ALT_IMG

Ria Jenaka

Sejenak melupakan kepenatan saat menghadapi hari-hari bersama murid-murid kesayangan. Joke perlu, Guyon perlu, yang penting bisa mengobati stress. Asal tidak kelewatan dalam becanda insyaAllah tidak akan menjadikan kita lupa akan tugas utama kita..., tersenyumlah kawan! Yuk kita baca...!

ALT_IMG

Pendidikan

Pendidikan merupakan hak anak-anak kita, dan kewajiban kita memberikan kepada mereka. Ternyata pendidikan yang terbaik dimulai disaat mereka (anak-anak kita) masih dalam kandungan ibunya. Perlu diketahui, bahwa disaat mereka berumur 120 hari dalam kandungan, mereka sudah mampu merespon apa yang kita rasakan, kita perbuat dan segala sesuatu di luar diri mereka. Pemberian nama juga perlu...Baca Lengkap...!

Alt img

Guru Oemar Bakrie

Kita semua tahu, dedikasinya tidak dapat dipungkiri dan dilupakan begitu saja oleh sebagian besar penduduk negeri ini. Kiprahnya mampu melahirkan orang-orang besar layaknya Habibi. Namun sebagian mereka terlupakan, bagaimana kisah mereka di negeri ini? Kita akan dan terus ikut mewarnainya...Baca Kisahnya...!!!

ALT_IMG

Kata Mutiara

Kadang kita merasa tersesat, butuh suluh untuk menerangi jalan. Mungkin sebuah kata akan membuatmu merasa terang benderang di jalan yang kita anggap lurus (semoga). Di sini ada kata-kata mutiara yang insyaALLOH akan menggugah semangat kita... Lihat semua...!

ALT_IMG

Wrooterist

Ini lho kumpulan tulisanku..., jelek-jelek juga gak apa-apa, namanya sedang berlatih. Beri komentar yach...! Kalo perlu diponten, nanti di kasih reward lho... Baca yuk...!

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Maret 2014

Kepergok CD

0 komentar
“Sial betul hari ini!” Perasaan kesalku tak terbendung lagi. Bagaimana tidak, sudah berlarut-larut mencoba menyelesaikan tugas masih juga kebobolan maling. Lewat jam dua belas aku tidur. Jam sepuluh pintu kamar sudah dicek. Pintu garasi motor sudah dipalang obeng dan stik mixer. Masih saja ada yang raib.
Kebiasaan tidur malamku ternyata masih belum membuahkan hasil. Celurit yang aku gantung di depan meja kerjaku pun belum pula menuai korban. Sudah delapan tahun sejak aku menghuni rumah ini, baru kali ini kena begonya.
Sepertinya memang aneh malam tadi. Istriku juga merasakan hal yang sama. Kami sama-sama tertidur lelap. Anak-anak pulas dengan neneknya di ruang paviliun. Sang kakek tidur di kamar yang lain. Kamar kerjaku kosong. Arsip, kas masjid, komputer, dan berang-barang berharga lainnya lengkap. Sertifikat-sertifikat juara pun masih nangkring di tempat semula. Hp masih terhimpit di atara kain-kain sarung.
Awalnya istriku ketakutan untuk membuka kamar kerjaku yang terletak paling depan rumah kami. Takut kalau-kalau ada yang hilang. Nenek anak-anaklah yang pertama kali menemukan keanehan. Tikus, kucing, atau maling? Gumamnya sepanjang setengah jam dari waktu subuh. Waktu sembahyang menggerser pelan, namun kami masih cekakak-cekikik mengungkap siapa yang dengan cerdas beraksi tadi malam.
Laci-laci kabinet di kamar ibu terbuka layaknya tangga. Satu, dua, tiga, dan empat pintu saling silang seperti sedang bermain jackpot. Aneh, segala dompet bertaburan. Dompet baru, dompet apak, dompet jamuran, dompet kulit semuanya tercecer. Ada kucing cerdas, pikirnya.
Tas kerja jinjing, khas tante-tante yang hobi arisan pun turun kastok semua. Berjejer rapi, hanya isinya yang tabur. Sebuah tas dada, khusus jama’ah haji, tergolek tak berdaya di depan pintu garasi. Isinya tersemburai, tercecer tak bergerak lagi. berantakan.
Bergerak ke ruang tivi, tas kerja istriku mulai menampakkan hal yang mencurigakan. Kotak pensil terbuka, dompet ibu dan anak merk Sofie Martin tercecer. Isinya? Raib tak berjejak. Kerja sama yang matcing antara tikus dan kucing.
“Hagh…!” teriakku kencang dalam batin, aku pun menahannya sekuat mulutku. Malu kalau kelihatan kaget sama mertua. Jendela samping parkir motor matikku ternganga lebar. Penyangga suda bengkok tak berbentuk. Persis di depan akuarium jendela itu terbuka.
“Apa yang ilang Mak?” tanyaku menelisik tak punya rasa bersalah.
Ibu mertua cuma tersenyum dan bergumam kencang, “Nggak ada Ed…”.
Syukurlah kalau begitu. Tapi, kalau dipikir-pikir, tak mungkin tikus dan kucing secerdas itu. Meski mereka dalam kondisi konsentrasi penuh untuk aksinya. Meski mereka sedang gencatan tenaga untuk satu fokus, rumah kami.
Di kamar tempat anak-anak tidur tadi malam, pintu lemari terbuka semua. Mustahil Ibu tak mendengar apa-apa, meskipun itu nyata. Sudahlah aku mandi dulu, sebentar lagi harus masuk kerja. Masih syukur motorku aman, padahal kunci menggantung pasrah di kusen kamar ruang tengah. Ambil, plug and play, siap start.
***

