Ria Jenaka
Sejenak melupakan kepenatan saat menghadapi hari-hari bersama murid-murid kesayangan. Joke perlu, Guyon perlu, yang penting bisa mengobati stress. Asal tidak kelewatan dalam becanda insyaAllah tidak akan menjadikan kita lupa akan tugas utama kita..., tersenyumlah kawan! Yuk kita baca...!
Pendidikan
Pendidikan merupakan hak anak-anak kita, dan kewajiban kita memberikan kepada mereka. Ternyata pendidikan yang terbaik dimulai disaat mereka (anak-anak kita) masih dalam kandungan ibunya. Perlu diketahui, bahwa disaat mereka berumur 120 hari dalam kandungan, mereka sudah mampu merespon apa yang kita rasakan, kita perbuat dan segala sesuatu di luar diri mereka. Pemberian nama juga perlu...Baca Lengkap...!
Guru Oemar Bakrie
Kita semua tahu, dedikasinya tidak dapat dipungkiri dan dilupakan begitu saja oleh sebagian besar penduduk negeri ini. Kiprahnya mampu melahirkan orang-orang besar layaknya Habibi. Namun sebagian mereka terlupakan, bagaimana kisah mereka di negeri ini? Kita akan dan terus ikut mewarnainya...Baca Kisahnya...!!!
Kata Mutiara
Kadang kita merasa tersesat, butuh suluh untuk menerangi jalan. Mungkin sebuah kata akan membuatmu merasa terang benderang di jalan yang kita anggap lurus (semoga). Di sini ada kata-kata mutiara yang insyaALLOH akan menggugah semangat kita... Lihat semua...!
Wrooterist
Ini lho kumpulan tulisanku..., jelek-jelek juga gak apa-apa, namanya sedang berlatih. Beri komentar yach...! Kalo perlu diponten, nanti di kasih reward lho... Baca yuk...!
Menembus KORAN
MENGEMAS MATERI SERIUS DENGAN GUYONAN
Hari ini aku masuk jam pertama dari 6 jam seperti biasanya. Sebuah buku bacaan aku tenteng ke dalam kelas. GURU GOKIL MURID UNYU, begitu judul buku ini. Ditulis oleh seorang guru senior dari SMA Kolese Jhon De Britto, J. Sumardiata.
Jadwal hari ini adalah latihan Merangkai Lampu Kepala dan Lampu Tanda Belok. Sebagian mengukur komponen Motor Starter. Sejenak aku ingin menyampaikan sejengkal dari bagian buku yang aku bawa. Anak-anak sejenak memasang telinga.Sub BABnya demikian, MENGEMAS MATERI SERIUS DENGAN GUYONAN, halaman 38-39 (303).
"Apa perbedaan sekolah dengan kehidupan? Di sekolah, sesudah belajar kamu diberi soal ujian. Dalam kehidupan kamu diberi ujian yang mendidikmu dengan pembelajaran." --Susan Shumsky
"Kang, Iteung telat sebulan. Kita bakal punya bayi," ujar si Iteung kepada Kabayan, suaminya. "Tapi, jangan bilang-bilang orang lain dulu, yah, Kang, takut tidak jadi. Nanti malah malu-maluin."
"Siap, Agan," kata si Kabayan.
Besoknya tukang tagih dari PLN ketuk-ketuk pintu. Begitu dibuka, tukang tagih ngomong, "Bu, Ibu sudah telat sebulan."
"Dari mana Bapak tahu?" tanya si Iteung.
"Kan ini ada catatannya di PLN."
"Ha? Masa sampai dicatat PLN?" si Iteung tidak habis pikir.
Besoknya Si Kabayan melabrak kantor PLN. "Bagaimana mungkin PLN sampai bisa tahu istri saya telat sebulan?"
"Sabar, Pak. Kalau Bapak mau catatannya dihapus, Bapak tinggal bayar tagihannya."
"Kalau saya tidak mau bayar?" tanya si Kabayan.
"Punya Bapak akan kami putusin," jawab petugas PLN.
"Gila. Punya saya mau diputusin? Kalo istri saya di rumah lagi butuh, terus mau pakai apa?"
Petugas PLN menjawab, "Ya terpaksa pakai lilin!"
Kabayan menyemburkan serapah, "Dasar PLN gila!"
Petugas PLN tidak mau kalah, "Bapak lebih tidak waras. Gitu saja ditanyakan ke PLN."
--~!@#$%^&*()_+<>?:"--
Anak-anak sontak ketawa. Pelajaran dilanjutkan. Satu orang menjadi ajudan guru, satu orang menjadi asisten guru. Proses selesai hingga jam ke-6. Tanpa ada kucuran darah dan tulang-tulang yang patah.
Ternyata belajar Kelistrikan Otomotif itu mudah...
Rabu, 15 Januari 2014
Pagi baru menjelang. Rencananya hari ini ada kegiatan Kunjugan Industri ke PT. Coca Cola Amatil Indonesia wilayah Sumatra Bagian Selatan. Semua panitia dan guru pendamping sudah aku SMS-in. Intinya mereka harus sudah kumpul dan mulai berangkat jam 7 pagi. Soalnya di lokasi sudah ditunggu jam 9. Maklum, jarak yang lumayan jauh dari sekolah ke industri. Dari SMK N Sukoharjo - Pringsewu ke Tanjungbintang - Lampung Selatan. Perjalanan kira-kira akan makan waktu 3 jam.
Karena lokasi rumahku yang jauh dari sekolah, 2 jam perjalanan pakai angkot/bis, maka aku putuskan untuk menunggu di terminal penitipan motor di Kemiling. Sudahlah, sudah jam 8 belum ada kabar sudah berangkat apa belum. Mendingan datang duluan daripada ditinggalin.
Benar saja, sesampainya di terminal ada kabar bahwa bis sudah meluncur jam 8.15-an. Berarti aku masih ada waktu 1 jam lagi untuk menunggu bis. Beberapa buku sudah aku siapin untuk menemaniku dalam kesendirian menunggu datangnya 'pesawat' sewaan dengan sopir ber-SIM B1. Ada buku mbah Asma, buku mbak Sofie, dan buku baru tulisan dari J. Sumardianta. Gila orang-orang ini, mereka bisa eksis dengan hanya sebuah, dua buah atau lebih buku karya mereka. Nggak perlu jadi presiden untuk hebat. Kecuali Butet Kertarajasa yang banyak memiliki karya yang salah satu julukannya adalah Presiden Dongeng.
