ALT_IMG

Ria Jenaka

Sejenak melupakan kepenatan saat menghadapi hari-hari bersama murid-murid kesayangan. Joke perlu, Guyon perlu, yang penting bisa mengobati stress. Asal tidak kelewatan dalam becanda insyaAllah tidak akan menjadikan kita lupa akan tugas utama kita..., tersenyumlah kawan! Yuk kita baca...!

ALT_IMG

Pendidikan

Pendidikan merupakan hak anak-anak kita, dan kewajiban kita memberikan kepada mereka. Ternyata pendidikan yang terbaik dimulai disaat mereka (anak-anak kita) masih dalam kandungan ibunya. Perlu diketahui, bahwa disaat mereka berumur 120 hari dalam kandungan, mereka sudah mampu merespon apa yang kita rasakan, kita perbuat dan segala sesuatu di luar diri mereka. Pemberian nama juga perlu...Baca Lengkap...!

Alt img

Guru Oemar Bakrie

Kita semua tahu, dedikasinya tidak dapat dipungkiri dan dilupakan begitu saja oleh sebagian besar penduduk negeri ini. Kiprahnya mampu melahirkan orang-orang besar layaknya Habibi. Namun sebagian mereka terlupakan, bagaimana kisah mereka di negeri ini? Kita akan dan terus ikut mewarnainya...Baca Kisahnya...!!!

ALT_IMG

Kata Mutiara

Kadang kita merasa tersesat, butuh suluh untuk menerangi jalan. Mungkin sebuah kata akan membuatmu merasa terang benderang di jalan yang kita anggap lurus (semoga). Di sini ada kata-kata mutiara yang insyaALLOH akan menggugah semangat kita... Lihat semua...!

ALT_IMG

Wrooterist

Ini lho kumpulan tulisanku..., jelek-jelek juga gak apa-apa, namanya sedang berlatih. Beri komentar yach...! Kalo perlu diponten, nanti di kasih reward lho... Baca yuk...!

Tampilkan postingan dengan label Motivatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivatif. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 Maret 2014

Be Smart Choicer...

0 komentar
P4K; Indonesia katanya negara Demokrasi. Padahal kata demokrasi ini memungkinkan yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah. Jika 1+1=2, bisa jadi salah jika ada banyak yang berpendapat 1+1=11. Suara seorang rakyat kecil yang rawan terkena Money Politic akan disejajarkan dengan suara seorang pofesor yang memilih dengan perenungan yang tinggi antara benar dan salah. Inilah inti demokrasi. Mereka yang tidak kenal agama akan mengatakan suara rakyat adalah suara tuhan. Rakyat yang mana? Rakyat yang berpikir? Atau rakyat yang rawan kena sogok?

Tapi sayang, kita tinggal di bumi Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus taat kepada pemimpin selama itu tidak merugikan kita dalam kehidupan dan keagamaan yang kita percaya. Kita harus cermat, teliti, dan cerdas. Menjadi SMART CHOICER adalah kunci jawabannya.

Meminjam istilah Smart Shoper, maka memilih juga harus cerdas. Jangan hanya gara-gara duit 50ribu, lantas hati kita buta. Semakin banyak Caleg atau Calon Pemimpin menyogok, sejatinya makin tidak layak dia dipilih.

Lima puluh ribu yang dia berikan, LIMA PULUH MILYAR dia akan dapatkan. Dengan perantara rakyat jujur yang dimanfaatkan karena kondisi kemiskinan hati dan finansial.

Falsafah MEMILIH adalah memberikan AMANAH dengan harapan yang diberikan amanah adalah ORANG BAIK, JUJUR, TAAT AGAMA, dan TIDAK MEMBELI SUARA. Kita memilih yang benar, dapat pahala. Kita memilih yang salah (berlandaskan hawa nafsu), kita dapat dosanya. Untuk itu kita harus benar-benar berusaha menjadi SMART CHOICER.

Oleh: Abu Annas
Continue reading →
Minggu, 19 Januari 2014

Menembus KORAN

0 komentar
Judul               : Menembus KORAN, Berani Menulis Artikel
                          (MENEMBUS KORAN EDISI II)
Penulis             : Bramma Aji Putra
Penerbit           : Easymedia, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, Mei 2012
Tebal               : x + 143 halaman
Harga              : Rp. 25.000,-