Sabtu sore memang asyik berkumpul dengan anak-anak. Mereka asyik main dagang-dagangan layaknya para penjual di Pasar Bambu Kuning. Ditambah lagi dengan adanya keponakan yang tinggal di depan rumah yang kebetulan main.
“Mbak Awa yang jualan, Adek yang beli, Bibin yang jadi tukang ojeknya!” atur anak pertamaku pada adik dan sepupunya. Asyik sekali mereka dagang. Orang Padang memang harus bisa berbisnis, minimal kaki lima.
Toko mereka adalah ruang makan, tempat aku biasa sembunyikan motor saat merasa terpenat. Dari dalam, Mbak Awa membuka dagangannya. Jendela dibuka lebar-lebar, dia duduk layaknya tukang sayur sedang meladeni penjual sayur keliling dan para pembantu. Adiknya sibuk menghitung uang kertas yang terbuat dari lembaran sobekan koran bekas.
Lucu mereka. Betingkah layaknya orang-orang dewasa. Damai, indah, mereka mengajarkan bagaimana seharusnya bersaing. Tukang ojek tidak iri dengan banyakknya uang kertas pendagang. Pedagang merasa senang karena ada tukang ojek dan pembelinya.
Sesekali terdengar gelak tawa dari transaksi yang mereka lakukan. Oskar pun akan tertawa jika memahami kata-kata anak-anakku. Ia hanya diam, bisanya menempel kaca dan minta ditaburi pelet.
Bibin, si tukang ojek, tidak tahan lama-lama menunggu Adek untuk naik di belakangnya. Sepeda butut dan ban kempes tidak memupuskan cita-citanya menjadi tukang ojek sejati.
Jam dinding, jarumnya kian melintang, membentuk sudut 180 derajat. Aku biasanya merasakan adanya hembusan angin kencang dua pekan ini. Kemudian disusul gerimis dan hujan.
Terus, tanpa ditegur, Mbak Awa akan terus berjualan. Angin makin dingin, bisa-bisa mereka tidak mandi sore lagi.
***

Hari ketiga pekan ini. Motor sudah dipanasi, tinggal ‘greng’ siap meluncur ke terminal. Baju Pemdaku sudah mulai menyempit. Panjang celana kini sudah mulai terlihat nggantung, seratus delapan puluh sentimeter. Hari ini, meski banyak para PNS yang menggunakan batik, aku lebih suka mengenakan baju dinas. Masih untung, untuk menyiasati kenek bus yang banyak mulut. Laga-laganya tidak kenal sama penumpang yang baru beberapa bulan melanggan busnya. Terus saja dimintanya bayar full.
Sebentar lagi jam setengah enam, sarapan nasi semalam dengan sayur kemarin yang dihangatkan cukup mengganjal perutku. Menekan urat pusingku di bus AC nanti. Mengusir rasa masuk anginku hingga terdesak lewat pintu belakang.
“Ed, hp Mamak hilang. Punya istrimu juga hilang.” Informasi dari ujung dapur sana. Hampir-hampir menyedakkan tenggorokanku.
Aku menganggapnya itu adalah informasi sementara. Tugas utamaku kini adalah memiscall dua benda yang sanggup bicara sendiri itu. Kartu satu milik istriku, kata perempuan di seberang sana tidak bisa dihubungi. Kartu dua, sama saja. Kini giliran kartu mertuaku, sama saja. ‘Nomor yang Anda hubungi di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi!’ berkali-kali.
Puih, dasar mbak Fero. Positif hilang hp mereka, begitu hipotesa batinku. Kucing tidak mungkin, tikus apalagi. Kecuali mereka adalah Tom & Jerry. Waduh, siapa ya kira-kira? Tanyaku dalam hati.
“Bagaimana kalau babi ngepet?” sergahku kemudian. Angh, tak mungkin juga. Rumah kami, meski biasa diserobot air saat hujan dengan tampiyasannya, tapi untuk seekor babi ngepet tidak mungkin. Istriku tiap hari mengaji, anak-anak juga diajaknya selepas maghrib. Sembahyang juga tidak lewat barang setengah rakaat pun.
Aku kembali tidak puas. Jendela yang tadi terbuka aku raba dengan mesra. Seperti sedang mencari lekuk-lekuk yang aneh. Tidak ada. Bekas congkelan palu, bekas jungkitan obeng, dan bekas cungkilan ganco juga tidak ada. Terbuka begitu saja. Menambah kemerindingan bulu kuduk. Hebat, juara mentalist pun tak sanggup membuka jendela pintu dapur tanpa bantuan ganco.
Kejadian pagi ini hampir-hampir menahanku untuk tidak mengenakan sepatu dan berangkat mengais rezeki. Sambil menahan malas, aku tetap kenakan sepatuku. Setengah enam lewat, kira-kira terlambat tidak ya?
Mungkin pulang nanti aku harus membeli kartu perdana, meski istriku menolak untuk ganti nomor. Handphone masih ada satu pikirku. Dual sim sebenarnya, tapi karena kelakuan anak-anak hanya sim 1 yang masih bisa digunakan. Mamak, ibu mertuaku, bagaimana? Aku hanya berpikir, dia kan punya suami… Untung hanya handphone yang hilang.
Segala gembok dan grendel juga kami perlukan. Pintu paviliun, dapur, dan pintu depan. Harus ekstra kunci sekarang ini.
“Ed…!” suara ibu mertua datang dari arah kamar paviliunnya. Dia seperti sangat sedih, khawatir.
“Berkas Mamak hilang, sama tas-tasnya. Buku arisan keluarga juga lenyap di bawa maling…,” suaranya melirih. Mamak baru saja pensiun lima tahun yang lalu. Segala kenangan di tempat kerja, susah senang jadi guru PNS, raib.
Kami berpikir, bahwa berkas-berkas yang ada di tas kantor itu dianggapnya leptop. Yang lebih aneh, buku arisan keluarga besar ikut digondolnya. Jangan-jangan mereka, maling itu, maniak arisan. Tebakku.
Kami harus lapor ke kantor polisi. RT adalah langkah pertama, kemudian kami akan ke yang berwajib. Urusan kepegawaian kota ini juga perlu tahu. Pasalnya, SK-SK itu sangat penting. Apalagi, pasport Mamak juga ada di dalamnya.
***

Sampailah aku di kantor. Seorang kawan mengomentari kejadian di rumah. Mas Bro, begitu panggilan akrabnya, mencoba menebak karakter. Dia bilang, maling ini sudah mengenal kondisi rumah. Prediksinya didasari pada pintu jendela yang terbuka tanpa cacat. Kamar yang disatroninya pun seperti sudah dipetakan. Waktu yang sempit pun menjadi alasan tersendiri untuk memperkuat perkiraannya.
Lain Mas Bro lain pula Jeng Widi. Dia pernah mendapat cerita yang sama. Bahwa, ada seseorang yang pernah kemalingan tanpa perlawanan. Kupingnya mendengar, tapi mulut dan matanya tidak bisa dibuka sama sekali. Suaranya tertelan, sementara matanya terus terkatup. Maling menggunakan guna-guna sebelum aksinya.
Kantor hari ini tidak memberikan rasa nyaman. Hawanya ingin segera pulang. Namun, kewajiban menuntutku untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang dideadline oleh bos. Handphone baru adalah solusi komunikasi untuk ibunya anak-anak. Mau bolos, malu sama anak buah. Sudahlah, sebentar lagi juga selesai.
***