Terlihat sosok gelandangan. Aku tawarkan Pagoda Pastiles kepadanya. Awalnya nolak, tapi mau juga akhirnya. Begitu tangannya nyelonong, karuan saja aku tarik, Tangannya yang kotor jangan sampai masuk ke dalam kaleng permen menyengar mulut itu. Bukannya bermaksud menghina, tapi memang tangannya kotor. Takut kalau-kalau kencing nggak cebok, hih.... Akhirnya aku ambilkan saja. Aneh pikirku, makan permen kayak makan krupuk saja. Dikunyah, 'klethak... klethuk...', bener-bener ni bocah. Umurannya sekitar 18-an. Tingginya kira-kira 150-an.
"Mas..., sttstt..." aku pikir suara apa. Anak gelandangan tadi menempelkan jari telunjuk dan jari tengah ke bibirnya. O... anak ini rupanya yang manggil-manggil. Sepertinya dia minta rokok. Aku mendadahkan tangan ringan, "nggak ngerokok..." sahutku. Seandainya dia tahu kalau pria sejati tidak ngerokok, tapi di........?
Aku jadi berpikir, orang kurang waras terus gelandangan pula, kok nggak lupa ya sama rokok, padahal dia lupa sama dirinya sendiri, keluarganya, ke'malu'annya dan segala sesuatu yang dia lupakan. Duh Gusti...!
***
Perjalanan di dalam bis seperti diskotik, seperti tempat karaoke. Hingar bingar dengan suara nyanyian 'nggak bekelas'. Sopinya nggak tahu kalau penumpanggnya semua kaum terpelajar. Sungguh, musik mencerminkan siapa pendengarnya. Artinya kualitas pendengar akan sesuai dengan kualitas yang didengarkan.
Gerakan bis makin kencang. Seperti tak kenal dengan polantas. Hingar bingar tak mau berhenti. Udahlah, yang waras ngalah. Tikungan demi tikungan kami lewati. Sambil diiringai terjangan hujan dan belaian gerimis. Sesekali diterpa lembunya sapaan sang bayu. Tiba-tiba...,
"Huek..., huek...." Sepotong anak manusia mengeluarkan beberapa ons isi perutnya. Untung dia tadi nggak sarapan kodok. Kerudung satu-satunya yang dibawa basah oleh muntahan. Beruntung anak ini, pasalnya di depannya duduk Bu Lyna yang ternyata membawa kerudung candangan.
Goncongan makin keras. Penumpang seperti dilempar ke kanan dan ke kiri. Jalan rusak dibiarkan saja. Konflik kepentingan tidak membawa kebaikan untuk warga negara. Khususnya masyarakat Lampung. Pemerintah Kota bilang begini. Pemerintah Provinsi bilang begitu. Aku menilai, bahwa kedua pemerintah daerah hanya bermanis-manis di depan rakyat. Padahal mereka seharusnya membela kepentingan rakyat. Termasuk salah satunya adalah perbaikan jalan. Cacat sudah keharmonisan yang diagung-agungkan dalam kampanye-kampanye mereka.... Huh..., kecewa aku.
Selama di perjalanan, terlihat dua buah truk terjerembab ke dalam kubangan air. Nggak tanggung-tanggung lebarnya ngangaan jalan aspal yang rusak. Mungkin kalau ada pembudidaya ikan, mereka akan mengembangkannya menjadi tambak-tambak ikan lele. Kemana pemerintah selama ini. Buta, kan punya kuping. Tuli, kan punya otak. Mikir...., capek dech..., buat ngganti modal 'nyalon' saja masih keteter.
Udahlah, mendingan konsen ke Coca Cola saja.
***
Acara setahap-demi setahap. Guide-nya ternyata nggak bisa masuk kerja hari itu. Katanya abis opname. Semoga lekas sembuk mbak Pipit.
Pak Joko mewakili. Menerangkan kandungan Coca Cola, cara pembuatan, cara pengisian, cara pendistribusian, cara pengolahan air limbah, hingga selesai. Satu hal yang mencerminkan pabrik Coca Cola memang berstandar Internasional adalah diterpakannya ISO. Juga pengolahan limbah yang sesuai dengan peraturan pemerintah. Lain sekali dengan pengusaha-pengusaha lokal, cuek bebek. Sering kita jumpai limbah sudah menghiasi sungai-sungai, menumpuk, memupuk enceng gondok untuk tumbuh subur. Merekalah orang-orang yang katanya mengaku sebagai anak bangsa. Atau anak b-a-n-g-s-a-t? Yang rela menggerus dan merusak alam rumah tinggalnya sendiri. Hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, anak, dan cucunya yang sama-sama kurang akal. Mereka berpikir akan aman dengan kekayaan mereka, dunia milik mereka. Mereka berpikir akan aman dari pertanyaan Malaikat Penjaga Kubur. mungkin mereka akan menyogokknya...! Naudzu billah.
Inilah potret tarik menarik dalam perpolitikan negeri ini. Mereka busuk meski tampak alim. Mereka kasar meski tampak santun. Mereka rakus meski tampak bersahaja. Duh Gusti, jangan Kau azab negeri ini gara-gara ulah 'mereka'...!
Hujan terus berlanjut, meski sudah puas minum Coca Cola dan Frestea tetap saja hujan nggak mau berhenti. Ada satu kalimat dalam papan depan ruang pertemuan. NO CHANGE NO PROGRESS, 'Tiada Kemajuan Tanpa Perubahan'.
Siiip, Mantaaabz, Lanjuttt, biarkan tikus-tikus kantor negeri ini terjebak oleh jebakan tikus yang mereka buat sendiri.
Albert Einstein
Trio Bujang Ngelakar
Gara-gara Sofie Beatrix
Ahad, 12 Januari 2014
Rasa capek nggak menyurutkanku untuk kembali memainkan tuts pada keyboard 'Logitech' di kamar kerjaku. Entah setan mana yang merasuki pikiranku saat melihat beberapa tumpukan buku di atas dipan mbak Awa. Ada keinginan untuk mengulang kembali beberapa bacaan yang sudah lewat jauh setahun yang lalu. Tiga buku turun ke atas kasur. KITAB WRITER PRENEUR, tulisan Sofie Beatrix kembali menusuk alam pikiranku. Aku membelinya tanpa sengaja pada akhir-akhir tahun 2012. Memang sudah cukup lama terlupakan. Pasalnya doi 'Sofie Beatrix' pernah menolak buku yang aku kirim ke Asa Media. Nggak apa-apa lah, mungkin ada yang tertinggal dari bacaanku dulu.