Menulis bagi sebagian orang mungkin sebuah aktivitas biasa. Atau mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya. Namun, bagaimana menulis menjadi sarana penuangan ide untuk dapat dinikmati oleh orang banyak? Tentu ide tersebut harus menembus media yang memang terbuka untuk khalayak ramai. Sayangnya untuk ke arah sana tidak segampang menulis surat untuk pacar. Tapi membutuhkan tips dan trik menembusnya.
Kenyataan inilah yang ada di masyarakat, baik dari kalangan awam maupun terdidik. Tidak banyak yang mengetahui tips dan trik untuk menembus koran. Pelbagai alasan dilontarkan, sehingga tulisan tidak tandas di tangan para redaktur. Yang lebih dahsyat lagi, tidak semua dosen, guru atau pun praktisi pendidikan mampu menuangkan ide di kepalanya dalam bentuk tulisan. Apalagi untuk menembus kokohnya benteng sebuah surat kabar.
Seseorang yang kaya akan ide akan merasa puas hanya dengan idenya diketahui banyak orang. Sebenarnya alasan kecil ini sudah cukup menjadi pemicu agar seorang produktif menuangkan gagasan briliannya ke sebuah koran. Baik lokal syukur-syukur mampu merangsak ke media nasional. Adalah Bramma Aji Putra, seorang anak muda kreatif, membeberkan bagaimana “Menembus KORAN, Berani Menulis Artikel”. Di usianya yang baru menginjak 27 tahun mampu menorehkan penanya di beberapa surat kabar.
Bukunya yang kedua ini menjadi jurus pamungkas yang patut diterapkan bagi Anda dan saya. Banyak komentar positif yang dilontarkan oleh pembaca buku pertama (MENEMBUS KORAN EDISI I) yang berjudul “Menembus  Koran, Cara Jitu Menulis Artikel Layak Jual”. Penyajian antar bab diawali dengan lead motivasi dari tokoh-tokoh kenamaan di bidang kepenulisan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Tidak ayal, tulisannya mampu menggetarkan dada pembaca dan selalu ingin menggerakkan tangan untuk segera menulis.
Disajikan sebuah motivasi menulis. Dikatakan bahwa menulis ibarat merangkai beberapa potong kain perca. Mudah, dan hasilnya gemilang. Ide-idenya banyak yang diawali dari pengumpulan artikel-artikel koran dan buku-buku kemudian dituangkan dalam tulisan. Akhirnya sebuah karya terpampang di koran. Tidak terbatas, meski kegiatan di pulau Jawa, namun artikel sanggup menembus pulau lain. Surat kabar lokal di daerah lain, itulah tepatnya. Herannya, padahal penulis tidak pernah melihat medianya. Itulah yang dipraktikkan oleh Bramma Aji Putra.
Salah satu lead yang saya sukai adalah, “Menulis, Satu-satunya Cara Agar Tetap Waras”. Lead ini mampu menghipnotis saya secara pribadi. Sangat layak buku ini menjadi koleksi Anda. Apalagi Anda adalah seorang pendidik, khususnya seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya kira buku ini menjadi wajib untuk dimiliki.

Tak ada gading yang tak retak. Istilah untuk ketidaksempurnaan sebuah karya. Buku ini juga masih ada yang kurang. Selalu saja diajarkan mudahnya menembus koran, sayang sekali tidak ada trik bagaimana agar artikel tidak ditolak. Baik dari segi pengiriman maupun tata tulisnya. Jika perlu tiap bab dalam buku ini juga ditambahkan karikatur yang cukup mewakili isi tulisan.₪
Continue reading →
Selasa, 14 Januari 2014

Albert Einstein

0 komentar

Albert Einstein, dilahirkan di Ulm, Kerajaan Wuettemberg, Prusia Raya (sekarang Jerman) pada tanggal 14 Maret 1879. Beliau terlahir sebagai putra sulung dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch. Ayahnya berprofesi sebagai pedagang kasur bulu. Pada tahun 1980 bisnis ayahnya mengalami kegagalan.

“Di tengah kesulitan selalu terdapat kesempatan. Orang yang tidak pernah berbuat salah adalah orang yang tidak pernah melakukan sesuatu.”
[Albert Einstein]