“Mas, tahu nggak, tas kerjaku yang kemalingan?” cecar istriku sepulangku dari kerja.
“Kenapa, putus?” aku balik bertanya. “Kan masih baru?” kembali aku balik bertanya.
Istriku semakin antusias menceritakan hal lucu yang tak disengajanya. Kemarin sore, dia meletakkan CD ke dalam tasnya. Karena keasyikan menjawab pesan pendek di hp-nya dia lupa menurunkan barang antik itu. Hp ditinggalkannya di samping tas yang memang baru sepekan ini dikreditnya.
Bisa jadi gara-gara segi tiga pengaman ini maling buru-buru kabur. Buktinya motor yang tinggal tancap gas saja terlewati. Menurut mitos, barang ini bisa mendatangkan sial. Beruntung sekali, biasanya maling-maling kelas teri sangat mempercayainya. Hal ini akan mendatangka efek jera yang sejera-jeranya. Lebih sial dari kami yang hanya kehilangan barang.
Berbeda dengan maling-maling kelas kakap. Jangankan selembar kain, Tuhan yang menciptakan jagat raya ini saja dia tidak ketakutan. Mereka makin berani untuk terus korupsi. Mereka tidak lagi menunggu malam sepi untuk beraksi. Tidak lagi harus meninabobokkan penghuni rumah sekedar untuk menguras dompet butut dan apak. Mereka terang-terangan, bahkan bangga melambaikan tangan bak artis ibukota. Senang karena diliput oleh media.
Maling modern ini makin angkuh. Setiap orang dia anggap enteng untuk disogok. Mereka hanya akan berhenti saat tanah disumpalkan ke dalam mulutnya.
Selepas dari rumah ini semoga para maling itu akan jera. Semoga mereka kapok dan mau mengembalikan berkas-berkas Mamakku.
***
Continue reading →
Kamis, 16 Januari 2014
0 komentar
Waduuuh..., dua hari nggak nulis diary. Bisa kena marah sama sang pelatih nich. Mau jadi penulis kok nunda-nunda...! Paling-paling itu yang mau diocehin sama pelatih kita... (mau nggak ya, mbak Sofie jadi pelatih menulisku? atau mbak Asma sekalian...) Nulis dulu achhh, dari pada nggak nulis. Mendingan terlambat dari pada nggak sama sekali (semboyan persatuan para pemalas)...

Rabu, 15 Januari 2014

Pagi baru menjelang. Rencananya hari ini ada kegiatan Kunjugan Industri ke PT. Coca Cola Amatil Indonesia wilayah Sumatra Bagian Selatan. Semua panitia dan guru pendamping sudah aku SMS-in. Intinya mereka harus sudah kumpul dan mulai berangkat jam 7 pagi. Soalnya di lokasi sudah ditunggu jam 9. Maklum, jarak yang lumayan jauh dari sekolah ke industri. Dari SMK N Sukoharjo - Pringsewu ke Tanjungbintang - Lampung Selatan. Perjalanan kira-kira akan makan waktu 3 jam.

Karena lokasi rumahku yang jauh dari sekolah, 2 jam perjalanan pakai angkot/bis, maka aku putuskan untuk menunggu di terminal penitipan motor di Kemiling. Sudahlah, sudah jam 8 belum ada kabar sudah berangkat apa belum. Mendingan datang duluan daripada ditinggalin.

Benar saja, sesampainya di terminal ada kabar bahwa bis sudah meluncur jam 8.15-an. Berarti aku masih ada waktu 1 jam lagi untuk menunggu bis. Beberapa buku sudah aku siapin untuk menemaniku dalam kesendirian menunggu datangnya 'pesawat' sewaan dengan sopir ber-SIM B1. Ada buku mbah Asma, buku mbak Sofie, dan buku baru tulisan dari J. Sumardianta. Gila orang-orang ini, mereka bisa eksis dengan hanya sebuah, dua buah atau lebih buku karya mereka. Nggak perlu jadi presiden untuk hebat. Kecuali Butet Kertarajasa yang banyak memiliki karya yang salah satu julukannya adalah Presiden Dongeng.

Terlihat sosok gelandangan. Aku tawarkan Pagoda Pastiles kepadanya. Awalnya nolak, tapi mau juga akhirnya. Begitu tangannya nyelonong, karuan saja aku tarik, Tangannya yang kotor jangan sampai masuk ke dalam kaleng permen menyengar mulut itu. Bukannya bermaksud menghina, tapi memang tangannya kotor. Takut kalau-kalau kencing nggak cebok, hih.... Akhirnya aku ambilkan saja. Aneh pikirku, makan permen kayak makan krupuk saja. Dikunyah, 'klethak... klethuk...', bener-bener ni bocah. Umurannya sekitar 18-an. Tingginya kira-kira 150-an.

"Mas..., sttstt..." aku pikir suara apa. Anak gelandangan tadi menempelkan jari telunjuk dan jari tengah ke bibirnya. O... anak ini rupanya yang manggil-manggil. Sepertinya dia minta rokok. Aku mendadahkan tangan ringan, "nggak ngerokok..." sahutku. Seandainya dia tahu kalau pria sejati tidak ngerokok, tapi di........?

Aku jadi berpikir, orang kurang waras terus gelandangan pula, kok nggak lupa ya sama rokok, padahal dia lupa sama dirinya sendiri, keluarganya, ke'malu'annya dan segala sesuatu yang dia lupakan. Duh Gusti...!

***

Perjalanan di dalam bis seperti diskotik, seperti tempat karaoke. Hingar bingar dengan suara nyanyian 'nggak bekelas'. Sopinya nggak tahu kalau penumpanggnya semua kaum terpelajar. Sungguh, musik mencerminkan siapa pendengarnya. Artinya kualitas pendengar akan sesuai dengan kualitas yang didengarkan.

Gerakan bis makin kencang. Seperti tak kenal dengan polantas. Hingar bingar tak mau berhenti. Udahlah, yang waras ngalah. Tikungan demi tikungan kami lewati. Sambil diiringai terjangan hujan dan belaian gerimis. Sesekali diterpa lembunya sapaan sang bayu. Tiba-tiba...,

"Huek..., huek...."  Sepotong anak manusia mengeluarkan beberapa ons isi perutnya. Untung dia tadi nggak sarapan kodok. Kerudung satu-satunya yang dibawa basah oleh muntahan. Beruntung anak ini, pasalnya di depannya duduk Bu Lyna yang ternyata membawa kerudung candangan.