Malam telah melewati jam 00.00, sudah pagi rupanya. Mata masih sulit dipejamkan, padalah besok harus berangkat kerja. Harus ikut upacara bendera sebagai wujud syukur atas nikmatnya merdeka (meski baru merdeka secara fisik). Kita kecil bergambar kepala-kepala siapa, nggak tahu. Terlupakan karena ada beberapa buku yang baru yang belum dibuka dari segel plastiknya. Bahkan capnya pun masih jelas terlihat logo tempat aku membeli buku. A.S. Laksana, wooow..., keren manusia yang satu ini. Sejenak setelah membaca sinopsis dan biodata penulisnya. Ini harus dipaksa tidur. Di luar dingin, maklum hujan sepekan ini begitu memanjakan insan-insan yang memang sudah manja sejak lahir. Tidur dulu ah....,
"BISMIKA ALLAHUMMA AHYA, WA BISMIKA AMUUT"
***
Senin, 13 Januari 2014
Dingin AC bus kian menggigit tulang. Untung saja ada selembar jaket parasut melapisi baju kebesaran PNS-ku. Duduk di samping kanan seorang kakek berpenampilan 'Jaula', nggak tahu siapa namanya. Jenggotnya panjang, warna kulit muka kehitaman, peci melekat di kepalanya, dan sepasang kaca mata nangkring di atas hidungnya yang nggak terlalu mancung.
Di depan duduk seorang wanita cantik, muda, berjilbab. Sesekali mata kami bertemu dalam suasana dingin, lebih dingin dari AC bus pariwisata jurusan Kota Agung. O yaa..., baru ingat, ada sepotong Kitab Penulis di ransel bagian depan. Pikirku, daripada lihat-lihat 'perempuan lain' mendingan lihatin tulisan Sofie Beatrix.
Sebenarnya kitab ini sudah khatam aku baca. Sebagiannya memang menyemangati dan memaksa untuk menulis. Kali ini terbukti, apa yang dikatakan oleh para 'alim. Bahwa untuk paham dengan suatu ilmu harus mengulangnya. Hati saya sangat 'greng' untuk segera mencoba menulis. Ini hasilnya. Semangatnya beda dengan bacaanku tahun lalu. Nggak peduli dengan lantulan lagu-lagu Rinto Harahap yang menemani perjalanku pagi itu. Sengaja sopir memutarnya, mungkin dia punya kenangan dengan lagu-lagu bokapnya mbak Caludia ini. Bodo' lah....
Sampai di BAB 4. Ada sebuah tantangan di halaman 24 untuk membuat sebuah DIARY. Padahal seumur-umur nggak mau atau males untuk buat sebuah cerita hidup. Aku pikir nggak apa-apa, itung-itung lagi latihan. Di luar dugaan, aku kembali membaca buku dari orang yang pernah menolak bukuku. Pasti ada alasan, hingga akhirnya aku mencoba untuk men-diary-kan kehidupanku.
Gara-gara Sofie Beatrix tulisan ini aku mulai. Diary ini aku mulai. Awas, suatu saat akan aku tuntut Sofie Beatrix buat nerbitin buku-bukuku. Tunggu waktunya....
Ya, Alloh, Gusti Pangeranku...! Jangan jadikan siapapun menjadi alasanku untuk berbuat baik selain karena-Mu.
Pengecekan AC Mobil
Selain dari Vidio yang saya tampilkan, sahabat OTTO-Mania juga dapat mendownloadnya dengan mengklik tombol unduh di bawah ini:
Oke, saya tinggal sebentar, selamat menikmati...
Buku BUKTI KEBENARAN AL QURAN
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,
Amerika Serikat.
Ujian Nasional dan Pertaruhan Aqidah
-- pernah diterbitkan di Radar Lampung Online --
Ujian nasional atau yang kita kenal dengan istilah UN meninggalkan banyak jejak dan warna. Pada 2012, pemerintah telah berupaya sekuat tenaga untuk mengantisipasi isu bocornya soal. Baik dari tingkat SMA/SMK, SMP, maupun SD sederajat. Tentu dengan harapan kualitas yang dicapai akan lebih baik dari tahun-tahun yang sudah lewat.
PAKET soal yang digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar siswa disediakan dalam jumlah 5 paket. Hal ini mengharuskan peserta didik cukup ekstra jika harus bermain curang dengan menyiapkan contekan jawaban. Namun, pemerintah tidak kalah akal untuk menyiasati hal ini. Dibuatlah paket soal dengan pembagian yang berbeda untuk setiap harinya. Jadi peserta ujian tidak akan mendapatkan paket soal yang sama selama ujian berlangsung. Jangankan siswa peserta ujian, pengawas pun sedikit mengalami kesulitan di awal-awal pelaksanaan. Hal ini bukan berarti tidak terjadi kebocoran. Meski pemerintah menjamin tidak ada kebocoran, tetap saja para oknum yang memang sudah lama bermain tidak begitu banyak menemukan kendala.
Kebocoran jawaban yang beredar di kalangan siswa tidak dapat dipastikan kebenarannya. Sehingga, siswa yang cerdas kadang tidak dapat begitu saja menggunakannya. Kalau kebocoran itu berasal dari soal yang bocor dan dijawab tim tertentu berarti pemerintah kecolongan untuk kali kesekiannya semenjak digelar UN.
Sejenak kita tengok beberapa kejadian pra UN. Ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional terlihat di sana-sini. Sekolah-sekolah penyelenggara mempersiapkan calon peserta ujian dengan menambah jam-jam belajar, atau dikenal dengan bimbel sekolah. Dengan penambahan ini, diharapkan dapat mengantisipasi jumlah paket soal yang akan diujikan nanti. Kondisi di lapangan siswa tidak begitu tertarik dengan upaya dari sekolah, bahkan sebagian sekolah swasta sepi peserta jam tambahan.
Tidak dapat ditutup-tutupi, apalagi jika dikaitkan dengan jumlah paket yang akan diujikan. Meskipun pada dasarnya materinya sama, tetap saja meninggalkan momok yang membekas pada benak siswa. Mereka berupaya mencari solusi dengan mengikuti bimbel-bimbel di luar sekolah. Ini kaitannya dengan biaya, bagaimana jika siswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah? Tentu menjadi kendala lain perihal keuangan.
Seperti disiarkan pada salah satu TV swasta, berbagai persiapan dilakukan untuk menghadapi hajatan pemerintah ini. Terlihat di sana, beberapa sekolah mengadakan kegiatan doa bersama yang intinya meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan kemudahan dalam menempuh ujian. Sekelompok anak duduk mengelilingi seorang kiai yang sedang memimpin doa, di depannya terlihat berbotol-botol air yang digunakan sebagai media. Setelah selesai, pensil para siswa dikumpulkan untuk ditulis ’’rajah’’.