Keluarga Einstein pindah ke Munich. Di kota ini Hermann dan adiknya mendirikan perusahaan instalasi gas dan air.
Di waktu kecilnya Albert Einstein nampak terbelakang karena kemampuan bicaranya amat terlambat. Wataknya pendiam dan suka bermain seorang diri. Bulan November 1981 lahir adik perempuannya yang diberi nama Maja. Sampai usia tujuh tahun Albert Einstein suka marah dan melempar barang, termasuk kepada adiknya.
Minat dan kecintaannya pada bidang ilmu fisika muncul pada usia lima tahun. Ketika sedang terbaring lemah karena sakit, ayahnya menghadiahinya sebuah kompas. Albert kecil terpesona oleh keajaiban kompas tersebut, sehingga ia membulatkan tekadnya untuk membuka tabir misteri yang menyelimuti keagungan dan kebesaran alam.
Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya. Raportnya bagus dan ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.
Albert menghabiskan masa kuliahnya di ETH (Eidgenoessische Technische Hochscule). Pada usia 21 tahun Albert dinyatakan lulus. Setelah lulus, Albert berusaha melamar pekerjaan sebagai asisten dosen, tetapi ditolak. Akhirnya Albert mendapat pekerjaan sementara sebagai guru di SMA. Kemudian dia mendapat pekerjaan di kantor paten di kota Bern. Selama masa itu Albert tetap mengembangkan ilmu fisikanya.
Tahun 1905 adalah tahun penuh prestasi bagi Albert, karena pada tahun ini ia menghasilkan karya-karya yang cemerlang. Berikut adalah karya-karya tersebut:
Maret: paper tentang aplikasi ekipartisi pada peristiwa radiasi, tulisan ini merupakan pengantar hipotesa kuantum cahaya dengan berdasarkan pada statistik Boltzmann. Penjelasan efek fotolistrik pada paper inilah yang memberinya hadiah Nobel pada tahun 1922.
April: desertasi doktoralnya tentang penentuan baru ukuran-ukuran molekul. Einstein memperoleh gelar PhD-nya dari Universitas Zurich.
Mei: papernya tentang gerak Brown.
Juni: Papernya yang tersohor, yaitu tentang teori relativitas khusus, dimuat Annalen der Physik dengan judul Zur Elektrodynamik bewegter Kurper (Elektrodinamika benda bergerak).
September: kelanjutan papernya bulan Juni yang sampai pada kesimpulan rumus termahsyurnya: E = mc2, yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E), c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3.000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya.
Tahun 1909, Albert Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich. Tahun 1915, ia menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. Selain itu Albert juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu.
Pada tahun 1933, Einstein beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya –baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti– terganggu. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu. Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia.

Meskipun demikian, Albert sempat menangis pilu dalam hati karena karya besarnya –teori relativitas umum dan khusus– digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.

Sumber: Buku BTW#1
Continue reading →
Kamis, 01 Maret 2012

Tindakan Kita Sebatas Kita Memandang Dunia

0 komentar
p4k -- Bila Anda memandang diri Anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan Anda pun jadi kerdil.

Namun, bila Anda memandang diri Anda besar, dunia terlihat luas, Anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan Anda adalah cerimn bagaimana Anda melihat dunia. Sementara dunia Anda tak lebih luas dari pikiran Anda tentang Anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal, dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Malampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, duniapun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita. ⊛

sumber : Buku Motivasi Net halaman 6
Continue reading →
Minggu, 19 Februari 2012

Namanya Nasib Utomo

0 komentar
“Kalian alpa hari ini…!” terdengar suara lantang dari lantai 2. Beberapa anak terdiam, seorang guru tengah terlihat menudingkan tangannya ke arah dalam kelas. Anak-anak yang jumlahnya 4 orang itu segera masuk. Tak berapa lama kemudian, terlihat mereka sudah mengenakan tas dan sepatu, 2 orang lagi membawa helem dan jaket. Mereka pulang.

Pak Ali pun berpapasan dengan 4 siswa tadi saat melewati tangga. Mereka adalah anak-anak di bawah perwaliannya sendiri. Mereka hanya bisa cengar-cengir. Anak-anak itu rupanya di saat pelajaran matematika mereka bolos ke kantin. Begitu selesai mereka nyantai di anak tangga. Pak Ali begitu mengetahui bahwa anak-anak itu tidak ikut pelajaran, langsung menuju kelas dan menganjurkan guru yang ada di kelas untuk mencoret daftar hadir mereka. Pak Ali akan bertanggung jawab jika ada yang tidak terima.

Adalah Pak Nasib, seorang guru ‘sepuh’ yang mengajar matematika. Pak Ali masih ingat saat masih duduk di bangku SMP. Ada film serial yang menampilkan tokoh Detektif Jepang tua yang bernama Ohara. Begitulah kira-kira Pak Nasib. Tubuhnya yang tidak sebegitu tinggi, dengan kondisi yang sudah tua masih berkarya ikut mencerdaskan anak bangsa. Sikapnya sangat tegas. Tidak bisa ditawar. Nasionalismenya sangat tinggi. Wajar, dia pernah menjadi calon korps marinir di Jawa Timur. Hanya karena dia tinggal sendiri yang ada dalam keluarganya, akhirnya dia ditolak.

