ALT_IMG

Ria Jenaka

Sejenak melupakan kepenatan saat menghadapi hari-hari bersama murid-murid kesayangan. Joke perlu, Guyon perlu, yang penting bisa mengobati stress. Asal tidak kelewatan dalam becanda insyaAllah tidak akan menjadikan kita lupa akan tugas utama kita..., tersenyumlah kawan! Yuk kita baca...!

ALT_IMG

Pendidikan

Pendidikan merupakan hak anak-anak kita, dan kewajiban kita memberikan kepada mereka. Ternyata pendidikan yang terbaik dimulai disaat mereka (anak-anak kita) masih dalam kandungan ibunya. Perlu diketahui, bahwa disaat mereka berumur 120 hari dalam kandungan, mereka sudah mampu merespon apa yang kita rasakan, kita perbuat dan segala sesuatu di luar diri mereka. Pemberian nama juga perlu...Baca Lengkap...!

Alt img

Guru Oemar Bakrie

Kita semua tahu, dedikasinya tidak dapat dipungkiri dan dilupakan begitu saja oleh sebagian besar penduduk negeri ini. Kiprahnya mampu melahirkan orang-orang besar layaknya Habibi. Namun sebagian mereka terlupakan, bagaimana kisah mereka di negeri ini? Kita akan dan terus ikut mewarnainya...Baca Kisahnya...!!!

ALT_IMG

Kata Mutiara

Kadang kita merasa tersesat, butuh suluh untuk menerangi jalan. Mungkin sebuah kata akan membuatmu merasa terang benderang di jalan yang kita anggap lurus (semoga). Di sini ada kata-kata mutiara yang insyaALLOH akan menggugah semangat kita... Lihat semua...!

ALT_IMG

Wrooterist

Ini lho kumpulan tulisanku..., jelek-jelek juga gak apa-apa, namanya sedang berlatih. Beri komentar yach...! Kalo perlu diponten, nanti di kasih reward lho... Baca yuk...!

Senin, 31 Maret 2014

Kepergok CD

0 komentar
“Sial betul hari ini!” Perasaan kesalku tak terbendung lagi. Bagaimana tidak, sudah berlarut-larut mencoba menyelesaikan tugas masih juga kebobolan maling. Lewat jam dua belas aku tidur. Jam sepuluh pintu kamar sudah dicek. Pintu garasi motor sudah dipalang obeng dan stik mixer. Masih saja ada yang raib.
Kebiasaan tidur malamku ternyata masih belum membuahkan hasil. Celurit yang aku gantung di depan meja kerjaku pun belum pula menuai korban. Sudah delapan tahun sejak aku menghuni rumah ini, baru kali ini kena begonya.
Sepertinya memang aneh malam tadi. Istriku juga merasakan hal yang sama. Kami sama-sama tertidur lelap. Anak-anak pulas dengan neneknya di ruang paviliun. Sang kakek tidur di kamar yang lain. Kamar kerjaku kosong. Arsip, kas masjid, komputer, dan berang-barang berharga lainnya lengkap. Sertifikat-sertifikat juara pun masih nangkring di tempat semula. Hp masih terhimpit di atara kain-kain sarung.
Awalnya istriku ketakutan untuk membuka kamar kerjaku yang terletak paling depan rumah kami. Takut kalau-kalau ada yang hilang. Nenek anak-anaklah yang pertama kali menemukan keanehan. Tikus, kucing, atau maling? Gumamnya sepanjang setengah jam dari waktu subuh. Waktu sembahyang menggerser pelan, namun kami masih cekakak-cekikik mengungkap siapa yang dengan cerdas beraksi tadi malam.
Laci-laci kabinet di kamar ibu terbuka layaknya tangga. Satu, dua, tiga, dan empat pintu saling silang seperti sedang bermain jackpot. Aneh, segala dompet bertaburan. Dompet baru, dompet apak, dompet jamuran, dompet kulit semuanya tercecer. Ada kucing cerdas, pikirnya.
Tas kerja jinjing, khas tante-tante yang hobi arisan pun turun kastok semua. Berjejer rapi, hanya isinya yang tabur. Sebuah tas dada, khusus jama’ah haji, tergolek tak berdaya di depan pintu garasi. Isinya tersemburai, tercecer tak bergerak lagi. berantakan.
Bergerak ke ruang tivi, tas kerja istriku mulai menampakkan hal yang mencurigakan. Kotak pensil terbuka, dompet ibu dan anak merk Sofie Martin tercecer. Isinya? Raib tak berjejak. Kerja sama yang matcing antara tikus dan kucing.
“Hagh…!” teriakku kencang dalam batin, aku pun menahannya sekuat mulutku. Malu kalau kelihatan kaget sama mertua. Jendela samping parkir motor matikku ternganga lebar. Penyangga suda bengkok tak berbentuk. Persis di depan akuarium jendela itu terbuka.
“Apa yang ilang Mak?” tanyaku menelisik tak punya rasa bersalah.
Ibu mertua cuma tersenyum dan bergumam kencang, “Nggak ada Ed…”.
Syukurlah kalau begitu. Tapi, kalau dipikir-pikir, tak mungkin tikus dan kucing secerdas itu. Meski mereka dalam kondisi konsentrasi penuh untuk aksinya. Meski mereka sedang gencatan tenaga untuk satu fokus, rumah kami.
Di kamar tempat anak-anak tidur tadi malam, pintu lemari terbuka semua. Mustahil Ibu tak mendengar apa-apa, meskipun itu nyata. Sudahlah aku mandi dulu, sebentar lagi harus masuk kerja. Masih syukur motorku aman, padahal kunci menggantung pasrah di kusen kamar ruang tengah. Ambil, plug and play, siap start.
***

Sabtu sore memang asyik berkumpul dengan anak-anak. Mereka asyik main dagang-dagangan layaknya para penjual di Pasar Bambu Kuning. Ditambah lagi dengan adanya keponakan yang tinggal di depan rumah yang kebetulan main.
“Mbak Awa yang jualan, Adek yang beli, Bibin yang jadi tukang ojeknya!” atur anak pertamaku pada adik dan sepupunya. Asyik sekali mereka dagang. Orang Padang memang harus bisa berbisnis, minimal kaki lima.
Toko mereka adalah ruang makan, tempat aku biasa sembunyikan motor saat merasa terpenat. Dari dalam, Mbak Awa membuka dagangannya. Jendela dibuka lebar-lebar, dia duduk layaknya tukang sayur sedang meladeni penjual sayur keliling dan para pembantu. Adiknya sibuk menghitung uang kertas yang terbuat dari lembaran sobekan koran bekas.
Lucu mereka. Betingkah layaknya orang-orang dewasa. Damai, indah, mereka mengajarkan bagaimana seharusnya bersaing. Tukang ojek tidak iri dengan banyakknya uang kertas pendagang. Pedagang merasa senang karena ada tukang ojek dan pembelinya.
Sesekali terdengar gelak tawa dari transaksi yang mereka lakukan. Oskar pun akan tertawa jika memahami kata-kata anak-anakku. Ia hanya diam, bisanya menempel kaca dan minta ditaburi pelet.
Bibin, si tukang ojek, tidak tahan lama-lama menunggu Adek untuk naik di belakangnya. Sepeda butut dan ban kempes tidak memupuskan cita-citanya menjadi tukang ojek sejati.
Jam dinding, jarumnya kian melintang, membentuk sudut 180 derajat. Aku biasanya merasakan adanya hembusan angin kencang dua pekan ini. Kemudian disusul gerimis dan hujan.
Terus, tanpa ditegur, Mbak Awa akan terus berjualan. Angin makin dingin, bisa-bisa mereka tidak mandi sore lagi.
***