Goncongan makin keras. Penumpang seperti dilempar ke kanan dan ke kiri. Jalan rusak dibiarkan saja. Konflik kepentingan tidak membawa kebaikan untuk warga negara. Khususnya masyarakat Lampung. Pemerintah Kota bilang begini. Pemerintah Provinsi bilang begitu. Aku menilai, bahwa kedua pemerintah daerah hanya bermanis-manis di depan rakyat. Padahal mereka seharusnya membela kepentingan rakyat. Termasuk salah satunya adalah perbaikan jalan. Cacat sudah keharmonisan yang diagung-agungkan dalam kampanye-kampanye mereka.... Huh..., kecewa aku.

Selama di perjalanan, terlihat dua buah truk terjerembab ke dalam kubangan air. Nggak tanggung-tanggung lebarnya ngangaan jalan aspal yang rusak. Mungkin kalau ada pembudidaya ikan, mereka akan mengembangkannya menjadi tambak-tambak ikan lele. Kemana pemerintah selama ini. Buta, kan punya kuping. Tuli, kan punya otak. Mikir...., capek dech..., buat ngganti modal 'nyalon' saja masih keteter.

Udahlah, mendingan konsen ke Coca Cola saja.

***

Acara setahap-demi setahap. Guide-nya ternyata nggak bisa masuk kerja hari itu. Katanya abis opname. Semoga lekas sembuk mbak Pipit.

Pak Joko mewakili. Menerangkan kandungan Coca Cola, cara pembuatan, cara pengisian, cara pendistribusian, cara pengolahan air limbah, hingga selesai. Satu hal yang mencerminkan pabrik Coca Cola memang berstandar Internasional adalah diterpakannya ISO. Juga pengolahan limbah yang sesuai dengan peraturan pemerintah. Lain sekali dengan pengusaha-pengusaha lokal, cuek bebek. Sering kita jumpai limbah sudah menghiasi sungai-sungai, menumpuk, memupuk enceng gondok untuk tumbuh subur. Merekalah orang-orang yang katanya mengaku sebagai anak bangsa. Atau anak b-a-n-g-s-a-t? Yang rela menggerus dan merusak alam rumah tinggalnya sendiri. Hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, anak, dan cucunya yang sama-sama kurang akal. Mereka berpikir akan aman dengan kekayaan mereka, dunia milik mereka. Mereka berpikir akan aman dari pertanyaan Malaikat Penjaga Kubur. mungkin mereka akan menyogokknya...! Naudzu billah.

Inilah potret tarik menarik dalam perpolitikan negeri ini. Mereka busuk meski tampak alim. Mereka kasar meski tampak santun. Mereka rakus meski tampak bersahaja. Duh Gusti, jangan Kau azab negeri ini gara-gara ulah 'mereka'...!

Hujan terus berlanjut, meski sudah puas minum Coca Cola dan Frestea tetap saja hujan nggak mau berhenti. Ada satu kalimat dalam papan depan ruang pertemuan. NO CHANGE NO PROGRESS, 'Tiada Kemajuan Tanpa Perubahan'.

Siiip, Mantaaabz, Lanjuttt, biarkan tikus-tikus kantor negeri ini terjebak oleh jebakan tikus yang mereka buat sendiri.
Continue reading →
Kamis, 01 Maret 2012

GURU TEKOR, MURID NYOHOR

0 komentar
Bandarlampung - p4k -- Ini kisah dari Bu Ani. Dia mengajar di sebuah sekolah lanjutan pertama. SMP swasta dengan status disamakan. Sekolahannya kecil, nyempil di antara hunian penduduk. Lokasinya di tengah kota Bandarlampung. Katanya sih sekolah di sana gratis, alias gak bayar SPP. Wah…, hebat. Ada sekolah gratis. Gratis bukan berarti untuk orang-orang kalangan miskin.

Guru-gurunya terlihat berwibawa, namun sederhana. Eit…, kebalik. Guru-gurunya terlihat sederhana, namun berwibawa. Ada namanya Pak Agus. Sosoknya yang tinggi besar, tegap kehitaman. Sosok ini sangat disegani oleh anak-anak murid.

Dari tiga tingkat, paling-paling jumlah kelasnya ada 3 kelas. Kadang-kadang bisa 4 sampai 5 kelas. Bisa dibayangkan jumlah siswanya. Jika 1 kelas berisi 30 kepala, maksimal kira-kira 150-an kepala. Jumlah gurunya tidak sampai 20 orang, itupun sudah termasuk tenaga TU yang kadang harus merangkap jadi guru.

Sekolah ini memang tidak dikhususkan untuk anak-anak orang kaya. Tapi, kebanyakan murid-miridnya berasal dari kalangan bawah alias miskin. Kehidupan mereka terbatas. Bahkan ada yang hampir-hampir kurang makan. Ada yang tidak bawa uang jajan. Pokoknya ngenes-lah kehidupan murid-muridnya.

Para guru sangat paham kondisi anak-anak. Akibatnya mereka, para guru, tidak tega untuk memberikan tugas yang kira-kira harus merogoh kocek mereka. Apalagi membebani urusan orang tua mereka yang kadang-kadang makan kadang-kadang harus puasa.

Lalu siapa yang menggaji para guru? Harus ditanyakan tuh? Dari mana ya kira-kira? Yang jelas bukan dari SPP para siswa. Menurut Bu Ani, gaji guru-guru tersebut diambilkan dari dana BOS. Mereka rela menerima uang gaji kadang 3 bulan sekali. Asyik, jadi makin gede…! Jangan seneng dulu. Uang gaji yang diterima tiap 3 bulan itu dimaksudkan biar terlihat gede. Waduh…!

Seorang guru yang mengajar di sekolah gratis itu hanya mendapatkan rata-rata 250 ribu per tiga bulannya. Jika dirata-rata per bulan tidak sampai 100 ribu. Sementara gaji tukang cuci di rumah Bu Ani dibayar 300 ribu per bulan. Bu Ani sarjana, pembantu di rumahnya paling-paling lulusan SD, atau bahkan nggak sekolah. Getir ya…? Siapa nih yang salah? Bu Ani atau pembantu rumahnya?

Dihitung-hitung untuk biaya operasionalnya saja nggak cukup. Uang 100 ribu, ditengah-tengah kehidupan kota, seperti orang yang numpang lewat. Menunggunya 3 bulan, habisnya sehari. Ya gimana lagi, bulan kemarin saja masih ngebon sama tukang sayur. Sama warung sebelah.