Perjumpaannya dengan Pak Ali hanya sebentar saja. Karena pada tahun pelajaran yang akan datang Pak Nasib sudah pensiun. Dia merasa sangat prihatin melihat kondisi siswa sekarang ini. Kemauan belajar sangat kurang, cenderung membuang-buang waktu untuk belajar. Tidak memiliki etika di hadapan guru. Tidak menghargai orang tuanya. Begitulah yang dirasakan oleh Pak Nasib.

Di dalam obrolannya tiap hari sekolah, Pak Nasib tidak pernah terdengar membicarakan prihal sertifikasi. Meskipun guru-guru senior lainnya asyik membicarakan itu. Mereka berbicara tentang rekening, jumlah uang yang mereka akan terima dan segala sesuatunya yang berbau deskriminasi. Pak Nasib tidak. Hal ini mengundang pertanyaan dalam diri Pak Ali.

“Pak Nasib sertifikasinya di sekolah mana Pak…?” tanya Pak Ali kepada Pak Nasib pada satu kesempatan.

“Saya tidak perlu sertifikasi, biar Gusti Allah yang menyertifikasi saya…,” jawab Pak Nasib lantang. Dia memiliki dasar yang sangat kuat. Nasionalismenya ikut berperan dalam mewarnai kehidupannya, hingga kesehariannya sebagai guru. Dia bisa dibilang ‘guru stok lama’. Guru yang lahir dan besar pada awal-awal Oemar Bakrie memilih profesi sebagai guru.

Dia, Pak Nasib, beranggapan bahwa sertifikasi hanya bagi-bagi uang negara yang tidak ada timbal baliknya dari para guru kepada negeri ini. Mereka, para guru, cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana sertifikasi. Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap mutu pendidikan. Bahkan yang terlihat sekarang ini justru kebalikannya, penurunan mutu. Bagaimana tanggung jawab dia di hadapan Gusti Allah kelak?

Pendidikan sekarang bukan pendidikan seperti yang dulu lagi. Dulu, negeri-negeri tetangga belajar kepada negeri ini. Mereka belajar tentang hal-hal yang benar yang kelak di negeri asalnya akan diterapkan. Anggapan mereka benar, ilmu yang dipelajari diambil yang baik-baik saja. Sementara yang buruk tidak dibawa ke negara mereka. Mereka belajar tantang bagaimana mencerdaskan bangsanya kelak. Mereka tidak belajar sifat rakus bangsa ini. Rakus kepada apa saja, melebihi rakusnya binatang carnivora.

Saking rakusnya bangsa ini, aspal saja dimakan. Bangku sekolah dimakan. Semen, pasir, kayu, seragam, alat praktik, kendaraan, bensin, kertas, spidol, penghapus, papan tulis dan segala sesuatu yang dijumpainya bisa masuk ke dalam perutnya. Bahkan perut keluarganya. Inilah yang tidak dipelajari oleh peserta didik dari negeri tetangga saat belajar kepada kita.

Semua pejabat kebal hukum. Keadilan hanya sebuah sandiwara di depan persidangan. Sidang-sidang kejahatan, terutama tipikor, hanya sebuah tontonan untuk mengelabuhi para pemirsa keadilan negeri ini. Jelas, sutradaranya sangat pintar dan licin. Penegak hukum seperti pasukan macan ompong. Jangankan menangkap rusa untuk merobek kulit dan dagingnya, menerkam celeng tertembak yang sudah siap saji saja nggak berani.

Sejenak Pak Ali mengiyakan. Pak Ali jadi teringat akan kucing yang tinggal di rumahnya. Diamatinya kucing yang dulunya, menurut cerita, sangat doyan dengan tikus. Tikus berseliweran saja tidak sanggup dia mengusirnya karena badan tikus sudah bermutasi menjadi ‘tikus got gendut’. Jangankan mengusirnya, justru tikusnya meledek kucing tersebut. Tikus got gendut adalah bukan sembarang tikus, tidak hanya got yang menjadi tempat bermainnya. Kantor, sekolah, gedung MPR, markas-markas penegak hukum, kantor-kantor agama dan dimana saja. Seperti Tom & Jerry saja.
Beginilah bangsa ini. Sama…! Hanya beda di penampilan saja. Satu penegak hukum yang satunya kucing, satu koruptor yang satunya tikus got. Tikus got cerdas tentunya.
Nasib memang, tidak hanya Nasib saja namanya. Guru kawakan ini bernama lengkap Nasib Utomo. Dia mengalami nasib yang hampir sama dengan Bu Carolina. Pak Nasib digeser oleh birokrasinya sendiri lantaran tidak terlalu memperdulikan upeti. Dia hanya memiliki prestasi. Dan itu dianggap tidak cukup untuk menduduki kepala sekolah di sekolah bergengsi. Sekolah yang bisa dijadikan keledai untuk diambil tenaga sukarelanya. Sekolah yang bisa dijadikan sapi perahan bagi birokrasi pendidikan.