Hari ketiga pekan ini. Motor sudah dipanasi, tinggal ‘greng’ siap meluncur ke terminal. Baju Pemdaku sudah mulai menyempit. Panjang celana kini sudah mulai terlihat nggantung, seratus delapan puluh sentimeter. Hari ini, meski banyak para PNS yang menggunakan batik, aku lebih suka mengenakan baju dinas. Masih untung, untuk menyiasati kenek bus yang banyak mulut. Laga-laganya tidak kenal sama penumpang yang baru beberapa bulan melanggan busnya. Terus saja dimintanya bayar full.
Sebentar lagi jam setengah enam, sarapan nasi semalam dengan sayur kemarin yang dihangatkan cukup mengganjal perutku. Menekan urat pusingku di bus AC nanti. Mengusir rasa masuk anginku hingga terdesak lewat pintu belakang.
“Ed, hp Mamak hilang. Punya istrimu juga hilang.” Informasi dari ujung dapur sana. Hampir-hampir menyedakkan tenggorokanku.
Aku menganggapnya itu adalah informasi sementara. Tugas utamaku kini adalah memiscall dua benda yang sanggup bicara sendiri itu. Kartu satu milik istriku, kata perempuan di seberang sana tidak bisa dihubungi. Kartu dua, sama saja. Kini giliran kartu mertuaku, sama saja. ‘Nomor yang Anda hubungi di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi!’ berkali-kali.
Puih, dasar mbak Fero. Positif hilang hp mereka, begitu hipotesa batinku. Kucing tidak mungkin, tikus apalagi. Kecuali mereka adalah Tom & Jerry. Waduh, siapa ya kira-kira? Tanyaku dalam hati.
“Bagaimana kalau babi ngepet?” sergahku kemudian. Angh, tak mungkin juga. Rumah kami, meski biasa diserobot air saat hujan dengan tampiyasannya, tapi untuk seekor babi ngepet tidak mungkin. Istriku tiap hari mengaji, anak-anak juga diajaknya selepas maghrib. Sembahyang juga tidak lewat barang setengah rakaat pun.
Aku kembali tidak puas. Jendela yang tadi terbuka aku raba dengan mesra. Seperti sedang mencari lekuk-lekuk yang aneh. Tidak ada. Bekas congkelan palu, bekas jungkitan obeng, dan bekas cungkilan ganco juga tidak ada. Terbuka begitu saja. Menambah kemerindingan bulu kuduk. Hebat, juara mentalist pun tak sanggup membuka jendela pintu dapur tanpa bantuan ganco.
Kejadian pagi ini hampir-hampir menahanku untuk tidak mengenakan sepatu dan berangkat mengais rezeki. Sambil menahan malas, aku tetap kenakan sepatuku. Setengah enam lewat, kira-kira terlambat tidak ya?
Mungkin pulang nanti aku harus membeli kartu perdana, meski istriku menolak untuk ganti nomor. Handphone masih ada satu pikirku. Dual sim sebenarnya, tapi karena kelakuan anak-anak hanya sim 1 yang masih bisa digunakan. Mamak, ibu mertuaku, bagaimana? Aku hanya berpikir, dia kan punya suami… Untung hanya handphone yang hilang.
Segala gembok dan grendel juga kami perlukan. Pintu paviliun, dapur, dan pintu depan. Harus ekstra kunci sekarang ini.
“Ed…!” suara ibu mertua datang dari arah kamar paviliunnya. Dia seperti sangat sedih, khawatir.
“Berkas Mamak hilang, sama tas-tasnya. Buku arisan keluarga juga lenyap di bawa maling…,” suaranya melirih. Mamak baru saja pensiun lima tahun yang lalu. Segala kenangan di tempat kerja, susah senang jadi guru PNS, raib.
Kami berpikir, bahwa berkas-berkas yang ada di tas kantor itu dianggapnya leptop. Yang lebih aneh, buku arisan keluarga besar ikut digondolnya. Jangan-jangan mereka, maling itu, maniak arisan. Tebakku.
Kami harus lapor ke kantor polisi. RT adalah langkah pertama, kemudian kami akan ke yang berwajib. Urusan kepegawaian kota ini juga perlu tahu. Pasalnya, SK-SK itu sangat penting. Apalagi, pasport Mamak juga ada di dalamnya.
***

Sampailah aku di kantor. Seorang kawan mengomentari kejadian di rumah. Mas Bro, begitu panggilan akrabnya, mencoba menebak karakter. Dia bilang, maling ini sudah mengenal kondisi rumah. Prediksinya didasari pada pintu jendela yang terbuka tanpa cacat. Kamar yang disatroninya pun seperti sudah dipetakan. Waktu yang sempit pun menjadi alasan tersendiri untuk memperkuat perkiraannya.
Lain Mas Bro lain pula Jeng Widi. Dia pernah mendapat cerita yang sama. Bahwa, ada seseorang yang pernah kemalingan tanpa perlawanan. Kupingnya mendengar, tapi mulut dan matanya tidak bisa dibuka sama sekali. Suaranya tertelan, sementara matanya terus terkatup. Maling menggunakan guna-guna sebelum aksinya.
Kantor hari ini tidak memberikan rasa nyaman. Hawanya ingin segera pulang. Namun, kewajiban menuntutku untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang dideadline oleh bos. Handphone baru adalah solusi komunikasi untuk ibunya anak-anak. Mau bolos, malu sama anak buah. Sudahlah, sebentar lagi juga selesai.
***

