pendidikan sekarang ini. Guru sejati yang tidak hanya menginginkan siswanya memiliki nilai matematika yang tinggi, tapi juga budi pekertinya. Buat apa nilai matematika tinggi kalau tidak berbudi pekerti. Kenang Pak Ali.
Kini Pak Nasib sudah pensiun, jarang perjumpaan seperti ini terjadi. Dimana lagi seorang guru seperti Pak Ali menemukan gurunya seperti Pak Nasib…?
Allah memanggilnya, Jum’at (10/02/2012). Adakah Pak Nasib yang lain…? ⊛
Gawat Nih, Dilempar Buku oleh Guru, Murid Harus Operasi Hidung
''Tulang hidung anak saya patah akibat ulah gurunya. Dia dilempar buku oleh guru Bimbingan Psikologi (BP) di tempatnya sekolah,'' kata Indri Septiana, saat ditemui di RSUD Banyumas, Kamis (19/1).
Saat ini, Indri masih menjalani perawatan di RS dan hidungnya pun masih dibalut. Menurut dokter yang merawatnya, untuk membetulkan tulang hidungnya yang bengkok, maka harus dioperasi. Kalau tidak, maka kondisi itu menjadi permanen. Di Rumah Sakit tersebut, Indri didampingi ibunya, Sutihat (34).
Peristiwa pelemparan buku itu terjadi Sabtu (14/01), sesuai jam pelajaran sekolah. ''Sebelum sekolah usai, saya diminta menghadap guru BP setelah jam sekolah selesai,'' jelasnya.
Karena itulah, setelah teman-temannya pulang, dia menemui guru BP-nya Imam Gozali di ruang guru BP sekolah tersebut. Namun baru saja dia masuk ke ruangan itu, tiba-tiba sebuah buku tebal terlempar ke bagian wajah, dan tepat mengenai hidungnya.
''Rasanya sakit sekali. Setelah itu, dari lubang hidung terus menerus keluar darah,'' kata Indri.
Setelah kejadian itu, gurunya yang mungkin merasa menyesal mengantarnya pulang ke rumah kos Indri. Kebetulan, rumah yang dijadikan tempat kos Indri adalah rumah mertua guru BP Imam Gozali.
Ditanya mengapa guru BP tersebut sampai marah seperti itu, Indri mengaku, karena tindakannya yang terlalu sering pulang ke rumah orang tuanya. Padahal dia sudah kos di rumah mertua guru BP bersangkutan.
''Saya memang tidak betah kos. Karena itu, seringkali kalau sudah selesai sekolah, langsung pulang ke rumah orang tua,'' jelas Indri.
Indri mengakui, soal tindakannya yang jarang pulang ke rumah kos ini, sudah sering diingatkan guru BP-nya. Tapi dia sering tidak memenuhi keinginan gurunya, dengan memilih pulang ke rumah orang tuanya. ''Tapi mau bagaimana lagi, wong saya tidak betah,'' katanya.
Status Kepegawaian Guru Honor Masih Bermasalah
Ribuan guru bantu yang dibiayai APBN berunjuk rasa di Istana Negara. Jakarta, Senin (16/1/2012). Mereka mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera menandatangani peraturan pemerintah soal pengangkatan tenaga honorer di instansi pemerintah menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), termasuk guru.
Sanjaya, guru bantu di SDN Lebak, Banten, mengatakan, para guru bantu diangkat tahun 2003-2004 dengan gaji dari APBN. Para guru tiap tahun harus menandatangi perjanjian kerjasama dengan kepala dinas pendidikan setempat.
Seharusnya, tahun 2011 guru bantu yang tersisa sudah diangkat jadi CPNS bersama tenaga honorer lainnya. Tetapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. "Sampai sekarang belum ada penandatangan perjanjian kerja dengan kepala dinas dan gaji yang mestinya diterima tiap tanggal 5 belum ada," ujar Sanjaya.
Ketua Forum Komunikasi Guru Bantu Indonesia Ayub Joko Pramono mengatakan, sesuai janji pemerintah, sekitar 261.000 guru bantu yang memegang surat pengangkatan dari Menteri Pendidikan bakal diangkat menjadi guru PNS. Secara bertahap, pengangkatan dilakukan tahun 2005-2007. Namun, saat ini terhenti.
Padahal, ada sekitar 10.000 guru bantu yang sudah terdata dan disetujui untuk diangkat menjadi guru PNS. Para guru yang tersisa ini telah berusia 45 tahun ke atas.
Ani Agustina, Ketua Umum Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI), mengatakan, berdasarkan pendataan, guru dan pegawai honorer yang penggajiannya non-APBN serta non-APBD jumlahnya sekitar 600.000 orang. Selain itu, ada sekitar 47.000 guru dan pegawai yang tercecer pengangkatannya sehingga masih mendapat honor dari daerah.
Guru honorer kebanyakan guru yang diangkat untuk mengatasi kekurangan guru di sejumlah sekolah. Guru-guru tersebut sebagian mendapat honor dari anggaran sekolah.