Kegigihannya dalam mempertahankan idealisme seorang patriot dan seorang guru berjiwa nasionalisme sangat sesuai dengan namanya, NASIB UTOMO. Dia adalah guru bagi Pak Ali, seorang yang membuka cakrawala ‘kebenaran’ akan dunia pendidikan sekarang ini. Guru sejati yang tidak hanya menginginkan siswanya memiliki nilai matematika yang tinggi, tapi juga budi pekertinya. Buat apa nilai matematika tinggi kalau tidak berbudi pekerti. Kenang Pak Ali.

Kini Pak Nasib sudah pensiun, jarang perjumpaan seperti ini terjadi. Dimana lagi seorang guru seperti Pak Ali menemukan gurunya seperti Pak Nasib…?

Allah memanggilnya, Jum’at (10/02/2012). Adakah Pak Nasib yang lain…? ⊛
Continue reading →
Rabu, 18 Januari 2012

Kemarin Kalian Masih Bayi

0 komentar
p4k -- Mungkin di antara kita, sampeyan dan saya, pernah diaggap masih kecil oleh ortu kita. Bener gak...? Ortu kita sering, tanpa sadar, memperlakukan kita seperti kita masih balita. Mungkin bahasanya yang tepat adalah 'cerewet'. Kita merasa kurang sreg, di saat masih remaja tapi diperlakukan seperti anak-anak.


Perlu sampeyan ketahui, saya juga merasakan hal yang sama. Tapi, rasa itu baru saya pahami setelah saya menimang anak untuk pertama kalinya, kedua kalinya dan kesekian kalinya.

Ketika anak 'takkudang', saya berpikir, seperti ini dulu Bapak kepada saya. (terkenang)...Saat melihat permaisuri menyuapi anak-anak, saya berpikir, beginilah dulu Ibu terhadapku. Saat saya 'cerewet' sama anak, saya berpikir, begini ortu dulu.

Rasa itu baru ada. Kenapa? Kenapa ortu kita cerewet? Karena mereka melihat kita dari detik ke detik, seperti tidak ada perubahan. Kita dimandikan, kita disuapi, kita ajak main, kita digantikan popok, mereka memperhatikan. Bahkan dalam lelapnya tidur kita, mereka menatap kita. Tanpa kita sadar.

Saya melihat anak-anak tidak banyak mengalami perubahan. Mereka seperti baru kemarin dilahirkan. Mereka masih seperti bayi. Mereka akan seperti anak-anak bagi kita sepanjang masa.

Coba perhatikan anak-anak saat mereka tidur...! Mereka bertambah panjang. Dipan sudah mulai tidak muat lagi. Sempit. Mereka sudah mulai tumbuh-kembang.

"Kemarin kalian masih bayi..." Batin saya mengakui ketidaksadaran selama ini. Mereka sudah anak-anak. Sebentar lagi mereka remaja. Setelahnya mereka akan dewasa. Mereka pun akan merasakan seperti yang kita rasakan. Moga-moga tercapai wahai anak-anakku...
Continue reading →
Senin, 16 Januari 2012

Bagi-bagi Recehan

0 komentar
Sebuah cerita oleh : Nur Afif E.N.

p4k -- Sejuta tidak akan pernah ada jika kurang seribu, nggak ada seribu kalau nggak ada seratus. Logis, nilai yang ada adalah sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu jika sejuta kurang seribu. Dan sembilan ratus jika seribu kurang seratus. Beginilah pola pikir orang-orang kapitalis. Mereka menganggap segala sesuatunya layak dinilai dengan angka-angka nominal uang.

Pagi itu Pak Ali terlihat sumringah, sudut bibirnya terlihat masih sedikit mengembangkan senyum. Pasalnya, sahabat karibnya, Pak Johan baru saja curhat dengan dirinya. Pak Johan dan beberapa kawan guru lainnya baru saja selesai melaksanakan tugas sebagai panitia ujian semester di sekolahnya.

Pak Johan dan Pak Ali memang tidak hanya mengajar di satu sekolah. Pak Johan dan Pak Ali mengajar di sekolah negeri yang berbeda. Sore hari mereka sama-sama mengajar di sekolah swasta, disinilah mereka bertemu. Mereka bisa mengajar sore karena sekolah swasta tersebut menggunakan sistem 2 sift, mengingat jumlah siswanya yang begitu banyak.