Tapi yang sangat disesalkan, masih menurut Bu Ani, anak-anak didiknya tidak mencerminkan kondisi finansial keluarganya. Mereka terlihat bergaya. Dengan henpon yang bagus-bagus. Gaya pakaian yang sedikit norak seperti artis di sinetron-sinetron. Dandanan rambut yang kadang tidak layak untuk seorang murid SMP. Wah, pokoknya kadang makan ati. Bu Ani hanya bisa mengurut dada.

Ketika disinggung dengan biaya kecil-kecilan saja anak-anak banyak yang mengeluh. Tidak ada duit katanya. Tampilannya saja yang nyohor.

Bu Ani dan kawan-kawan guru yang lain tampak menikmati pekerjaan mereka. Mereka terlihat ikhlas mendidik anak-anak yang kadang kelakuannya menyesakkan dada. Kadang bikin emosi naik. Kadang-kadang bikin darah mendidih. Mereka hanya bisa bersabar dengan uluran tangan pemerintah.

Guru-guru disana hanya bisa meluruskan niat. Bahwa mengajar di sana hanya sebatas mengejar nilai dari sisi ibadahnya. Hanya sebatas pengabdian atas ilmu yang selama ini dipelajari. Lain tidak. Untuk mendapatkan gaji yang layak tidak mungkin, kecuali sertifikasi. Untuk sertifikasi jelas tidak memenuhi kriteria. Pasalnya jumlah jam ngajarnya kurang dari yang dipersyaratkan, yakni minimal 24 jam. Hitungannya dari mana?

Tekor, tekor. Gurunya tekor, muridnya nyohor…! ⊛
Continue reading →
Jumat, 24 Februari 2012

Gara-gara Nggak Kompak

0 komentar
p4k -- Ada saja yang namanya kisah lucu, dimana ada lucu disitu ada yang ketawa. Kisah ini adalah kisah yang dialami kawan sekantor saya. Gara-garanya nggak kompak, antara dia dengan atasan kami. Namanya Maryadi, kebetulan kawan yang satu ini bekerja sebagai guru negeri alias Guru PNS.

Begini kisahnya, Gara-gara Nggak Kompak...

Pagi itu, Rabu yang indah 21/02/2012, diperkirakan akan ada tim verifikasi dari Dinas Pendidikan setempat. Verifikasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana persiapan sekolah kami dalam menghadapi Ujian Kompetensi Kejuruan. Hari mulai siang, para kaprog sedang asyik tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan peralatan dan bahan ujian.

Terlihat beberapa orang yang ditugaskan untuk verifikasi sudah hadir. Nggak berapa lama para verifikator itu menuju lokasi ujian. Mereka didampingi oleh kepala sekolah dan beberapa guru dari program yang ada di sekolah. Juga didampingi oleh masing-masing kepala program.

Setibanya di bengkel instalasi listrik, salah seorang verifikator bertanya mengenai kondisi genset (dinamo listrik). Dan secara kebetulan yang ditanya adalah Maryadi. Namun sebelum meminta penjelasan dari Maryadi, verifikator terlebih dahulu bertanya kepada kepala sekolah.

Menurut keterangan yang diberikan oleh kepala sekolah, genset tersebut dalam kondisi oke. Pokoke BAGUS lah, siap pake...

Mungkin karena kurang puas atas jawaban kepala sekolah, verifikator lantas bertanya kepada guru yang ada saat itu. Malang tidak dapat ditolak, Maryadi yang jadi nara sumber kali ini.

"Pak Maryadi, bagaimana kondisi genset ini, masih bagus nggak?" tanya verifikator meminta konfirmasi.

"Maap Pak, saya nggak berani jawab...!" timpal Maryadi. Raut mukanya yang lugu makin terlihat lucu.

"Lho kenapa, takut...? Udah jawab saja nggak apa-apa?" desak verifikator penuh pertanyaan.

"Bener nih Pak, nggak apa-apa?" jawab Maryadi minta kepastian perlindungan hukum.

"Ya, saya yang jamin...," verifikator meyakinkan.

"Okelah kalau begitu..., genset ini jelexs Pak, udah nggak layak pake...!" Maryadi menjawab sambil matanya menatap ke arah kepala sekolah. Dilihatnya kepala sekolah kecewa dengan jawaban Maryadi.

Maryadi dag-dig-dug, dia berpikir bakalan kena marah sama atasannya...,

Gara-gara Nggak Kompak sih, coba konfirmasi dulu ke Maryadi...!

"Tolong nanti saat verifikasi, kalo ada yang tanya ini-itu, bilang saja SEMUA BAGUS..., kalo nggak ntar nilai DP3 nya tak turunin...!" begitu seharusnya. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur...

Namanya juga cerita lucu, kadang bener kadang nggak bener, yang jelas ada benernya sih...(*)
Continue reading →
Minggu, 19 Februari 2012

Namanya Nasib Utomo

0 komentar
“Kalian alpa hari ini…!” terdengar suara lantang dari lantai 2. Beberapa anak terdiam, seorang guru tengah terlihat menudingkan tangannya ke arah dalam kelas. Anak-anak yang jumlahnya 4 orang itu segera masuk. Tak berapa lama kemudian, terlihat mereka sudah mengenakan tas dan sepatu, 2 orang lagi membawa helem dan jaket. Mereka pulang.

Pak Ali pun berpapasan dengan 4 siswa tadi saat melewati tangga. Mereka adalah anak-anak di bawah perwaliannya sendiri. Mereka hanya bisa cengar-cengir. Anak-anak itu rupanya di saat pelajaran matematika mereka bolos ke kantin. Begitu selesai mereka nyantai di anak tangga. Pak Ali begitu mengetahui bahwa anak-anak itu tidak ikut pelajaran, langsung menuju kelas dan menganjurkan guru yang ada di kelas untuk mencoret daftar hadir mereka. Pak Ali akan bertanggung jawab jika ada yang tidak terima.

Adalah Pak Nasib, seorang guru ‘sepuh’ yang mengajar matematika. Pak Ali masih ingat saat masih duduk di bangku SMP. Ada film serial yang menampilkan tokoh Detektif Jepang tua yang bernama Ohara. Begitulah kira-kira Pak Nasib. Tubuhnya yang tidak sebegitu tinggi, dengan kondisi yang sudah tua masih berkarya ikut mencerdaskan anak bangsa. Sikapnya sangat tegas. Tidak bisa ditawar. Nasionalismenya sangat tinggi. Wajar, dia pernah menjadi calon korps marinir di Jawa Timur. Hanya karena dia tinggal sendiri yang ada dalam keluarganya, akhirnya dia ditolak.