“Mas, tahu nggak, tas kerjaku yang kemalingan?” cecar istriku sepulangku dari kerja.
“Kenapa, putus?” aku balik bertanya. “Kan masih baru?” kembali aku balik bertanya.
Istriku semakin antusias menceritakan hal lucu yang tak disengajanya. Kemarin sore, dia meletakkan CD ke dalam tasnya. Karena keasyikan menjawab pesan pendek di hp-nya dia lupa menurunkan barang antik itu. Hp ditinggalkannya di samping tas yang memang baru sepekan ini dikreditnya.
Bisa jadi gara-gara segi tiga pengaman ini maling buru-buru kabur. Buktinya motor yang tinggal tancap gas saja terlewati. Menurut mitos, barang ini bisa mendatangkan sial. Beruntung sekali, biasanya maling-maling kelas teri sangat mempercayainya. Hal ini akan mendatangka efek jera yang sejera-jeranya. Lebih sial dari kami yang hanya kehilangan barang.
Berbeda dengan maling-maling kelas kakap. Jangankan selembar kain, Tuhan yang menciptakan jagat raya ini saja dia tidak ketakutan. Mereka makin berani untuk terus korupsi. Mereka tidak lagi menunggu malam sepi untuk beraksi. Tidak lagi harus meninabobokkan penghuni rumah sekedar untuk menguras dompet butut dan apak. Mereka terang-terangan, bahkan bangga melambaikan tangan bak artis ibukota. Senang karena diliput oleh media.
Maling modern ini makin angkuh. Setiap orang dia anggap enteng untuk disogok. Mereka hanya akan berhenti saat tanah disumpalkan ke dalam mulutnya.
Selepas dari rumah ini semoga para maling itu akan jera. Semoga mereka kapok dan mau mengembalikan berkas-berkas Mamakku.
***
Continue reading →
Minggu, 30 Maret 2014

Be Smart Choicer...

0 komentar
P4K; Indonesia katanya negara Demokrasi. Padahal kata demokrasi ini memungkinkan yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah. Jika 1+1=2, bisa jadi salah jika ada banyak yang berpendapat 1+1=11. Suara seorang rakyat kecil yang rawan terkena Money Politic akan disejajarkan dengan suara seorang pofesor yang memilih dengan perenungan yang tinggi antara benar dan salah. Inilah inti demokrasi. Mereka yang tidak kenal agama akan mengatakan suara rakyat adalah suara tuhan. Rakyat yang mana? Rakyat yang berpikir? Atau rakyat yang rawan kena sogok?

Tapi sayang, kita tinggal di bumi Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus taat kepada pemimpin selama itu tidak merugikan kita dalam kehidupan dan keagamaan yang kita percaya. Kita harus cermat, teliti, dan cerdas. Menjadi SMART CHOICER adalah kunci jawabannya.

Meminjam istilah Smart Shoper, maka memilih juga harus cerdas. Jangan hanya gara-gara duit 50ribu, lantas hati kita buta. Semakin banyak Caleg atau Calon Pemimpin menyogok, sejatinya makin tidak layak dia dipilih.

Lima puluh ribu yang dia berikan, LIMA PULUH MILYAR dia akan dapatkan. Dengan perantara rakyat jujur yang dimanfaatkan karena kondisi kemiskinan hati dan finansial.

Falsafah MEMILIH adalah memberikan AMANAH dengan harapan yang diberikan amanah adalah ORANG BAIK, JUJUR, TAAT AGAMA, dan TIDAK MEMBELI SUARA. Kita memilih yang benar, dapat pahala. Kita memilih yang salah (berlandaskan hawa nafsu), kita dapat dosanya. Untuk itu kita harus benar-benar berusaha menjadi SMART CHOICER.

Oleh: Abu Annas
Continue reading →
Minggu, 19 Januari 2014

Menembus KORAN

0 komentar
Judul               : Menembus KORAN, Berani Menulis Artikel
                          (MENEMBUS KORAN EDISI II)
Penulis             : Bramma Aji Putra
Penerbit           : Easymedia, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, Mei 2012
Tebal               : x + 143 halaman
Harga              : Rp. 25.000,-

Menulis bagi sebagian orang mungkin sebuah aktivitas biasa. Atau mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya. Namun, bagaimana menulis menjadi sarana penuangan ide untuk dapat dinikmati oleh orang banyak? Tentu ide tersebut harus menembus media yang memang terbuka untuk khalayak ramai. Sayangnya untuk ke arah sana tidak segampang menulis surat untuk pacar. Tapi membutuhkan tips dan trik menembusnya.
Kenyataan inilah yang ada di masyarakat, baik dari kalangan awam maupun terdidik. Tidak banyak yang mengetahui tips dan trik untuk menembus koran. Pelbagai alasan dilontarkan, sehingga tulisan tidak tandas di tangan para redaktur. Yang lebih dahsyat lagi, tidak semua dosen, guru atau pun praktisi pendidikan mampu menuangkan ide di kepalanya dalam bentuk tulisan. Apalagi untuk menembus kokohnya benteng sebuah surat kabar.
Seseorang yang kaya akan ide akan merasa puas hanya dengan idenya diketahui banyak orang. Sebenarnya alasan kecil ini sudah cukup menjadi pemicu agar seorang produktif menuangkan gagasan briliannya ke sebuah koran. Baik lokal syukur-syukur mampu merangsak ke media nasional. Adalah Bramma Aji Putra, seorang anak muda kreatif, membeberkan bagaimana “Menembus KORAN, Berani Menulis Artikel”. Di usianya yang baru menginjak 27 tahun mampu menorehkan penanya di beberapa surat kabar.
Bukunya yang kedua ini menjadi jurus pamungkas yang patut diterapkan bagi Anda dan saya. Banyak komentar positif yang dilontarkan oleh pembaca buku pertama (MENEMBUS KORAN EDISI I) yang berjudul “Menembus  Koran, Cara Jitu Menulis Artikel Layak Jual”. Penyajian antar bab diawali dengan lead motivasi dari tokoh-tokoh kenamaan di bidang kepenulisan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Tidak ayal, tulisannya mampu menggetarkan dada pembaca dan selalu ingin menggerakkan tangan untuk segera menulis.
Disajikan sebuah motivasi menulis. Dikatakan bahwa menulis ibarat merangkai beberapa potong kain perca. Mudah, dan hasilnya gemilang. Ide-idenya banyak yang diawali dari pengumpulan artikel-artikel koran dan buku-buku kemudian dituangkan dalam tulisan. Akhirnya sebuah karya terpampang di koran. Tidak terbatas, meski kegiatan di pulau Jawa, namun artikel sanggup menembus pulau lain. Surat kabar lokal di daerah lain, itulah tepatnya. Herannya, padahal penulis tidak pernah melihat medianya. Itulah yang dipraktikkan oleh Bramma Aji Putra.
Salah satu lead yang saya sukai adalah, “Menulis, Satu-satunya Cara Agar Tetap Waras”. Lead ini mampu menghipnotis saya secara pribadi. Sangat layak buku ini menjadi koleksi Anda. Apalagi Anda adalah seorang pendidik, khususnya seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya kira buku ini menjadi wajib untuk dimiliki.