Pada kesempatan yang lain, juga disiarkan sekelompok anak sekolah berziarah kubur. Mereka mendatangi kuburan yang sudah ‘dianggap keramat’ oleh sebagian orang awam. Mereka berdoa di atasnya. Mereka lupa bahwa di rumah mereka ada yang lebih keramat, yaitu orang tua.
Anak-anak kurang paham akan aqidah yang mereka yakini. Mereka bisa saja terjerumus ke dalam kesyirikan. Bukankah batas antara syirik dan iman sangat tipis. Bahkan bisa digambarkan seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada waktu malam gelap gulita.
Bagi masyarakat dengan kultur tertentu, hal ini sudah menjadi kebiasaan yang sudah mendarah daging. Sehingga dianggap lumrah, padahal aqidah yang menjadi taruhannya.
Upaya yang dilakukan oleh siswa untuk memperoleh nilai lulus UN dengan cara yang kurang bermartabat (baca: menyontek) bisa saja diakibatkan oleh ketakutan. Ketakutan ini diakibatkan oleh ketidaksiapan siswa dalam ujian.
Menuruta Prof. Arief Rahman (Pakar Pendidikan), pendidikan di Indonesia cenderung dipaksakan. Hal ini memang terlihat jelas, banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai menyebabkan siswa kurang fokus. Selain dari jumlah pelajaran, tidak jarang siswa yang tidak senang dengan pelajaran tertentu cenderung dipaksakan untuk mempelajarinya.
Di sisi lain, hingga saat ini hampir tidak ada siswa yang tahu, alasan apa yang mendasari harus mempelajari suatu pelajaran tertentu. Sebagai contoh, untuk apa mempelajari Matematika? Jika kita hubungkan dengan etika, alasan mempelajari Matematika adalah untuk mencegah penipuan dalam hubungan bisnis. Untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam perdagangan. Begitu menurut Prof. Arief Rahman.
Perlu direnungkan apa yang disampaikan oleh guru dari Finlandia. Mereka menyampaikan bahwa ujian (semisal UN) hanya akan mengajarkan kepada anak didik tentang bagaimana menjawab soal. Jika ini terjadi maka pendidikan akan kehilangan substansinya. Menjamurnya lembaga bimbingan belajar cenderung ke arah bagaimana menyelesaikan suatu soal dengan cepat. Pada akhirnya siswa tidak memahami materi pelajaran yang disampaikan.
Jika sebuah lembaga pendidikan berorientasi pada hasil (baca: nilai ujian), lalu apa bedanya dengan lembaga bimbingan belajar. Peserta didik tidak perlu belajar selama 3 tahun hanya untuk bisa menjawab soal-soal pada ujian nasional. Mereka cukup belajar intensif selama kurang lebih satu semester. Ditinjau secara ekonomi akan lebih menguntungkan, karena biaya pendidikan bisa lebih murah.
Kesalahan dalam menyikapi ujian nasional akan terus berlarut-larut. Misalnya saja, seorang anak yang merasa takut tidak lulus akan berupaya dengan cara mencari contekan, jika perlu membeli jawaban. Dengan jawaban itu, akhirnya nilai yang diperoleh akan tinggi. Namun, saat dilakukan tes pada jenjang selanjutnya dia tidak akan pede. Pasalnya dia menyadari bahwa nilai yang diperolehnya tidak murni dan tidak sesuai dengan kemampuannya, maka tidak ada jalan lain kecuali dengan ’’main belakang’’.
Disaat lulus pendidikan, tidak dapat dipungkiri akan terjadi permainan sogok-menyogok. Dalam hal pekerjaan akan cenderung korup. Saat itulah aqidah kembali tergadai. Apa pun agamanya, pasti menganggap menyontek adalah perbuatan tercela.
Jika dalam sebuah proses pendidikan menghasilkan lulusan yang tidak memiliki kepribadian seperti yang didengung-dengungkan saat ini, Pendidikan Karakter, bagaimana dan ke mana arah yang akan dicapai? Mereka hanya berpikir bagaimana cara lulus.(*)
Diklat TIK Kel. 3 - 2012
Diklat dibuka dan diresmikan oleh Drs. Usman, M.M. (Kepala UPTD Propinsi Lampung) sebagai wakil dari Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Lampung. Dia berpesan agar guru tidak ketinggalan dengan peserta didik dalam hal penguasaan teknologi. Tanpa alasan apapun, meskipun di daerah terpencil, guru harus selangkah lebih maju dibandingkan dengan peserta didik.
Diklat TIK Angkatan III diselenggarakan mulai tanggal 06 Agustus hingga 15 Agustus 2012. Semangat tetap tinggi, meskipun berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadhan 1433 H. Pemateri OK, Penyelenggara OK, Peserta OK..., SEGERA TINGGALKAN GAPTEK! (Eddy Nuno)
Bahan Ajar K3LH (Kesehatan & Keselamatan Kerja) Otomotif
Pada dasarnya, K3LH akan menjadi dasar dan etika kerja sehingga kecelakaan kerja dapat terhindari. Dengan terhindarinya kecelakaan kerja, maka effisiensi dan goal dari pekerjaan akan tercapai.
Pada postingan saya kali ini, saya akan mencoba menshare bahan ajar tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Anda bisa mendownloadnya dengan gratis. Silakan KLIK tombol di bawah ini!
Kita SELAMAT, Orang Lain juga SELAMAT. Semoga bermanfaat...
Contoh RPP OTTO Kelas 3
Ada tiga (3) RPP yang dapat kawan-kawan donlod:
1. Contoh RPP-1
2. Contoh RPP-2
3. Contoh RPP-3
Bagi yang belum memiliki SILABUS silakan KLIK DI SINI untuk mendonlodnya.
Semoga bermanfaat...
Silabus OTTO Kelas 3
InsyaALLOH tidak perlu bayar, coba KLIK DI SINI!
Untuk mendownload RPPnya Anda dapat lihat di CONTOH RPP...
Semoga bermanfaat...
UN dan Sebagian Dampaknya
KEMUDIAN muncul ide untuk membuat soal dalam 5 paket. Namun apa yang terjadi, tetap saja kebocoran soal terjadi di mana-mana. Jawaban dari soal yang akan diujikan telah beredar terlebih dahulu dengan jumlah sesuai dengan paketnya. Percaya atau tidak, ini adalah kejadian nyata di lapangan.
Rencananya, pemerintah bisa saja memberlakukan UN dengan 20 paket soal yang berbeda. Kehebatan pemerintah dalam mengantisipasi murninya nilai dari hasil UN sepertinya sudah dangkal. Banyak para pendidik merasa pesimistis dengan ide seperti ini.