Perjumpaannya dengan Pak Ali hanya sebentar saja. Karena pada tahun pelajaran yang akan datang Pak Nasib sudah pensiun. Dia merasa sangat prihatin melihat kondisi siswa sekarang ini. Kemauan belajar sangat kurang, cenderung membuang-buang waktu untuk belajar. Tidak memiliki etika di hadapan guru. Tidak menghargai orang tuanya. Begitulah yang dirasakan oleh Pak Nasib.

Di dalam obrolannya tiap hari sekolah, Pak Nasib tidak pernah terdengar membicarakan prihal sertifikasi. Meskipun guru-guru senior lainnya asyik membicarakan itu. Mereka berbicara tentang rekening, jumlah uang yang mereka akan terima dan segala sesuatunya yang berbau deskriminasi. Pak Nasib tidak. Hal ini mengundang pertanyaan dalam diri Pak Ali.

“Pak Nasib sertifikasinya di sekolah mana Pak…?” tanya Pak Ali kepada Pak Nasib pada satu kesempatan.

“Saya tidak perlu sertifikasi, biar Gusti Allah yang menyertifikasi saya…,” jawab Pak Nasib lantang. Dia memiliki dasar yang sangat kuat. Nasionalismenya ikut berperan dalam mewarnai kehidupannya, hingga kesehariannya sebagai guru. Dia bisa dibilang ‘guru stok lama’. Guru yang lahir dan besar pada awal-awal Oemar Bakrie memilih profesi sebagai guru.

Dia, Pak Nasib, beranggapan bahwa sertifikasi hanya bagi-bagi uang negara yang tidak ada timbal baliknya dari para guru kepada negeri ini. Mereka, para guru, cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana sertifikasi. Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap mutu pendidikan. Bahkan yang terlihat sekarang ini justru kebalikannya, penurunan mutu. Bagaimana tanggung jawab dia di hadapan Gusti Allah kelak?

Pendidikan sekarang bukan pendidikan seperti yang dulu lagi. Dulu, negeri-negeri tetangga belajar kepada negeri ini. Mereka belajar tentang hal-hal yang benar yang kelak di negeri asalnya akan diterapkan. Anggapan mereka benar, ilmu yang dipelajari diambil yang baik-baik saja. Sementara yang buruk tidak dibawa ke negara mereka. Mereka belajar tantang bagaimana mencerdaskan bangsanya kelak. Mereka tidak belajar sifat rakus bangsa ini. Rakus kepada apa saja, melebihi rakusnya binatang carnivora.

Saking rakusnya bangsa ini, aspal saja dimakan. Bangku sekolah dimakan. Semen, pasir, kayu, seragam, alat praktik, kendaraan, bensin, kertas, spidol, penghapus, papan tulis dan segala sesuatu yang dijumpainya bisa masuk ke dalam perutnya. Bahkan perut keluarganya. Inilah yang tidak dipelajari oleh peserta didik dari negeri tetangga saat belajar kepada kita.

Semua pejabat kebal hukum. Keadilan hanya sebuah sandiwara di depan persidangan. Sidang-sidang kejahatan, terutama tipikor, hanya sebuah tontonan untuk mengelabuhi para pemirsa keadilan negeri ini. Jelas, sutradaranya sangat pintar dan licin. Penegak hukum seperti pasukan macan ompong. Jangankan menangkap rusa untuk merobek kulit dan dagingnya, menerkam celeng tertembak yang sudah siap saji saja nggak berani.

Sejenak Pak Ali mengiyakan. Pak Ali jadi teringat akan kucing yang tinggal di rumahnya. Diamatinya kucing yang dulunya, menurut cerita, sangat doyan dengan tikus. Tikus berseliweran saja tidak sanggup dia mengusirnya karena badan tikus sudah bermutasi menjadi ‘tikus got gendut’. Jangankan mengusirnya, justru tikusnya meledek kucing tersebut. Tikus got gendut adalah bukan sembarang tikus, tidak hanya got yang menjadi tempat bermainnya. Kantor, sekolah, gedung MPR, markas-markas penegak hukum, kantor-kantor agama dan dimana saja. Seperti Tom & Jerry saja.
Beginilah bangsa ini. Sama…! Hanya beda di penampilan saja. Satu penegak hukum yang satunya kucing, satu koruptor yang satunya tikus got. Tikus got cerdas tentunya.
Nasib memang, tidak hanya Nasib saja namanya. Guru kawakan ini bernama lengkap Nasib Utomo. Dia mengalami nasib yang hampir sama dengan Bu Carolina. Pak Nasib digeser oleh birokrasinya sendiri lantaran tidak terlalu memperdulikan upeti. Dia hanya memiliki prestasi. Dan itu dianggap tidak cukup untuk menduduki kepala sekolah di sekolah bergengsi. Sekolah yang bisa dijadikan keledai untuk diambil tenaga sukarelanya. Sekolah yang bisa dijadikan sapi perahan bagi birokrasi pendidikan.

Kegigihannya dalam mempertahankan idealisme seorang patriot dan seorang guru berjiwa nasionalisme sangat sesuai dengan namanya, NASIB UTOMO. Dia adalah guru bagi Pak Ali, seorang yang membuka cakrawala ‘kebenaran’ akan dunia pendidikan sekarang ini. Guru sejati yang tidak hanya menginginkan siswanya memiliki nilai matematika yang tinggi, tapi juga budi pekertinya. Buat apa nilai matematika tinggi kalau tidak berbudi pekerti. Kenang Pak Ali.

Kini Pak Nasib sudah pensiun, jarang perjumpaan seperti ini terjadi. Dimana lagi seorang guru seperti Pak Ali menemukan gurunya seperti Pak Nasib…?

Allah memanggilnya, Jum’at (10/02/2012). Adakah Pak Nasib yang lain…? ⊛
Continue reading →
Senin, 16 Januari 2012

Bagi-bagi Recehan

0 komentar
Sebuah cerita oleh : Nur Afif E.N.

p4k -- Sejuta tidak akan pernah ada jika kurang seribu, nggak ada seribu kalau nggak ada seratus. Logis, nilai yang ada adalah sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu jika sejuta kurang seribu. Dan sembilan ratus jika seribu kurang seratus. Beginilah pola pikir orang-orang kapitalis. Mereka menganggap segala sesuatunya layak dinilai dengan angka-angka nominal uang.