Tak ada gading yang tak retak. Istilah untuk ketidaksempurnaan sebuah karya. Buku ini juga masih ada yang kurang. Selalu saja diajarkan mudahnya menembus koran, sayang sekali tidak ada trik bagaimana agar artikel tidak ditolak. Baik dari segi pengiriman maupun tata tulisnya. Jika perlu tiap bab dalam buku ini juga ditambahkan karikatur yang cukup mewakili isi tulisan.₪
Continue reading →

MENGEMAS MATERI SERIUS DENGAN GUYONAN

0 komentar
Kamis, 17 Januari 2014

Hari ini aku masuk jam pertama dari 6 jam seperti biasanya. Sebuah buku bacaan aku tenteng ke dalam kelas. GURU GOKIL MURID UNYU, begitu judul buku ini. Ditulis oleh seorang guru senior dari SMA Kolese Jhon De Britto, J. Sumardiata.

Jadwal hari ini adalah latihan Merangkai Lampu Kepala dan Lampu Tanda Belok. Sebagian mengukur komponen Motor Starter. Sejenak aku ingin menyampaikan sejengkal dari bagian buku yang aku bawa. Anak-anak sejenak memasang telinga.

Sub BABnya demikian, MENGEMAS MATERI SERIUS DENGAN GUYONAN, halaman 38-39 (303).

"Apa perbedaan sekolah dengan kehidupan? Di sekolah, sesudah belajar kamu diberi soal ujian. Dalam kehidupan kamu diberi ujian yang mendidikmu dengan pembelajaran." --Susan Shumsky

"Kang, Iteung telat sebulan. Kita bakal punya bayi," ujar si Iteung kepada Kabayan, suaminya. "Tapi, jangan bilang-bilang orang lain dulu, yah, Kang, takut tidak jadi. Nanti malah malu-maluin."

"Siap, Agan," kata si Kabayan.

Besoknya tukang tagih dari PLN ketuk-ketuk pintu. Begitu dibuka, tukang tagih ngomong, "Bu, Ibu sudah telat sebulan."

"Dari mana Bapak tahu?" tanya si Iteung.

"Kan ini ada catatannya di PLN."

"Ha? Masa sampai dicatat PLN?" si Iteung tidak habis pikir.

Besoknya Si Kabayan melabrak kantor PLN. "Bagaimana mungkin PLN sampai bisa tahu istri saya telat sebulan?"

"Sabar, Pak. Kalau Bapak mau catatannya dihapus, Bapak tinggal bayar tagihannya."

"Kalau saya tidak mau bayar?" tanya si Kabayan.

"Punya Bapak akan kami putusin," jawab petugas PLN.

"Gila. Punya saya mau diputusin? Kalo istri saya di rumah lagi butuh, terus mau pakai apa?"

Petugas PLN menjawab, "Ya terpaksa pakai lilin!"

Kabayan menyemburkan serapah, "Dasar PLN gila!"

Petugas PLN tidak mau kalah, "Bapak lebih tidak waras. Gitu saja ditanyakan ke PLN."

--~!@#$%^&*()_+<>?:"--

Anak-anak sontak ketawa. Pelajaran dilanjutkan. Satu orang menjadi ajudan guru, satu orang menjadi asisten guru. Proses selesai hingga jam ke-6. Tanpa ada kucuran darah dan tulang-tulang yang patah.

Ternyata belajar Kelistrikan Otomotif itu mudah...
Continue reading →
Kamis, 16 Januari 2014
0 komentar
Waduuuh..., dua hari nggak nulis diary. Bisa kena marah sama sang pelatih nich. Mau jadi penulis kok nunda-nunda...! Paling-paling itu yang mau diocehin sama pelatih kita... (mau nggak ya, mbak Sofie jadi pelatih menulisku? atau mbak Asma sekalian...) Nulis dulu achhh, dari pada nggak nulis. Mendingan terlambat dari pada nggak sama sekali (semboyan persatuan para pemalas)...

Rabu, 15 Januari 2014

Pagi baru menjelang. Rencananya hari ini ada kegiatan Kunjugan Industri ke PT. Coca Cola Amatil Indonesia wilayah Sumatra Bagian Selatan. Semua panitia dan guru pendamping sudah aku SMS-in. Intinya mereka harus sudah kumpul dan mulai berangkat jam 7 pagi. Soalnya di lokasi sudah ditunggu jam 9. Maklum, jarak yang lumayan jauh dari sekolah ke industri. Dari SMK N Sukoharjo - Pringsewu ke Tanjungbintang - Lampung Selatan. Perjalanan kira-kira akan makan waktu 3 jam.

Karena lokasi rumahku yang jauh dari sekolah, 2 jam perjalanan pakai angkot/bis, maka aku putuskan untuk menunggu di terminal penitipan motor di Kemiling. Sudahlah, sudah jam 8 belum ada kabar sudah berangkat apa belum. Mendingan datang duluan daripada ditinggalin.

Benar saja, sesampainya di terminal ada kabar bahwa bis sudah meluncur jam 8.15-an. Berarti aku masih ada waktu 1 jam lagi untuk menunggu bis. Beberapa buku sudah aku siapin untuk menemaniku dalam kesendirian menunggu datangnya 'pesawat' sewaan dengan sopir ber-SIM B1. Ada buku mbah Asma, buku mbak Sofie, dan buku baru tulisan dari J. Sumardianta. Gila orang-orang ini, mereka bisa eksis dengan hanya sebuah, dua buah atau lebih buku karya mereka. Nggak perlu jadi presiden untuk hebat. Kecuali Butet Kertarajasa yang banyak memiliki karya yang salah satu julukannya adalah Presiden Dongeng.

Terlihat sosok gelandangan. Aku tawarkan Pagoda Pastiles kepadanya. Awalnya nolak, tapi mau juga akhirnya. Begitu tangannya nyelonong, karuan saja aku tarik, Tangannya yang kotor jangan sampai masuk ke dalam kaleng permen menyengar mulut itu. Bukannya bermaksud menghina, tapi memang tangannya kotor. Takut kalau-kalau kencing nggak cebok, hih.... Akhirnya aku ambilkan saja. Aneh pikirku, makan permen kayak makan krupuk saja. Dikunyah, 'klethak... klethuk...', bener-bener ni bocah. Umurannya sekitar 18-an. Tingginya kira-kira 150-an.

"Mas..., sttstt..." aku pikir suara apa. Anak gelandangan tadi menempelkan jari telunjuk dan jari tengah ke bibirnya. O... anak ini rupanya yang manggil-manggil. Sepertinya dia minta rokok. Aku mendadahkan tangan ringan, "nggak ngerokok..." sahutku. Seandainya dia tahu kalau pria sejati tidak ngerokok, tapi di........?

Aku jadi berpikir, orang kurang waras terus gelandangan pula, kok nggak lupa ya sama rokok, padahal dia lupa sama dirinya sendiri, keluarganya, ke'malu'annya dan segala sesuatu yang dia lupakan. Duh Gusti...!

***

Perjalanan di dalam bis seperti diskotik, seperti tempat karaoke. Hingar bingar dengan suara nyanyian 'nggak bekelas'. Sopinya nggak tahu kalau penumpanggnya semua kaum terpelajar. Sungguh, musik mencerminkan siapa pendengarnya. Artinya kualitas pendengar akan sesuai dengan kualitas yang didengarkan.