Pak Ali sepertinya ingin berbagi cerita tentang kejadian yang dialami Pak Johan kepada kawan-kawan gurunya di sekolah negeri. Pak Johan bercerita bahwa kepanitiaan ujian semester tidak hanya dilaksanakan oleh ketua panitia dan anggotanya. Namun disana ada penanggung jawab. Si penanggung jawab merasa bahwa kegiatan di sekolah Pak Johan adalah tanggung jawabnya, semuanya.

Pada saat itu Pak Johan dipercaya untuk menjadi ketua panitia pelaksanaan ujian semester ganjil. Pada prosesnya, cukup sulit bagi Pak Johan untuk mengajukan sejumlah dana untuk kegiatan kali ini. Sekali maju tak cukup untuk meyakinkan sang penanggung jawab, yang merupakan atasan Pak Johan. Tiga kali maju baru mendapat approval. Padahal waktu pelaksanaan tinggal sepekan lagi.

Begitu anggaran di-acc, langsung Pak Johan selaku ketua panitia mendelegasikan tugas-tugas kepanitian kepada seluruh panitia lainnya. Mereka yang terdiri dari guru dan staf sekolah bergerak maju saling bahu membahu. Mengingat waktu yang sempit, maka panitia bergerak dan bekerja cukup ekstra. Pak Johan tinggal melakukan pemantauan dan pengarahan layaknya mandor bangunan.

Pak Johan beserta bendaharanya masih teringat dan akan selalu teringat pesan dari penanggung jawab kegiatan. “Tolong diirit-irit ya Pak, biar nanti ada sisanya. Saldo yang ada nanti kita bagi. Kita bagi dua. Untuk pihak pertama, yaitu buat saya selaku penanggung jawab dan wakil-wakil saya. Untuk pihak kedua, yaitu buat Pak Johan, bendahara dan sekretaris yang sudah bekerja keras untuk terlaksananya kegiatan ujian ini…!” begitu pesan dari penanggung jawab. Pak Johan yang jiwanya sangat menentang korupsi dan segala bentuknya sangat menyesalkan hal ini. Namun, apa mau dikata, dia hanya seorang bawahan.

Pak Johan dan Pak Ali memiliki karakter yang sama, sangat anti terhadap korupsi. Apalagi pekerjaan mereka adalah sebagai pendidik. Meskipun mereka tidak bertugas di tempat yang sama, namun ada kemiripan kondisi masyarakat di sekitar sekolah tempat mereka bertugas. Masyarakatnya dalam kondisi miskin. SPP kadang tertunda dengan alasan belum panen, anak-anak didiknya untuk uang jajan saja kadang tidak ada. Sebagian ikut numpang kawannya untuk sampai ke sekolah. Pak Johan hanya bisa menahan sedih.

***
Apa yang sudah direncanakan kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pak Johan sebagai ketua pelaksana didampingi seorang guru yang memang memiliki pengalaman di bidang pendidikan. Lain dengan Pak Johan, meskipun dia memiliki leadership untuk masalah pengalaman masih kalah dengan Pak Adjit untuk masalah administrasi. Pak Adjit adalah guru yang dipilih oleh Pak Johan untuk mendampinginya sebagai pelaksana ujian semester. Semua dipersiapkan oleh Pak Adjit dalam waktu 2 pekan. Luar biasa kerjanya, two tumbs buat Pak Adjit.

Memang betul, rencana tidak selamanya akan akur dengan harapan. Panitia pun sudah mempersiapkan semacam penangkalnya atau antisipasinya. Menurut Pak Johan, pada hari pertama saja ada guru yang mendapat jadwal mengawas ternyata tidak bisa melaksanakan tugasnya. Mereka yang tidak hadir digantikan oleh panitia, dengan catatan honor mengawasnya diserahkan kepada panitia yang menggantikan tadi. Panitia yang mengawas tadi menyerahkan honor mengawasnya kepada bendahara panitia untuk dibagi rata kepada seluruh panitia. Hal ini mengingat panitia juga mendapat honor kepanitiaan tiap hadirnya, sehingga tidak dobel menerima honor hariannya. Kejadian ini selalu ada hingga ujian selesai. Panitia pun mendapat tambahan ‘ghonimah’ untuk dibagi rata sesama panitia.

Jika memang ini keluar dari keringat panitia, sah-sah saja untuk dibagi. Itulah yang diungkap oleh Pak Johan. Komitmen ini ditularkan Pak Johan kepada sekretaris dan bendaharanya. Mereka pun sependapat untuk tidak ‘memakan’ hasil diluar dari insentip yang sudah disepakati.

Semua guru pengawas ujian sudah mendapatkan haknya, begitu juga guru mata pelajaran yang lain sebagai honor naskah dan honor koreksi. Bagi panitia, masih harus menunggu untuk mendapatkan hak insentip kepanitiaan. Tentu harus menunggu tuntasnya pelaksanaan ujian semester hingga nilai semester sampai di tangan wali kelas.