Pagi itu Pak Ali terlihat sumringah, sudut bibirnya terlihat masih sedikit mengembangkan senyum. Pasalnya, sahabat karibnya, Pak Johan baru saja curhat dengan dirinya. Pak Johan dan beberapa kawan guru lainnya baru saja selesai melaksanakan tugas sebagai panitia ujian semester di sekolahnya.

Pak Johan dan Pak Ali memang tidak hanya mengajar di satu sekolah. Pak Johan dan Pak Ali mengajar di sekolah negeri yang berbeda. Sore hari mereka sama-sama mengajar di sekolah swasta, disinilah mereka bertemu. Mereka bisa mengajar sore karena sekolah swasta tersebut menggunakan sistem 2 sift, mengingat jumlah siswanya yang begitu banyak.

Pak Ali sepertinya ingin berbagi cerita tentang kejadian yang dialami Pak Johan kepada kawan-kawan gurunya di sekolah negeri. Pak Johan bercerita bahwa kepanitiaan ujian semester tidak hanya dilaksanakan oleh ketua panitia dan anggotanya. Namun disana ada penanggung jawab. Si penanggung jawab merasa bahwa kegiatan di sekolah Pak Johan adalah tanggung jawabnya, semuanya.

Pada saat itu Pak Johan dipercaya untuk menjadi ketua panitia pelaksanaan ujian semester ganjil. Pada prosesnya, cukup sulit bagi Pak Johan untuk mengajukan sejumlah dana untuk kegiatan kali ini. Sekali maju tak cukup untuk meyakinkan sang penanggung jawab, yang merupakan atasan Pak Johan. Tiga kali maju baru mendapat approval. Padahal waktu pelaksanaan tinggal sepekan lagi.

Begitu anggaran di-acc, langsung Pak Johan selaku ketua panitia mendelegasikan tugas-tugas kepanitian kepada seluruh panitia lainnya. Mereka yang terdiri dari guru dan staf sekolah bergerak maju saling bahu membahu. Mengingat waktu yang sempit, maka panitia bergerak dan bekerja cukup ekstra. Pak Johan tinggal melakukan pemantauan dan pengarahan layaknya mandor bangunan.

Pak Johan beserta bendaharanya masih teringat dan akan selalu teringat pesan dari penanggung jawab kegiatan. “Tolong diirit-irit ya Pak, biar nanti ada sisanya. Saldo yang ada nanti kita bagi. Kita bagi dua. Untuk pihak pertama, yaitu buat saya selaku penanggung jawab dan wakil-wakil saya. Untuk pihak kedua, yaitu buat Pak Johan, bendahara dan sekretaris yang sudah bekerja keras untuk terlaksananya kegiatan ujian ini…!” begitu pesan dari penanggung jawab. Pak Johan yang jiwanya sangat menentang korupsi dan segala bentuknya sangat menyesalkan hal ini. Namun, apa mau dikata, dia hanya seorang bawahan.

Pak Johan dan Pak Ali memiliki karakter yang sama, sangat anti terhadap korupsi. Apalagi pekerjaan mereka adalah sebagai pendidik. Meskipun mereka tidak bertugas di tempat yang sama, namun ada kemiripan kondisi masyarakat di sekitar sekolah tempat mereka bertugas. Masyarakatnya dalam kondisi miskin. SPP kadang tertunda dengan alasan belum panen, anak-anak didiknya untuk uang jajan saja kadang tidak ada. Sebagian ikut numpang kawannya untuk sampai ke sekolah. Pak Johan hanya bisa menahan sedih.

***
Apa yang sudah direncanakan kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pak Johan sebagai ketua pelaksana didampingi seorang guru yang memang memiliki pengalaman di bidang pendidikan. Lain dengan Pak Johan, meskipun dia memiliki leadership untuk masalah pengalaman masih kalah dengan Pak Adjit untuk masalah administrasi. Pak Adjit adalah guru yang dipilih oleh Pak Johan untuk mendampinginya sebagai pelaksana ujian semester. Semua dipersiapkan oleh Pak Adjit dalam waktu 2 pekan. Luar biasa kerjanya, two tumbs buat Pak Adjit.

Memang betul, rencana tidak selamanya akan akur dengan harapan. Panitia pun sudah mempersiapkan semacam penangkalnya atau antisipasinya. Menurut Pak Johan, pada hari pertama saja ada guru yang mendapat jadwal mengawas ternyata tidak bisa melaksanakan tugasnya. Mereka yang tidak hadir digantikan oleh panitia, dengan catatan honor mengawasnya diserahkan kepada panitia yang menggantikan tadi. Panitia yang mengawas tadi menyerahkan honor mengawasnya kepada bendahara panitia untuk dibagi rata kepada seluruh panitia. Hal ini mengingat panitia juga mendapat honor kepanitiaan tiap hadirnya, sehingga tidak dobel menerima honor hariannya. Kejadian ini selalu ada hingga ujian selesai. Panitia pun mendapat tambahan ‘ghonimah’ untuk dibagi rata sesama panitia.

Jika memang ini keluar dari keringat panitia, sah-sah saja untuk dibagi. Itulah yang diungkap oleh Pak Johan. Komitmen ini ditularkan Pak Johan kepada sekretaris dan bendaharanya. Mereka pun sependapat untuk tidak ‘memakan’ hasil diluar dari insentip yang sudah disepakati.

Semua guru pengawas ujian sudah mendapatkan haknya, begitu juga guru mata pelajaran yang lain sebagai honor naskah dan honor koreksi. Bagi panitia, masih harus menunggu untuk mendapatkan hak insentip kepanitiaan. Tentu harus menunggu tuntasnya pelaksanaan ujian semester hingga nilai semester sampai di tangan wali kelas.

Sudah menjadi tugasnya, bendahara harus merekap semua pemasukan dan pengeluaran anggaran. Pak Johan meminta kepada bendarharanya agar terjadi keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Pokoknya harus nol.

Menurut perhitungan bendahara, semua sudah didistirbusikan dengan tepat, semua dapat dipertanggungjawabkan. Belum termasuk anggaran cadangan yang belum dicairkan. Uang sisa yang ada hanya berasal dari kembalian konsumsi sebesar 25 ribu rupiah. Dan ada lagi pemasukan untuk panitia yang sumbernya dari panitia yang mengawas menggantikan guru pengawas yang tidak hadir. Jumlahnya 120 ribu rupiah.

Semua uang sisa harus dibagi kepada panitia. Sudah saatnya laporan kepada penanggung jawab. Semua berkas sudah dipersiapkan oleh Pak Adjit selaku sekretaris panitia.