Gerakan bis makin kencang. Seperti tak kenal dengan polantas. Hingar bingar tak mau berhenti. Udahlah, yang waras ngalah. Tikungan demi tikungan kami lewati. Sambil diiringai terjangan hujan dan belaian gerimis. Sesekali diterpa lembunya sapaan sang bayu. Tiba-tiba...,

"Huek..., huek...."  Sepotong anak manusia mengeluarkan beberapa ons isi perutnya. Untung dia tadi nggak sarapan kodok. Kerudung satu-satunya yang dibawa basah oleh muntahan. Beruntung anak ini, pasalnya di depannya duduk Bu Lyna yang ternyata membawa kerudung candangan.

Goncongan makin keras. Penumpang seperti dilempar ke kanan dan ke kiri. Jalan rusak dibiarkan saja. Konflik kepentingan tidak membawa kebaikan untuk warga negara. Khususnya masyarakat Lampung. Pemerintah Kota bilang begini. Pemerintah Provinsi bilang begitu. Aku menilai, bahwa kedua pemerintah daerah hanya bermanis-manis di depan rakyat. Padahal mereka seharusnya membela kepentingan rakyat. Termasuk salah satunya adalah perbaikan jalan. Cacat sudah keharmonisan yang diagung-agungkan dalam kampanye-kampanye mereka.... Huh..., kecewa aku.

Selama di perjalanan, terlihat dua buah truk terjerembab ke dalam kubangan air. Nggak tanggung-tanggung lebarnya ngangaan jalan aspal yang rusak. Mungkin kalau ada pembudidaya ikan, mereka akan mengembangkannya menjadi tambak-tambak ikan lele. Kemana pemerintah selama ini. Buta, kan punya kuping. Tuli, kan punya otak. Mikir...., capek dech..., buat ngganti modal 'nyalon' saja masih keteter.

Udahlah, mendingan konsen ke Coca Cola saja.

***

Acara setahap-demi setahap. Guide-nya ternyata nggak bisa masuk kerja hari itu. Katanya abis opname. Semoga lekas sembuk mbak Pipit.

Pak Joko mewakili. Menerangkan kandungan Coca Cola, cara pembuatan, cara pengisian, cara pendistribusian, cara pengolahan air limbah, hingga selesai. Satu hal yang mencerminkan pabrik Coca Cola memang berstandar Internasional adalah diterpakannya ISO. Juga pengolahan limbah yang sesuai dengan peraturan pemerintah. Lain sekali dengan pengusaha-pengusaha lokal, cuek bebek. Sering kita jumpai limbah sudah menghiasi sungai-sungai, menumpuk, memupuk enceng gondok untuk tumbuh subur. Merekalah orang-orang yang katanya mengaku sebagai anak bangsa. Atau anak b-a-n-g-s-a-t? Yang rela menggerus dan merusak alam rumah tinggalnya sendiri. Hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, anak, dan cucunya yang sama-sama kurang akal. Mereka berpikir akan aman dengan kekayaan mereka, dunia milik mereka. Mereka berpikir akan aman dari pertanyaan Malaikat Penjaga Kubur. mungkin mereka akan menyogokknya...! Naudzu billah.

Inilah potret tarik menarik dalam perpolitikan negeri ini. Mereka busuk meski tampak alim. Mereka kasar meski tampak santun. Mereka rakus meski tampak bersahaja. Duh Gusti, jangan Kau azab negeri ini gara-gara ulah 'mereka'...!

Hujan terus berlanjut, meski sudah puas minum Coca Cola dan Frestea tetap saja hujan nggak mau berhenti. Ada satu kalimat dalam papan depan ruang pertemuan. NO CHANGE NO PROGRESS, 'Tiada Kemajuan Tanpa Perubahan'.

Siiip, Mantaaabz, Lanjuttt, biarkan tikus-tikus kantor negeri ini terjebak oleh jebakan tikus yang mereka buat sendiri.
Continue reading →
Selasa, 14 Januari 2014

Albert Einstein

0 komentar

Albert Einstein, dilahirkan di Ulm, Kerajaan Wuettemberg, Prusia Raya (sekarang Jerman) pada tanggal 14 Maret 1879. Beliau terlahir sebagai putra sulung dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch. Ayahnya berprofesi sebagai pedagang kasur bulu. Pada tahun 1980 bisnis ayahnya mengalami kegagalan.

“Di tengah kesulitan selalu terdapat kesempatan. Orang yang tidak pernah berbuat salah adalah orang yang tidak pernah melakukan sesuatu.”
[Albert Einstein]

Keluarga Einstein pindah ke Munich. Di kota ini Hermann dan adiknya mendirikan perusahaan instalasi gas dan air.
Di waktu kecilnya Albert Einstein nampak terbelakang karena kemampuan bicaranya amat terlambat. Wataknya pendiam dan suka bermain seorang diri. Bulan November 1981 lahir adik perempuannya yang diberi nama Maja. Sampai usia tujuh tahun Albert Einstein suka marah dan melempar barang, termasuk kepada adiknya.
Minat dan kecintaannya pada bidang ilmu fisika muncul pada usia lima tahun. Ketika sedang terbaring lemah karena sakit, ayahnya menghadiahinya sebuah kompas. Albert kecil terpesona oleh keajaiban kompas tersebut, sehingga ia membulatkan tekadnya untuk membuka tabir misteri yang menyelimuti keagungan dan kebesaran alam.
Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya. Raportnya bagus dan ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.
Albert menghabiskan masa kuliahnya di ETH (Eidgenoessische Technische Hochscule). Pada usia 21 tahun Albert dinyatakan lulus. Setelah lulus, Albert berusaha melamar pekerjaan sebagai asisten dosen, tetapi ditolak. Akhirnya Albert mendapat pekerjaan sementara sebagai guru di SMA. Kemudian dia mendapat pekerjaan di kantor paten di kota Bern. Selama masa itu Albert tetap mengembangkan ilmu fisikanya.
Tahun 1905 adalah tahun penuh prestasi bagi Albert, karena pada tahun ini ia menghasilkan karya-karya yang cemerlang. Berikut adalah karya-karya tersebut:
Maret: paper tentang aplikasi ekipartisi pada peristiwa radiasi, tulisan ini merupakan pengantar hipotesa kuantum cahaya dengan berdasarkan pada statistik Boltzmann. Penjelasan efek fotolistrik pada paper inilah yang memberinya hadiah Nobel pada tahun 1922.
April: desertasi doktoralnya tentang penentuan baru ukuran-ukuran molekul. Einstein memperoleh gelar PhD-nya dari Universitas Zurich.
Mei: papernya tentang gerak Brown.
Juni: Papernya yang tersohor, yaitu tentang teori relativitas khusus, dimuat Annalen der Physik dengan judul Zur Elektrodynamik bewegter Kurper (Elektrodinamika benda bergerak).
September: kelanjutan papernya bulan Juni yang sampai pada kesimpulan rumus termahsyurnya: E = mc2, yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E), c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3.000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya.
Tahun 1909, Albert Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich. Tahun 1915, ia menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. Selain itu Albert juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu.
Pada tahun 1933, Einstein beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya –baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti– terganggu. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu. Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia.