Ada saja oknum yang lebih ’’cerdas’’ untuk menkonter upaya pemerintah dalam hal ini. Lalu, siapa yang dirugikan? Jelas, seluruh elemen bangsa ini rugi. Seorang guru yang sudah bekerja keras untuk mengasah kemampuan siswa ternyata usahanya kandas di tengah jalan.
Sepertinya, tidak ada bekas dari proses kegiatan belajar. Tiga tahun mengajar dan mendidik kalah hanya dengan kiriman SMS dan contekan jawaban. Miris, kerjanya terasa sia-sia, perangkat yang dibuat (bagi guru yang membuat perangkat) sepertinya tidak berfungsi untuk mencerdaskan anak bangsa. Untungnya, perangkat itu masih bisa bermanfaat bagi yang ’’bersertifikasi’’.
Pihak sekolah harusnya ikut merasa dirugikan, tentu bagi yang merasa! Mengapa? Jelas sekali dengan adanya kebocoran soal, maka usaha sekolah untuk mengadakan tambahan jam belajar menjadi sia-sia. Sekolah-sekolah sepertinya sudah tahu akan adanya kebocoran soal. Namun, mereka latah untuk tetap mengadakan tambahan jam belajar sebagai upaya serius menghadapi UN.
Namun apa yang terjadi, dengan adanya bocoran jawaban yang tersebar oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab akhirnya peserta didik 100 persen bisa lulus. Sia-sia, bukan? Masyarakat, sebagai pemilik peserta didik, harusnya juga merasa dirugikan. Bukan masalah lulus, tapi prosesnya.
Anak-anak yang masih kecil/remaja, pikirannya bersih, justru dididik untuk tidak jujur. Diajari menyontek dan bagaimana cara menyebarkan contekan dengan benar. Ini adalah krisis moral dari dampak UN yang sesungguhnya.
Di mana letak krisisnya? Anak-anak yang diajari tidak jujur akan tertanam dalam otak mereka, bahwa tidak jujur asal ramai-ramai tidak jadi masalah. Itu yang pertama. Kedua, negara ini sudah banyak koruptor. Pemerintah saat ini sedang berupaya memberantas mereka. Tidak mustahil pendidikan menyontek akan memupuk penyakit akut korupsi yang ada di negeri ini. Hasilnya krisis moral. Berani menyontek adalah modal utama untuk menjadi koruptor.
Pengawas ujian yang ditugaskan hanya bekerja sekadar sebagai fasilitator. Tugas mereka membacakan peraturan, membagi soal, dan lembar jawaban. Mereka akan salah manakala ketat dalam mengawas. Salah jika tidak membiarkan siswa menyontek. Akhirnya pura-pura tidak tahu. Akhirnya pun jadi benar-benar tidak tahu dan bodoh.
Masyarakat yang resah akibatnya akan menutup hati nurani mereka. Mereka takut anak-anaknya tidak lulus. Mereka tahu bahwa menyontek itu pekerjaan tidak baik (baca tidak halal). Tapi karena mereka takut anak-anaknya tidak lulus UN, akhirnya mengikuti pola yang salah ini.
Saya masih ingat sekali dengan berita tentang Ny. Siami. Dia mencoba jujur tentang pelaksanaan UN di SDN 2 Gadel pada tahun ajaran 2010/2011. Dengan kejujurannya, dia malah jadi terdakwa dan diusir dari desanya. Inilah masyarakat hasil dari pola/sistem pendidikan yang salah.
Sebenarnya, salah di mana? Mengutip pernyataan dari Sosiolog UI Imam Prasodjo, dia memaparkan bahwa kesalahan sistem pendidikan di negeri ini adalah pendidikan yang berorientasi pada hasil. Sementara proses tidak mengikutinya dengan baik. Nilai distandarkan secara nasional tanpa melihat sarana dan prasarana yang dimiliki oleh masing-masing satuan pengelola pendidikan. Namun harus mencapai hasil yang sama. Acuannya, keberhasilan pendidikan adalah dengan berpatokan pada nilai UN.
Ini adalah salah satu tugas pemerintah dalam pemerataan proses pendidikan. Lalu apa bedanya anggaran pendidikan 2 persen dengan 20 persen? Ke mana larinya anggaran-anggaran tersebut?
Sangat jelas sekali perbedaannya, jika sekolah berstatus negeri harus disamakan dengan sekolah swasta yang siswanya tidak dipungut biaya pendidikan adalah hal yang konyol. Gurunya saja kadang harus menerima honor tiga bulan sekali. Jumlah honornya jika dibandingkan dengan gaji tukang cuci di rumahnya pun masih besar gaji tukang cucinya.
Buku pelajaran saja kadang tidak mampu mengadakan kok harus disamakan dengan sekolahan yang tiap hari siswanya bergaul dengan dunia internet. Sungguh ironis negeri ini.
Doktrin lulus 100 persen sudah mengakar, dari pusat hingga daerah dan masuk ke sekolah-sekolah. Akhirnya masyarakat yang jadi korban, mereka menjadi pesimis menghadapi sistem pendidikan yang seperti ini. Sebagian guru-guru dan kepala sekolah tertekan.
Mereka seolah-olah memikul beban yang berat terkait dengan kelulusan peserta didiknya. Satuan pendidikan yang memiliki raw matrial kurang bermutu harus mengimbangi sekolahan yang memiliki tingkat seleksi lebih ketat.
Finlandia pada 2003 menduduki peringkat pendidikan pertama dunia. Jika di Indonesia percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, lain halnya dengan di negeri Nokia ini. Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.
’’Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan siswa, bagaimana cara untuk lolos ujian,’’ ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Baru pada usia 18 tahun, siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua per tiga lulusan berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi.
Peringkat pendidikan Indonesia yang meraih peringkat ke-69 sepertinya tidak terlalu berpengaruh terhadap perbaikan pendidikan di Indonesia jika orientasinya tidak diubah. Beberapa guru sangat mendukung sistem pendidikan dengan evaluasi akhir menggunakan Ebta/Ebtanas. Biarkan satuan pendidikan menggunakan otoritas mereka dalam meluluskan siswanya.
Kemudian untuk jenjang pendidikan selanjutnya harus menggunakan seleksi tes. Sehingga dengan tes tersebut akan diketahui kemampuan masing-masing calon peserta didik. Ini tentu lebih adil, masyarakat lebih tenang, guru-guru bisa lebih kreatif, inovatif, dan introspektif.