Pertemuan dalam rangka laporan kegiatan dilangsungkan di sebuah ruangan rahasia. Untuk dilakukan di rumah makan tidak mungkin, mengingat tidak adanya rumah makan terdekat, juga tidak adanya anggaran. Yang pertama dilaporkan adalah kondisi keseimbangan neraca antara pemasukan dan pengeluaran.

Pak Johan, selaku ketua penitia, menanyakan perihal anggaran cadangan yang belum cair. Namun, oleh penanggung jawab dikatakan secara tidak langsung bahwa anggaran itu akan dicairkan dengan syarat anggaran itu harus dibagi-bagi kepada pihak pertama dan pihak kedua.

Begitu kira-kira yang ditangkap oleh Pak Johan dan bendaharanya. Begitu juga uang saldo dari konsumsi dan saldo pengawas, harus dibagi kepada kedua pihak. Tiba-tiba Pak Johan menolak, jika saldo pengawas hanya dibagi kepada mereka, pihak pertama dan kedua. Pasalnya yang mengawas adalah guru yang tidak termasuk kedua pihak. Guru yang menggantikan pengawas adalah panitia selain ketua, sekretaris dan bendarhara. Saldo itu adalah keringat para panitia yang menggantikan guru pengawas yang tidak hadir, Pak Johan berargumen. Pada awalnya penanggung jawab tidak menyetujuinya. Penanggung jawab seperti tidak dapat menerima.

Pihak panitia bersikukuh akan membagi saldo pengawas kepada seluruh panitia sebanyak 20 orang. Jadi bisa dibayangkan, 120 ribu rupiah dibagi 20 orang. Masing-masing panitia hanya akan mendapatkan 6 ribu rupiah. Nggak apalah, yang penting halal. Meskipun berat hati, penanggung jawab harus mau mengikuti apa yang disampaikan Pak Johan.

Untuk saldo konsumsi dan anggaran cadangan, Pak Johan bersama sekretarisnya dan bendaharanya sudah berkomitmen untuk tidak mengambilnya. Itu adalah uang siswa. Kalaupun mereka terpaksa harus tanda tangan bukti tanda terima, mereka akan menandatanganinya. Itupun uangnya akan langsung disalurkan kepada yang berhak. Atau disumbangkan ke dana sosial.

Pak Johan dan bendaharanya hanya mampu mengurut dada. Menurut bendahara panitia, kok ada orang yang tega-teganya memakan uang siswa. Padahal mereka orang-orang nggak punya. Duh Gusti…! Lagi-lagi terbukti, sehebat apapun bangkai yang dibungkus tetap saja akan mencemarkan bau tak sedap. Pak Johan, sekretarisnya dan bendaharanya berhasil ‘mengendus’ bau tak sedap itu secara langsung.

Pak Johan, Pak Adjit dan bendahara adalah guru-guru muda. Mereka awalnya hanya mendengar cerita dari panitia-panitia sebelumnya. Mereka akhirnya tahu birokrasi dalam sekolah yang mereka juga berada di dalamnya.

Pak Adjit, dalam hal ini sebagai skertaris panitia sudah membuat bukti serah terima. Anggaran cadangan akan segera dapat dicairkan dengan syarat sesuai permintaan penanggung jawab. Saldo anggaran yang terkumpul adalah 525 ribu rupiah, termasuk saldo konsumsi. Di tengah perjalanan, penanggung jawab juga mengusulkan agar bendahara sekolah juga mendapatkan bagian dan dimasukkan ke pihak pertama, diluar panitia murni. Dana saldo dibagikan kepada 8 orang. Yaitu pihak pertama ada 5 orang, yang terdiri dari penanggung jawab, wakilnya 3 orang dan seorang bendahara sekolah. Pihak kedua ada 3 orang, yang terdiri dari ketua panitia, sekretaris dan bendahara.

Pembagiannya harus proporsional. Lain dengan pembagian saldo pengawas yang harus dipukul rata. Untuk saldo anggaran cadangan dan konsumsi harus dibedakan. Porsi terbesar harus penanggung jawab. Yang lainnya mengikuti. Yang jelas porsi terbesar harus penanggung jawab, tidak boleh ketua panitianya. Meskipun yang berpeluh keringat adalah ketua panitianya. Pokoknya harus seperti itu, titik.

Anggaran cadangan akhirnya cair. Kegiatan bagi-bagi recehan berlangsung di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup aman dan tersembunyi. Tidak dapat diendus oleh pihak berwajib apalagi orang tua siswa. Apalagi orang tua siswa yang ‘kere-kere’. Tidak dapat ditembus pandang oleh para malaikat apalagi guru-guru yang bermental kerdil.
Pak Johan dengan senang hati menandatangani bukti penerimaan insentip 300 ribu rupiah sebagai ketua panitia. Ditambah pemerataan saldo pengawas, lumayan 6 ribu rupiah. Halal. Begitu juga sekretaris dan bendaharanya, mereka tampak senang menerima hasil jerih payahnya selama 3 pekan.

Untuk saldo anggaran cadangan dan konsumsi, Pak Johan menandatanganinya sambil memejamkan mata, rencananya. Karena takut salah menerakan tanda tangan, akhirnya dia ‘melek’ juga. Takut kalau-kalau salah meletakkan tanda tangan. Jangan sampai mengisi tanda tangan di tempat tanda tangan penanggung jawab.

Pak Johan, Pad Adjit dan bendahara panitia lega. Kegiatan sudah selesai. Laporan beres. Pengalaman spektakuler kali ini. Pengalaman bagi-bagi recehan. Ternyata orang yang kesehariannya naik kendaraan mahal pun masih ‘doyan’ recehan. Tanpa recehan uang gede pun nggak bakalan ada. Mungkin itulah yang ada dalam pikirannya. Atau dia berpikir, beginilah cara kaya yang sebenarnya.

“Tenang Pak Adjit dan bendahara, saya siap bertanggung jawab atas kepemimpinan saya,” seru Pak Johan. “Apalagi ada yang memback-up kegiatan, kan ada penanggung jawab. Dia juga wajib mempertanggung jawabkan uang recehan yang dia terima.” Pak Johan merasa lega…!

Pak Ali pun bangga dengan kawannya tersebut. Komitmennya untuk membenci korupsi dan segala bentuknya masih kuat terlihat. Semoga semakin banyak guru seperti Pak Johan. Namun begitu, Pak Ali kadang masih tersenyum sendirian saat mengingat kasus yang dialami oleh Pak Johan. Buaya kok dikadalin…! ⊛
Continue reading →

Labels