Meskipun demikian, Albert sempat menangis pilu dalam hati karena karya besarnya –teori relativitas umum dan khusus– digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.

Sumber: Buku BTW#1
Continue reading →

Trio Bujang Ngelakar

0 komentar
Senin, 13 Januari 2014

Sore jam 17.42 kelas aku bubarin. Suara gaduh di luar sangat mempengaruhi anak-anak di dalam kelasku. "Pak Pulang Pak", "Wayahe-wayahe...!", begitu kira-kira celetukan anak-anak. Seperti biasa, selesai doa anak-anak menyalamiku. Yang nggak mau salaman "tak sepatani" (aku doain) nggak naik kelas. Terpaksa mereka menyalamiku. Mereka berebut tanganku yang belum 100% persen sembuh dari kecelakaan 6 bulan lalu.

"Yan, pulang yuk?" seruku pada Wayan. Seorang guru muda, energik, mahasiswa S2 di Unila.

"Ya mas..." tangannya menyambut tangankku untuk salaman. Hahhh..., apa masalahnya si Wayan mencium tanganku. Murid bukan, adek bukan. "Semoga pikiran baik datang dari segala arah", kata si Wayan.

Terlihat juga Mono dan Agil sedang menunggu habisnya anak-anak keluar sekolah sambil mendorong motornya. Aturan yang ketat, tidak boleh ada suara bising knalpot di lingkungan sekolah. KECUALI KNALPOT GURU. Agil terlihat sibuk menarik kartu parkir mbantuin Mas Tarjo. Satpam sekolah yang pernah gagal untuk menjadi ABRI.

Wayan, Mono, dan Agil. Trio Bujang, ungkapan yang pas buat mereka. Jam tanganku sudah membentuk angka 5:56, sebentar lagi magrib. Males rasanya untuk segera pulang. Melihat Trio Bujang masih tegak di teras ruang guru. Motor Varioku tak dorong ke arah mereka. "Mie Suroboyo Pak Dhe yuk...?" ajakku kepada mereka.

"Waah..., kayaknya ada yang mau nraktir makan nih...?" kata Mono sambil tersenyum mengharap. Jidatnya yang kehitaman menunjukkan rajinnya dia sholat. Masih muda memang, kira-kira 9 tahun di bawahku. 

"Ayo kalo mau...!" jawabku. Akhirnya Wayan dan Agil pun tergerak. Kami berempat bergeser dari sekolah menuju lokasi Pak Dhe penjual Mie Suroboyo. Kira-kira 7 kilo dari arah kami mengajar. Rasa-rasanya seperti 'ngemong' sore itu.

Apes, atau untung buatku. Pasalnya Pak Dhe nggak jualan. Mungkin dikarenakan besok hari libur Peringatan Maulid Nabi. Beruntung, ternyata mereka, Trio Bujang, hendak besuk Asror, salah satu guru terbaik di sekolah kami yang telah menghantarkan seorang siswa untuk juara Olimpiade Fisika Terapan hingga tingkat Nasional. Malaria dan DBD kata mereka. 

***

Sesaat setelah sholat magrib, aku, Mono dan Agil kembali ke ruang 319. Wayan nggak ikut sholat. Agil, sosok guru berpostur kecil, lucu (bisa ngelucu) menurutkan kepada kami. Sambil menghibur Asror:

Satu hari, ada beberapa guru nggak hadir pada jam mengajar pagi. Tentu mereka bukan malas-malasan untuk menunaikan kewajiban mereka. Kondisi kelas beberapa di antaranya kacau. Maklum, anak-anak SMT swasta. Kaki pada diangkat di atas meja.

Tentu kondisi seperti ini tidak diharapkan oleh siapa pun. Termasuk kepala sekolah. Dasar lagi apes, ada salah satu kelas yang kacau beliau. Kelas salah seorang guru yang memang nggak bisa hadir hari itu. Kepala sekolah terlihat marah. Anak-anak kena semprot. Gurunya? Nggak dong, kan nggak hadir brow...

Nggak berapa lama, Agil bertemu dengan kepala sekolah. Agil pun nggak malu-malu tanya kepada pimpinannya. "Ada apa Pak...?" tanya Agil agak ketakutan melihat mimik pimpinannya.

"Ini gimana, masa anak-anak kakinya pada diangkat. Memangnya ke mana gurunya?" jawab kepala sekolah. 

"Sudah ijin Pak," jawab Agil. Sebenarnya dia tahu, kalau kepala sekolah sudah menerima informasi bahwa ada beberapa guru nggak masuk hari ini.

"Saya alpain semua...!!?!?" desak kepala sekolah.

"Siapa Pak, anak-anak dialpa semua...?" Agil terasa kaget. Waduh bisa gawat ini...

"Bukan," kata kepala sekolah. "Guru-guru yang nggak masuk itu saya alpain semua," seru kepala sekolah kemudian.

Agil terbahak-bahak nggak sanggup mengingat kejadian itu. Dia bilang sebenarnya waktu itu juga mau rasanya ketawa seperti sekarang. Cuma nggak enak saja sama kepala sekolah.

Waduh, bisa lebih gawat ini. Ada guru yang dialpain gara-gara nggak masuk. Padahal mereka nggak bolos lho. Cuma nggak masuk. Kalau murid, itu baru bolos namanya...
Continue reading →

Gara-gara Sofie Beatrix

0 komentar
p4k-- Mungkin ini adalah DIARY pertaku. Nggak tahu apa alasannya tiba-tiba ingin menulis diary. Bisa jadi karena kejenuhanku melewati sisi-sisi gelap kehidupanku. Bisa jadi karena sudah tidak ingin menumpahkan kesedihanku pada orang lain. (Padahal cuma kekasihku yang tahu masalah-masalahku, selain Gusti Alloh tentunya).

Ahad, 12 Januari 2014

Rasa capek nggak menyurutkanku untuk kembali memainkan tuts pada keyboard 'Logitech' di kamar kerjaku. Entah setan mana yang merasuki pikiranku saat melihat beberapa tumpukan buku di atas dipan mbak Awa. Ada keinginan untuk mengulang kembali beberapa bacaan yang sudah lewat jauh setahun yang lalu. Tiga buku turun ke atas kasur. KITAB WRITER PRENEUR, tulisan Sofie Beatrix kembali menusuk alam pikiranku. Aku membelinya tanpa sengaja pada akhir-akhir tahun 2012. Memang sudah cukup lama terlupakan. Pasalnya doi 'Sofie Beatrix' pernah menolak buku yang aku kirim ke Asa Media. Nggak apa-apa lah, mungkin ada yang tertinggal dari bacaanku dulu.