Sanggupkah bangsa ini mengamalkan kejujuran dalam pendidikan? Jangan kemudian jika ada yang mencoba jujur malah diasingkan dan dihujat seperti Ny. Siami. (*)
Tindakan Kita Sebatas Kita Memandang Dunia
Namun, bila Anda memandang diri Anda besar, dunia terlihat luas, Anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.
Tindakan Anda adalah cerimn bagaimana Anda melihat dunia. Sementara dunia Anda tak lebih luas dari pikiran Anda tentang Anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal, dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.
Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Malampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, duniapun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita. ⊛
sumber : Buku Motivasi Net halaman 6
GURU TEKOR, MURID NYOHOR
Guru-gurunya terlihat berwibawa, namun sederhana. Eit…, kebalik. Guru-gurunya terlihat sederhana, namun berwibawa. Ada namanya Pak Agus. Sosoknya yang tinggi besar, tegap kehitaman. Sosok ini sangat disegani oleh anak-anak murid.
Dari tiga tingkat, paling-paling jumlah kelasnya ada 3 kelas. Kadang-kadang bisa 4 sampai 5 kelas. Bisa dibayangkan jumlah siswanya. Jika 1 kelas berisi 30 kepala, maksimal kira-kira 150-an kepala. Jumlah gurunya tidak sampai 20 orang, itupun sudah termasuk tenaga TU yang kadang harus merangkap jadi guru.
Sekolah ini memang tidak dikhususkan untuk anak-anak orang kaya. Tapi, kebanyakan murid-miridnya berasal dari kalangan bawah alias miskin. Kehidupan mereka terbatas. Bahkan ada yang hampir-hampir kurang makan. Ada yang tidak bawa uang jajan. Pokoknya ngenes-lah kehidupan murid-muridnya.
Para guru sangat paham kondisi anak-anak. Akibatnya mereka, para guru, tidak tega untuk memberikan tugas yang kira-kira harus merogoh kocek mereka. Apalagi membebani urusan orang tua mereka yang kadang-kadang makan kadang-kadang harus puasa.
Lalu siapa yang menggaji para guru? Harus ditanyakan tuh? Dari mana ya kira-kira? Yang jelas bukan dari SPP para siswa. Menurut Bu Ani, gaji guru-guru tersebut diambilkan dari dana BOS. Mereka rela menerima uang gaji kadang 3 bulan sekali. Asyik, jadi makin gede…! Jangan seneng dulu. Uang gaji yang diterima tiap 3 bulan itu dimaksudkan biar terlihat gede. Waduh…!
Seorang guru yang mengajar di sekolah gratis itu hanya mendapatkan rata-rata 250 ribu per tiga bulannya. Jika dirata-rata per bulan tidak sampai 100 ribu. Sementara gaji tukang cuci di rumah Bu Ani dibayar 300 ribu per bulan. Bu Ani sarjana, pembantu di rumahnya paling-paling lulusan SD, atau bahkan nggak sekolah. Getir ya…? Siapa nih yang salah? Bu Ani atau pembantu rumahnya?
Dihitung-hitung untuk biaya operasionalnya saja nggak cukup. Uang 100 ribu, ditengah-tengah kehidupan kota, seperti orang yang numpang lewat. Menunggunya 3 bulan, habisnya sehari. Ya gimana lagi, bulan kemarin saja masih ngebon sama tukang sayur. Sama warung sebelah.
Tapi yang sangat disesalkan, masih menurut Bu Ani, anak-anak didiknya tidak mencerminkan kondisi finansial keluarganya. Mereka terlihat bergaya. Dengan henpon yang bagus-bagus. Gaya pakaian yang sedikit norak seperti artis di sinetron-sinetron. Dandanan rambut yang kadang tidak layak untuk seorang murid SMP. Wah, pokoknya kadang makan ati. Bu Ani hanya bisa mengurut dada.
Ketika disinggung dengan biaya kecil-kecilan saja anak-anak banyak yang mengeluh. Tidak ada duit katanya. Tampilannya saja yang nyohor.
Bu Ani dan kawan-kawan guru yang lain tampak menikmati pekerjaan mereka. Mereka terlihat ikhlas mendidik anak-anak yang kadang kelakuannya menyesakkan dada. Kadang bikin emosi naik. Kadang-kadang bikin darah mendidih. Mereka hanya bisa bersabar dengan uluran tangan pemerintah.
Guru-guru disana hanya bisa meluruskan niat. Bahwa mengajar di sana hanya sebatas mengejar nilai dari sisi ibadahnya. Hanya sebatas pengabdian atas ilmu yang selama ini dipelajari. Lain tidak. Untuk mendapatkan gaji yang layak tidak mungkin, kecuali sertifikasi. Untuk sertifikasi jelas tidak memenuhi kriteria. Pasalnya jumlah jam ngajarnya kurang dari yang dipersyaratkan, yakni minimal 24 jam. Hitungannya dari mana?
Tekor, tekor. Gurunya tekor, muridnya nyohor…! ⊛
Gara-gara Nggak Kompak
Begini kisahnya, Gara-gara Nggak Kompak...
Pagi itu, Rabu yang indah 21/02/2012, diperkirakan akan ada tim verifikasi dari Dinas Pendidikan setempat. Verifikasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana persiapan sekolah kami dalam menghadapi Ujian Kompetensi Kejuruan. Hari mulai siang, para kaprog sedang asyik tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan peralatan dan bahan ujian.
Terlihat beberapa orang yang ditugaskan untuk verifikasi sudah hadir. Nggak berapa lama para verifikator itu menuju lokasi ujian. Mereka didampingi oleh kepala sekolah dan beberapa guru dari program yang ada di sekolah. Juga didampingi oleh masing-masing kepala program.
Setibanya di bengkel instalasi listrik, salah seorang verifikator bertanya mengenai kondisi genset (dinamo listrik). Dan secara kebetulan yang ditanya adalah Maryadi. Namun sebelum meminta penjelasan dari Maryadi, verifikator terlebih dahulu bertanya kepada kepala sekolah.
Menurut keterangan yang diberikan oleh kepala sekolah, genset tersebut dalam kondisi oke. Pokoke BAGUS lah, siap pake...
Mungkin karena kurang puas atas jawaban kepala sekolah, verifikator lantas bertanya kepada guru yang ada saat itu. Malang tidak dapat ditolak, Maryadi yang jadi nara sumber kali ini.
"Pak Maryadi, bagaimana kondisi genset ini, masih bagus nggak?" tanya verifikator meminta konfirmasi.
"Maap Pak, saya nggak berani jawab...!" timpal Maryadi. Raut mukanya yang lugu makin terlihat lucu.