Guru honorer ini tersebar di semua jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga SMP dan SMA/ SMK. Sementara itu, guru-guru di sekolah swasta berjuang untuk menjadi guru tetap yayasan. Namun, banyak sekolah swasta yang juga lebih suka memiliki guru honor karena tidak mampu menggaji.
"Untuk sekolah swasta kecil, tidak mampu mengangkat guru tetap. Lebih banyak guru honor. Apalagi bantuan pemerintah untuk memberi guru PNS di sekolah swasta juga tidak ada lagi," kata Kepala SMK Nasional Jakarta.
Persoalan status kepegawaian guru ini berdampak juga pada kebijakan sertifikasi guru. Pemerintah mensyaratkan guru yang ikut haruslah guru PNS atau guru tetap yayasan.
Ramlis, Kepala SMK kelas jauh Legonkulon, Kabupaten Subang, mengatakan, guru-guru honor di sekolah negeri saat ini resah. Para guru yang dibutuhkan sekolah diangkat hanya dengan surat keputusan kepala sekolah. Guru-guru yang sudah mengabdi lima tahun lebih tetap tidak bisa dapat hak untuk ikut sertifikasi.
"Guru honor di sekolah negeri sulit untuk dapat SK Bupati/Walikota untuk pengangkatan. Banyak guru honor di sekolah negeri yang resah tidak bisa mengikuti sertifikasi," kata Ramlis.
Padahal, SMK kelas jauh dibuka untuk melayani anak-anak SMP yang umumnya putus sekoalh karena tidak ada sekolah menengah di wilayah ini. Di sekolah ini ada 23 orang guru honor yang sudah berpendidikan S1.
Sertifikasi Guru; Kian Hari Kian Dipersulit...
Akan diadakan seleksi untuk PLPG, alias tes dulu (begitu kira-kira). Di Bandarlampung rencana tes akan dilaksanakan pada tanggal 28/01/2012. Untuk lokasi belum ada informasi jelas.
Bagi guru yang belum lolos untuk mengikuti PLPG, mereka harus ikut Pendidikan Profesi Guru - PPG. Nah, jika kita mau cermati, disini ada semacam 'proyek' untuk menyedot uang para guru. Perkiraan 15 juta rupiah dalam 1 tahun tiap guru. Pertanyaan saya:
1. Bagaimana mungkin bagi guru honor yang gajinya kecil?
2. Bagaimana bagi guru-guru honor di daerah terpencil?
3. Bagaimana gelar sarjana pendidikan yang diperoleh dari kampus?
Semacam ada pengkebiran bagi Universitas atau Perguruan Tinggi yang telah mencetak para sarjana pendidikan. Untuk apa mereka menjalani pendidikan selama kira-kira 5 tahun dalam rangka untuk mendapatkan gelar S.Pd.? Jika guru-guru yang sudah bergelar S.Pd. harus mengikuti PPG, mendingan cukup mengambil Akta IV saja saat kuliah.
Aturan-aturan yang diberlakukan tidak mencerminkan komitmen awal pemerintah dalam rangka mensejahterakan para guru...? Jika memang tujuannya ingin terciptanya kesejahteraan guru-guru dengan harapan meningkatnya mutu pendidikan nasional, mungkin lebih baik sertifikasi guru dipermudah lagi."Berikan saja dana tunjangan sertifikasi kepada guru yang telah memenuhi syarat. Misalnya lama tahun mengajar & jumlah jam mengajar dalam sepekan. Kemudian lakukan pengawasan dan pembinaan...! Selesai urusan..."
Dana pemerintah tidak terbuang sia-sia dalam proses sertifikasi. Coba sama-sama kita (guru) cermati, ada atau tidak --di tempat kita mengajar-- guru-guru yang sertifikasi tetapi tidak melaksanakan kewajibannya dengan benar?
Contohnya begini. Ada seorang guru sertifikasi, kebetulan dia mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah misalnya, tapi tidak melaksanakan tugas mengajarnya yang minimal 6 jam dalam sepekan. Dia menugaskan kepada orang lain untuk menggantikannya mengajar. Honor yang diberikan oleh kepala sekolah tadi tidak jelas, apakah dari sekolah atau dari diri pribadinya diambil dari tunjangan sertifikasinya. Kepala sekolah ini menerima dana sertifikasi terus-terusan. Saya lebih suka menyebut guru penggantinya dengan julukan 'guru bayaran'.
Hal seperti ini jelas pelanggaran Permendiknas No. 39 Th. 2009, Pasal 1 Ayat 2, tentang beban mengajar. Padahal saya yakin, pengawas tahu masalah ini. Tapi dia diam, mereka bersekongkol. Persekongkolan antara pengawas dengan kepala sekolah yang bersangkutan dalam rangka mengkorup uang pemerintah.
Apakah hal-hal seperti telah dilakukan oleh dinas-dinas pendidikan dari pusat hingga daerah...?
Beberapa hari ini bayak guru yang merasa dipersulit untuk sekedar mendapatkan hak-haknya...? Ada yang tidak rela melihat kehidupan guru yang sejahtera...!