Malam telah melewati jam 00.00, sudah pagi rupanya. Mata masih sulit dipejamkan, padalah besok harus berangkat kerja. Harus ikut upacara bendera sebagai wujud syukur atas nikmatnya merdeka (meski baru merdeka secara fisik). Kita kecil bergambar kepala-kepala siapa, nggak tahu. Terlupakan karena ada beberapa buku yang baru yang belum dibuka dari segel plastiknya. Bahkan capnya pun masih jelas terlihat logo tempat aku membeli buku. A.S. Laksana, wooow..., keren manusia yang satu ini. Sejenak setelah membaca sinopsis dan biodata penulisnya. Ini harus dipaksa tidur. Di luar dingin, maklum hujan sepekan ini begitu memanjakan insan-insan yang memang sudah manja sejak lahir. Tidur dulu ah....,

"BISMIKA ALLAHUMMA AHYA, WA BISMIKA AMUUT"

***

Senin, 13 Januari 2014

Pagi menjelang, seperti biasa 'Monday Habbitually' siap-siap untuk upacara. Hujan sejak subuh tadi, sempat menggelayuti pikiran untuk urung ke kantor. Maklum, untuk perjalanan saja butuh 120 menit kira-kira. Pasca tragedi 26 Juli tahun lalu, sangat berpengaruh pada lamanya perjalanan. Kitab Penulis ala Sofie Beatrix sudah dipastikan masuk ke dalam ransel. Ransum ala kadarnya untuk ganjal perut biar nggak lapar-lapar amat.

Dingin AC bus kian menggigit tulang. Untung saja ada selembar jaket parasut melapisi baju kebesaran PNS-ku. Duduk di samping kanan seorang kakek berpenampilan 'Jaula', nggak tahu siapa namanya. Jenggotnya panjang, warna kulit muka kehitaman, peci melekat di kepalanya, dan sepasang kaca mata nangkring di atas hidungnya yang nggak terlalu mancung.

Di depan duduk seorang wanita cantik, muda, berjilbab. Sesekali mata kami bertemu dalam suasana dingin, lebih dingin dari AC bus pariwisata jurusan Kota Agung. O yaa..., baru ingat, ada sepotong Kitab Penulis di ransel bagian depan. Pikirku, daripada lihat-lihat 'perempuan lain' mendingan lihatin tulisan Sofie Beatrix.

Sebenarnya kitab ini sudah khatam aku baca. Sebagiannya memang menyemangati dan memaksa untuk menulis. Kali ini terbukti, apa yang dikatakan oleh para 'alim. Bahwa untuk paham dengan suatu ilmu harus mengulangnya. Hati saya sangat 'greng' untuk segera mencoba menulis. Ini hasilnya. Semangatnya beda dengan bacaanku tahun lalu. Nggak peduli dengan lantulan lagu-lagu Rinto Harahap yang menemani perjalanku pagi itu. Sengaja sopir memutarnya, mungkin dia punya kenangan dengan lagu-lagu bokapnya mbak Caludia ini. Bodo' lah....

Sampai di BAB 4. Ada sebuah tantangan di halaman 24 untuk membuat sebuah DIARY. Padahal seumur-umur nggak mau atau males untuk buat sebuah cerita hidup. Aku pikir nggak apa-apa, itung-itung lagi latihan. Di luar dugaan, aku kembali membaca buku dari orang yang pernah menolak bukuku. Pasti ada alasan, hingga akhirnya aku mencoba untuk men-diary-kan kehidupanku.

Gara-gara Sofie Beatrix tulisan ini aku mulai. Diary ini aku mulai. Awas, suatu saat akan aku tuntut Sofie Beatrix buat nerbitin buku-bukuku. Tunggu waktunya....

Ya, Alloh, Gusti Pangeranku...! Jangan jadikan siapapun menjadi alasanku untuk berbuat baik selain karena-Mu.



Continue reading →
Selasa, 14 Agustus 2012

Pengecekan AC Mobil

0 komentar
o-bakrie.com -- Hai, ketemu lagi. Oke, saat ini saya akan coba tampilkan tutorial yang saya pasang pada postingan kali ini adalah PENGECEKAN AC pada Mobil.



Selain dari Vidio yang saya tampilkan, sahabat OTTO-Mania juga dapat mendownloadnya dengan mengklik tombol unduh di bawah ini:



Oke, saya tinggal sebentar, selamat menikmati...
Continue reading →

Buku BUKTI KEBENARAN AL QURAN

0 komentar



“Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama. Kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjuk­kan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. AI-Quran yang berasal dari Allah mendukung ilmu pengetahuan.


- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson
Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan
Prof. Molecular dan Genetika Manusia,
Baylor College Medicine, Houston,
Amerika Serikat.


"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "

- Prof. Marshall Johnson
Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,
Universitas Thomas Jefferson,
Philadelphia, Pennsylvania,
Amerika Serikat.

“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "

- Prof. TVN Persaud
Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan
ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba,
Winnipeg, Menitoba,
Kanada.

"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "

- Prof. Tejatat Tejasen
Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,
Chiang Mai

"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "

- Prof. Alfred Kroner
Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,
Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,
Jerman.

“AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. "

- Prof. Palmer
Ahli Geologi ternama
Amerika Serikat.

"llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu."

- Prof. Shroeder
Ilmuwan kelautan dari
Jerman

"Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,"

- Prof. Yoshihide Kozai
Guru Besar Universitas Tokyo dan
Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo,
Jepang

p4k -- Itulah beberapa ungkapan hati para tokoh yang telah berinteraksi dengan Al Quran. Luar biasanya, mereka rata-rata bukan Muslim (Mosleem). Namun, dengan kejujuran dan kerendahan hati, mereka mau mengakui Al Quran adalah Kitab Wahyu yang benar, dan diturunkan kepada seorang Nabi yang UMI (buta huruf) yang hanya berbicara sesuai dengan firman-Nya (perkataan Yesus) yaitu Muhammad Rasulillahi saw.

Kitab yang diturunkan 1400 tahun yang lalu telah memukau seluruh umat manusia, rahmatan lil 'alamin. Siapapun Anda, kitab ini perlu untuk dikaji. Dapatkan buku BUKTI KEBENARAN AL QURAN tulisan Abdullah M. Al-Rehaili. Klik Gambar Buku di atas untuk mendownload bukunya. Atau klik tombol di bawah ini:

GERATIS! Semoga bermanfaat...!
Continue reading →
Senin, 13 Agustus 2012

Ujian Nasional dan Pertaruhan Aqidah

0 komentar
Oleh : Nur Afif E.N., S.Pd.T. (Pemerhati Pendidikan)
-- pernah diterbitkan di Radar Lampung Online --

Ujian nasional atau yang kita kenal dengan istilah UN meninggalkan banyak jejak dan warna. Pada 2012, pemerintah telah berupaya sekuat tenaga untuk mengantisipasi isu bocornya soal. Baik dari tingkat SMA/SMK, SMP, maupun SD sederajat. Tentu dengan harapan kualitas yang dicapai akan lebih baik dari tahun-tahun yang sudah lewat.