"Lho kenapa, takut...? Udah jawab saja nggak apa-apa?" desak verifikator penuh pertanyaan.
"Bener nih Pak, nggak apa-apa?" jawab Maryadi minta kepastian perlindungan hukum.
"Ya, saya yang jamin...," verifikator meyakinkan.
"Okelah kalau begitu..., genset ini jelexs Pak, udah nggak layak pake...!" Maryadi menjawab sambil matanya menatap ke arah kepala sekolah. Dilihatnya kepala sekolah kecewa dengan jawaban Maryadi.
Maryadi dag-dig-dug, dia berpikir bakalan kena marah sama atasannya...,
Gara-gara Nggak Kompak sih, coba konfirmasi dulu ke Maryadi...!
"Tolong nanti saat verifikasi, kalo ada yang tanya ini-itu, bilang saja SEMUA BAGUS..., kalo nggak ntar nilai DP3 nya tak turunin...!" begitu seharusnya. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur...
Namanya juga cerita lucu, kadang bener kadang nggak bener, yang jelas ada benernya sih...(*)
Do not Open Windows
Seorang karyawan mendapatkan fasilitas kerja yang hebat sekali. Dia memiliki sebuah ruang dengan AC, telepon, televisi, internet, dan tentu saja PC Pentium 4 yang canggih.
Suatu ketika di mengetik sebuah laporan. Tiba-tiba saja bosnya masuk dan berkata:
Bos : "Hei! Kamu menulis dengan WordStar ya? Dasar Bodoh!
Sekarang kan sudah tahun 2012!! Harusnya kamu bisa menulis dengan Microsoft Word!!"
Karyawan : "Habis, ini kan ruang ber-AC Bos...!"
Bos : "Apa hubungannya dengan hal itu?"
Karyawan : "Bos lihat saja sendiri ke AC itu!"
Bos itu lalu melihat ke AC dan ada tulisan : "...AIR CONDITIONED ROOM, DO NOT OPEN WINDOWS!!"
Karyawan : "Kalo buka Windows saja tidak boleh bagaimana mau buka Microsoft Word!!!!"
Bosnya keluar ruangan sambil garuk-garuk kepala..., dasar STUPITTTTTTTTTTTTT.....D
Gaji PNS Naik, Rapellll Oeiiii
Pembayaran rapel kenaikan gaji PNS segera dilakukan setelah presiden menandatangani tiga Peraturan Pemerintah (PP) tentang Peraturan Gaji PNS dan TNI-Polri. Presiden juga menandatangani tiga PP lainnya untuk para pensiunan. ’’Nanti kami bayar secepatnya. Kalau sempat, Maret akan dibayarkan. Lalu, dua bulan kemarin akan diberikan rapel,’’ kata Sekjen Kemenkeu Kiagus Ahmad Badaruddin di kantornya kemarin.
Setelah PP ditandatangani kepala negara, Kemenkeu aka menerbitkan surat edaran ke kantor-kantor pelayanan perbendaharaan. ’’Itu sudah biasa kan. Kenaikan tiap tahun oleh presiden, PP-ya keluar,’’ kata Kiagus.
Dia mengatakan, biasanya akan ada jeda antara pembayaran gaji dan rapel. ’’Setelah pembayaran gaji bulanan, baru dibayarkan rapelnya. Ada time lag sedikit lah. Biasa itu,’’ katanya.
Dengan peraturan terbaru, gaji pokok terendah PNS golongan I-a masa kerja nol tahun adalah Rp1.260.000. Gaji pokok tertinggi golongan IV-e dengan masa kerja 32 tahun adalah Rp4.603.700.
Gaji tersebut belum termasuk tunjangan keluarga sebesar 10 persen gaji pokok untuk istri/suami serta 2 persen untuk anak. PNS masih menerima tunjangan pangan senilai 10 kilogram beras per orang. Pejabat struktural dan fungsional akan diberikan tunjangan jabatan. Juga ada tunjangan umum untuk yang tak memegang jabatan struktural dan fungsional. Kementerian/lembaga yang telah menerapkan reformasi birokrasi juga diberikan tunjangan remunerasi.
Wakil Menkeu Mahendra Siregar mengatakan, seluruh kenaikan gaji PNS sudah melalui kesepakatan di APBN. ’’Itu sudah masuk perhitungan dan itu bagian dari reformasi birokrasi,’’ kata Mahendra.
Dalam APBN 2012, komponen belanja pegawai meningkat menjadi Rp215,7 triliun atau sekitar 2,7 persen terhadap produk domestik bruto. Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan PNS, TNI, Polri, dan pensiunan melalui pemberian gaji ke-13 dan kenaikan gaji pokok sebesar 10 persen. Termasuk pemberian remunerasi untuk kementerian/lembaga yang telah siap melaksanakan reformasi birokrasi.
Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis menegaskan bahwa kenaikan gaji PNS 2012 itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mencairkannya. Sebab, hal tersebut sudah masuk dalam satuan anggaran untuk APBN 2012 yang disepakati pemerintah dan DPR.
Hanya, dia mengingatkan, besarnya anggaran untuk belanja pegawai negara itu harus dibarengi dengan formula peningkatan kinerja. ”Itu yang belum tergambar, yaitu tentang besaran unit pelayan negara dengan tingkat produktivitas,” jelas Harry.
Menurut dia, ketidakjelasan efektivitas peningkatan gaji PNS kali ini sama dengan kebijakan moratorium PNS yang telah ditelurkan pemerintah. ”Serba tidak jelas, hanya menaikkan gaji,” imbuh politikus Partai Golkar tersebut.
Dia lantas membeberkan bahwa anggaran untuk belanja pegawai tahun anggaran 2012 cukup besar. Di antara total belanja pegawai Rp 1.439 triliun, sebesar Rp 215,7 triliun digunakan untuk belanja pegawai atau mencapai sekitar 22,3 persen. ”Boleh-boleh saja menaikkan gaji, tapi basisnya produktivitas, tidak boleh hanya asal memberi seperti memberikan santunan,” ujar Harry. (jpnn/sil)
Namanya Nasib Utomo
Pak Ali pun berpapasan dengan 4 siswa tadi saat melewati tangga. Mereka adalah anak-anak di bawah perwaliannya sendiri. Mereka hanya bisa cengar-cengir. Anak-anak itu rupanya di saat pelajaran matematika mereka bolos ke kantin. Begitu selesai mereka nyantai di anak tangga. Pak Ali begitu mengetahui bahwa anak-anak itu tidak ikut pelajaran, langsung menuju kelas dan menganjurkan guru yang ada di kelas untuk mencoret daftar hadir mereka. Pak Ali akan bertanggung jawab jika ada yang tidak terima.