Sudah menjadi tugasnya, bendahara harus merekap semua pemasukan dan pengeluaran anggaran. Pak Johan meminta kepada bendarharanya agar terjadi keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Pokoknya harus nol.

Menurut perhitungan bendahara, semua sudah didistirbusikan dengan tepat, semua dapat dipertanggungjawabkan. Belum termasuk anggaran cadangan yang belum dicairkan. Uang sisa yang ada hanya berasal dari kembalian konsumsi sebesar 25 ribu rupiah. Dan ada lagi pemasukan untuk panitia yang sumbernya dari panitia yang mengawas menggantikan guru pengawas yang tidak hadir. Jumlahnya 120 ribu rupiah.

Semua uang sisa harus dibagi kepada panitia. Sudah saatnya laporan kepada penanggung jawab. Semua berkas sudah dipersiapkan oleh Pak Adjit selaku sekretaris panitia.

Pertemuan dalam rangka laporan kegiatan dilangsungkan di sebuah ruangan rahasia. Untuk dilakukan di rumah makan tidak mungkin, mengingat tidak adanya rumah makan terdekat, juga tidak adanya anggaran. Yang pertama dilaporkan adalah kondisi keseimbangan neraca antara pemasukan dan pengeluaran.

Pak Johan, selaku ketua penitia, menanyakan perihal anggaran cadangan yang belum cair. Namun, oleh penanggung jawab dikatakan secara tidak langsung bahwa anggaran itu akan dicairkan dengan syarat anggaran itu harus dibagi-bagi kepada pihak pertama dan pihak kedua.

Begitu kira-kira yang ditangkap oleh Pak Johan dan bendaharanya. Begitu juga uang saldo dari konsumsi dan saldo pengawas, harus dibagi kepada kedua pihak. Tiba-tiba Pak Johan menolak, jika saldo pengawas hanya dibagi kepada mereka, pihak pertama dan kedua. Pasalnya yang mengawas adalah guru yang tidak termasuk kedua pihak. Guru yang menggantikan pengawas adalah panitia selain ketua, sekretaris dan bendarhara. Saldo itu adalah keringat para panitia yang menggantikan guru pengawas yang tidak hadir, Pak Johan berargumen. Pada awalnya penanggung jawab tidak menyetujuinya. Penanggung jawab seperti tidak dapat menerima.

Pihak panitia bersikukuh akan membagi saldo pengawas kepada seluruh panitia sebanyak 20 orang. Jadi bisa dibayangkan, 120 ribu rupiah dibagi 20 orang. Masing-masing panitia hanya akan mendapatkan 6 ribu rupiah. Nggak apalah, yang penting halal. Meskipun berat hati, penanggung jawab harus mau mengikuti apa yang disampaikan Pak Johan.

Untuk saldo konsumsi dan anggaran cadangan, Pak Johan bersama sekretarisnya dan bendaharanya sudah berkomitmen untuk tidak mengambilnya. Itu adalah uang siswa. Kalaupun mereka terpaksa harus tanda tangan bukti tanda terima, mereka akan menandatanganinya. Itupun uangnya akan langsung disalurkan kepada yang berhak. Atau disumbangkan ke dana sosial.

Pak Johan dan bendaharanya hanya mampu mengurut dada. Menurut bendahara panitia, kok ada orang yang tega-teganya memakan uang siswa. Padahal mereka orang-orang nggak punya. Duh Gusti…! Lagi-lagi terbukti, sehebat apapun bangkai yang dibungkus tetap saja akan mencemarkan bau tak sedap. Pak Johan, sekretarisnya dan bendaharanya berhasil ‘mengendus’ bau tak sedap itu secara langsung.

Pak Johan, Pak Adjit dan bendahara adalah guru-guru muda. Mereka awalnya hanya mendengar cerita dari panitia-panitia sebelumnya. Mereka akhirnya tahu birokrasi dalam sekolah yang mereka juga berada di dalamnya.

Pak Adjit, dalam hal ini sebagai skertaris panitia sudah membuat bukti serah terima. Anggaran cadangan akan segera dapat dicairkan dengan syarat sesuai permintaan penanggung jawab. Saldo anggaran yang terkumpul adalah 525 ribu rupiah, termasuk saldo konsumsi. Di tengah perjalanan, penanggung jawab juga mengusulkan agar bendahara sekolah juga mendapatkan bagian dan dimasukkan ke pihak pertama, diluar panitia murni. Dana saldo dibagikan kepada 8 orang. Yaitu pihak pertama ada 5 orang, yang terdiri dari penanggung jawab, wakilnya 3 orang dan seorang bendahara sekolah. Pihak kedua ada 3 orang, yang terdiri dari ketua panitia, sekretaris dan bendahara.