Adalah Pak Nasib, seorang guru ‘sepuh’ yang mengajar matematika. Pak Ali masih ingat saat masih duduk di bangku SMP. Ada film serial yang menampilkan tokoh Detektif Jepang tua yang bernama Ohara. Begitulah kira-kira Pak Nasib. Tubuhnya yang tidak sebegitu tinggi, dengan kondisi yang sudah tua masih berkarya ikut mencerdaskan anak bangsa. Sikapnya sangat tegas. Tidak bisa ditawar. Nasionalismenya sangat tinggi. Wajar, dia pernah menjadi calon korps marinir di Jawa Timur. Hanya karena dia tinggal sendiri yang ada dalam keluarganya, akhirnya dia ditolak.
Perjumpaannya dengan Pak Ali hanya sebentar saja. Karena pada tahun pelajaran yang akan datang Pak Nasib sudah pensiun. Dia merasa sangat prihatin melihat kondisi siswa sekarang ini. Kemauan belajar sangat kurang, cenderung membuang-buang waktu untuk belajar. Tidak memiliki etika di hadapan guru. Tidak menghargai orang tuanya. Begitulah yang dirasakan oleh Pak Nasib.
Di dalam obrolannya tiap hari sekolah, Pak Nasib tidak pernah terdengar membicarakan prihal sertifikasi. Meskipun guru-guru senior lainnya asyik membicarakan itu. Mereka berbicara tentang rekening, jumlah uang yang mereka akan terima dan segala sesuatunya yang berbau deskriminasi. Pak Nasib tidak. Hal ini mengundang pertanyaan dalam diri Pak Ali.
“Pak Nasib sertifikasinya di sekolah mana Pak…?” tanya Pak Ali kepada Pak Nasib pada satu kesempatan.
“Saya tidak perlu sertifikasi, biar Gusti Allah yang menyertifikasi saya…,” jawab Pak Nasib lantang. Dia memiliki dasar yang sangat kuat. Nasionalismenya ikut berperan dalam mewarnai kehidupannya, hingga kesehariannya sebagai guru. Dia bisa dibilang ‘guru stok lama’. Guru yang lahir dan besar pada awal-awal Oemar Bakrie memilih profesi sebagai guru.
Dia, Pak Nasib, beranggapan bahwa sertifikasi hanya bagi-bagi uang negara yang tidak ada timbal baliknya dari para guru kepada negeri ini. Mereka, para guru, cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana sertifikasi. Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap mutu pendidikan. Bahkan yang terlihat sekarang ini justru kebalikannya, penurunan mutu. Bagaimana tanggung jawab dia di hadapan Gusti Allah kelak?
Pendidikan sekarang bukan pendidikan seperti yang dulu lagi. Dulu, negeri-negeri tetangga belajar kepada negeri ini. Mereka belajar tentang hal-hal yang benar yang kelak di negeri asalnya akan diterapkan. Anggapan mereka benar, ilmu yang dipelajari diambil yang baik-baik saja. Sementara yang buruk tidak dibawa ke negara mereka. Mereka belajar tantang bagaimana mencerdaskan bangsanya kelak. Mereka tidak belajar sifat rakus bangsa ini. Rakus kepada apa saja, melebihi rakusnya binatang carnivora.
Saking rakusnya bangsa ini, aspal saja dimakan. Bangku sekolah dimakan. Semen, pasir, kayu, seragam, alat praktik, kendaraan, bensin, kertas, spidol, penghapus, papan tulis dan segala sesuatu yang dijumpainya bisa masuk ke dalam perutnya. Bahkan perut keluarganya. Inilah yang tidak dipelajari oleh peserta didik dari negeri tetangga saat belajar kepada kita.
Semua pejabat kebal hukum. Keadilan hanya sebuah sandiwara di depan persidangan. Sidang-sidang kejahatan, terutama tipikor, hanya sebuah tontonan untuk mengelabuhi para pemirsa keadilan negeri ini. Jelas, sutradaranya sangat pintar dan licin. Penegak hukum seperti pasukan macan ompong. Jangankan menangkap rusa untuk merobek kulit dan dagingnya, menerkam celeng tertembak yang sudah siap saji saja nggak berani.
Sejenak Pak Ali mengiyakan. Pak Ali jadi teringat akan kucing yang tinggal di rumahnya. Diamatinya kucing yang dulunya, menurut cerita, sangat doyan dengan tikus. Tikus berseliweran saja tidak sanggup dia mengusirnya karena badan tikus sudah bermutasi menjadi ‘tikus got gendut’. Jangankan mengusirnya, justru tikusnya meledek kucing tersebut. Tikus got gendut adalah bukan sembarang tikus, tidak hanya got yang menjadi tempat bermainnya. Kantor, sekolah, gedung MPR, markas-markas penegak hukum, kantor-kantor agama dan dimana saja. Seperti Tom & Jerry saja.
Beginilah bangsa ini. Sama…! Hanya beda di penampilan saja. Satu penegak hukum yang satunya kucing, satu koruptor yang satunya tikus got. Tikus got cerdas tentunya.
Nasib memang, tidak hanya Nasib saja namanya. Guru kawakan ini bernama lengkap Nasib Utomo. Dia mengalami nasib yang hampir sama dengan Bu Carolina. Pak Nasib digeser oleh birokrasinya sendiri lantaran tidak terlalu memperdulikan upeti. Dia hanya memiliki prestasi. Dan itu dianggap tidak cukup untuk menduduki kepala sekolah di sekolah bergengsi. Sekolah yang bisa dijadikan keledai untuk diambil tenaga sukarelanya. Sekolah yang bisa dijadikan sapi perahan bagi birokrasi pendidikan.
Kegigihannya dalam mempertahankan idealisme seorang patriot dan seorang guru berjiwa nasionalisme sangat sesuai dengan namanya, NASIB UTOMO. Dia adalah guru bagi Pak Ali, seorang yang membuka cakrawala ‘kebenaran’ akan dunia pendidikan sekarang ini. Guru sejati yang tidak hanya menginginkan siswanya memiliki nilai matematika yang tinggi, tapi juga budi pekertinya. Buat apa nilai matematika tinggi kalau tidak berbudi pekerti. Kenang Pak Ali.
Kini Pak Nasib sudah pensiun, jarang perjumpaan seperti ini terjadi. Dimana lagi seorang guru seperti Pak Ali menemukan gurunya seperti Pak Nasib…?
Allah memanggilnya, Jum’at (10/02/2012). Adakah Pak Nasib yang lain…? ⊛