Pembagiannya harus proporsional. Lain dengan pembagian saldo pengawas yang harus dipukul rata. Untuk saldo anggaran cadangan dan konsumsi harus dibedakan. Porsi terbesar harus penanggung jawab. Yang lainnya mengikuti. Yang jelas porsi terbesar harus penanggung jawab, tidak boleh ketua panitianya. Meskipun yang berpeluh keringat adalah ketua panitianya. Pokoknya harus seperti itu, titik.

Anggaran cadangan akhirnya cair. Kegiatan bagi-bagi recehan berlangsung di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup aman dan tersembunyi. Tidak dapat diendus oleh pihak berwajib apalagi orang tua siswa. Apalagi orang tua siswa yang ‘kere-kere’. Tidak dapat ditembus pandang oleh para malaikat apalagi guru-guru yang bermental kerdil.
Pak Johan dengan senang hati menandatangani bukti penerimaan insentip 300 ribu rupiah sebagai ketua panitia. Ditambah pemerataan saldo pengawas, lumayan 6 ribu rupiah. Halal. Begitu juga sekretaris dan bendaharanya, mereka tampak senang menerima hasil jerih payahnya selama 3 pekan.

Untuk saldo anggaran cadangan dan konsumsi, Pak Johan menandatanganinya sambil memejamkan mata, rencananya. Karena takut salah menerakan tanda tangan, akhirnya dia ‘melek’ juga. Takut kalau-kalau salah meletakkan tanda tangan. Jangan sampai mengisi tanda tangan di tempat tanda tangan penanggung jawab.

Pak Johan, Pad Adjit dan bendahara panitia lega. Kegiatan sudah selesai. Laporan beres. Pengalaman spektakuler kali ini. Pengalaman bagi-bagi recehan. Ternyata orang yang kesehariannya naik kendaraan mahal pun masih ‘doyan’ recehan. Tanpa recehan uang gede pun nggak bakalan ada. Mungkin itulah yang ada dalam pikirannya. Atau dia berpikir, beginilah cara kaya yang sebenarnya.

“Tenang Pak Adjit dan bendahara, saya siap bertanggung jawab atas kepemimpinan saya,” seru Pak Johan. “Apalagi ada yang memback-up kegiatan, kan ada penanggung jawab. Dia juga wajib mempertanggung jawabkan uang recehan yang dia terima.” Pak Johan merasa lega…!

Pak Ali pun bangga dengan kawannya tersebut. Komitmennya untuk membenci korupsi dan segala bentuknya masih kuat terlihat. Semoga semakin banyak guru seperti Pak Johan. Namun begitu, Pak Ali kadang masih tersenyum sendirian saat mengingat kasus yang dialami oleh Pak Johan. Buaya kok dikadalin…! ⊛
Continue reading →
Jumat, 13 Januari 2012

Kiat Menghadapi UN; 'Anti Nyontek'

0 komentar
p4k -- Bandarlampung; Sebentar lagi Ujian Nasional - UN - akan diselenggarakan untuk kesekian kali. Seperti yang sudah-sudah, kehabatan pemerintah untuk mengantisipasi kebocoran UN ternyata selalu gagal. Namun, pemerintah seolah-olah tidak mengetahuinya. Pesta 'nyontek' terjadi dimana-mana, dengan dukungan Tim Sukses sekolah masing-masing.

Siswa sudah tidak ragu-ragu lagi untuk mencontek, sementara guru-guru pengawas hanya bekerja sebagai fasilitator. Di balik hiruk-pikuknya pesta 'nyontek' masih ada segelintir siswa/siswi yang didukung oleh keluarganya untuk tidak melakukan perbuatan keji yang terkesan direstui. Mereka tidak mengincar besarnya angka hasil UN. Mereka PeDe dalam menghadapinya. Kenapa? Karena mereka siap.

Berikut ini adalah kiat-kiat dalam menghadapi dan melaksanakan UN:

1. Persiapan belajar jauh-jauh hari;
2. Investasi dengan membeli buku-buku soal UN dan simulasinya;
3. Kerjakan soal secara terus-menerus, minimal 2 jam sehari;
4. Tidak mudah percaya dengan 'bocoran';
5. Jangan terlalu mengandalkan 'jam tambahan' dari sekolah;
6. Optimis dan tidak tergantung dengan orang lain, termasuk guru;
7. Jangan lupa berdoa.

Begitulah pengalaman pribadi saya dalam menghadapi ujian (EBTA-EBTANAS) dari SD hingga SMU. Semua lancar...
Continue reading →

Labels