PAKET soal yang digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar siswa disediakan dalam jumlah 5 paket. Hal ini mengharuskan peserta didik cukup ekstra jika harus bermain curang dengan menyiapkan contekan jawaban. Namun, pemerintah tidak kalah akal untuk menyiasati hal ini. Dibuatlah paket soal dengan pembagian yang berbeda untuk setiap harinya. Jadi peserta ujian tidak akan mendapatkan paket soal yang sama selama ujian berlangsung. Jangankan siswa peserta ujian, pengawas pun sedikit mengalami kesulitan di awal-awal pelaksanaan. Hal ini bukan berarti tidak terjadi kebocoran. Meski pemerintah menjamin tidak ada kebocoran, tetap saja para oknum yang memang sudah lama bermain tidak begitu banyak menemukan kendala.

Kebocoran jawaban yang beredar di kalangan siswa tidak dapat dipastikan kebenarannya. Sehingga, siswa yang cerdas kadang tidak dapat begitu saja menggunakannya. Kalau kebocoran itu berasal dari soal yang bocor dan dijawab tim tertentu berarti pemerintah kecolongan untuk kali kesekiannya semenjak digelar UN.

Sejenak kita tengok beberapa kejadian pra UN. Ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional terlihat di sana-sini. Sekolah-sekolah penyelenggara mempersiapkan calon peserta ujian dengan menambah jam-jam belajar, atau dikenal dengan bimbel sekolah. Dengan penambahan ini, diharapkan dapat mengantisipasi jumlah paket soal yang akan diujikan nanti. Kondisi di lapangan siswa tidak begitu tertarik dengan upaya dari sekolah, bahkan sebagian sekolah swasta sepi peserta jam tambahan.

Tidak dapat ditutup-tutupi, apalagi jika dikaitkan dengan jumlah paket yang akan diujikan. Meskipun pada dasarnya materinya sama, tetap saja meninggalkan momok yang membekas pada benak siswa. Mereka berupaya mencari solusi dengan mengikuti bimbel-bimbel di luar sekolah. Ini kaitannya dengan biaya, bagaimana jika siswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah? Tentu menjadi kendala lain perihal keuangan.

Seperti disiarkan pada salah satu TV swasta, berbagai persiapan dilakukan untuk menghadapi hajatan pemerintah ini. Terlihat di sana, beberapa sekolah mengadakan kegiatan doa bersama yang intinya meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan kemudahan dalam menempuh ujian. Sekelompok anak duduk mengelilingi seorang kiai yang sedang memimpin doa, di depannya terlihat berbotol-botol air yang digunakan sebagai media. Setelah selesai, pensil para siswa dikumpulkan untuk ditulis ’’rajah’’.

Pada kesempatan yang lain, juga disiarkan sekelompok anak sekolah berziarah kubur. Mereka mendatangi kuburan yang sudah ‘dianggap keramat’ oleh sebagian orang awam. Mereka berdoa di atasnya. Mereka lupa bahwa di rumah mereka ada yang lebih keramat, yaitu orang tua.

Anak-anak kurang paham akan aqidah yang mereka yakini. Mereka bisa saja terjerumus ke dalam kesyirikan. Bukankah batas antara syirik dan iman sangat tipis. Bahkan bisa digambarkan seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada waktu malam gelap gulita.

Bagi masyarakat dengan kultur tertentu, hal ini sudah menjadi kebiasaan yang sudah mendarah daging. Sehingga dianggap lumrah, padahal aqidah yang menjadi taruhannya.

Upaya yang dilakukan oleh siswa untuk memperoleh nilai lulus UN dengan cara yang kurang bermartabat (baca: menyontek) bisa saja diakibatkan oleh ketakutan. Ketakutan ini diakibatkan oleh ketidaksiapan siswa dalam ujian.

Menuruta Prof. Arief Rahman (Pakar Pendidikan), pendidikan di Indonesia cenderung dipaksakan. Hal ini memang terlihat jelas, banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai menyebabkan siswa kurang fokus. Selain dari jumlah pelajaran, tidak jarang siswa yang tidak senang dengan pelajaran tertentu cenderung dipaksakan untuk mempelajarinya.

Di sisi lain, hingga saat ini hampir tidak ada siswa yang tahu, alasan apa yang mendasari harus mempelajari suatu pelajaran tertentu. Sebagai contoh, untuk apa mempelajari Matematika? Jika kita hubungkan dengan etika, alasan mempelajari Matematika adalah untuk mencegah penipuan dalam hubungan bisnis. Untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam perdagangan. Begitu menurut Prof. Arief Rahman.

Perlu direnungkan apa yang disampaikan oleh guru dari Finlandia. Mereka menyampaikan bahwa ujian (semisal UN) hanya akan mengajarkan kepada anak didik tentang bagaimana menjawab soal. Jika ini terjadi maka pendidikan akan kehilangan substansinya. Menjamurnya lembaga bimbingan belajar cenderung ke arah bagaimana menyelesaikan suatu soal dengan cepat. Pada akhirnya siswa tidak memahami materi pelajaran yang disampaikan.

Jika sebuah lembaga pendidikan berorientasi pada hasil (baca: nilai ujian), lalu apa bedanya dengan lembaga bimbingan belajar. Peserta didik tidak perlu belajar selama 3 tahun hanya untuk bisa menjawab soal-soal pada ujian nasional. Mereka cukup belajar intensif selama kurang lebih satu semester. Ditinjau secara ekonomi akan lebih menguntungkan, karena biaya pendidikan bisa lebih murah.

Kesalahan dalam menyikapi ujian nasional akan terus berlarut-larut. Misalnya saja, seorang anak yang merasa takut tidak lulus akan berupaya dengan cara mencari contekan, jika perlu membeli jawaban. Dengan jawaban itu, akhirnya nilai yang diperoleh akan tinggi. Namun, saat dilakukan tes pada jenjang selanjutnya dia tidak akan pede. Pasalnya dia menyadari bahwa nilai yang diperolehnya tidak murni dan tidak sesuai dengan kemampuannya, maka tidak ada jalan lain kecuali dengan ’’main belakang’’.

Disaat lulus pendidikan, tidak dapat dipungkiri akan terjadi permainan sogok-menyogok. Dalam hal pekerjaan akan cenderung korup. Saat itulah aqidah kembali tergadai. Apa pun agamanya, pasti menganggap menyontek adalah perbuatan tercela.

Jika dalam sebuah proses pendidikan menghasilkan lulusan yang tidak memiliki kepribadian seperti yang didengung-dengungkan saat ini, Pendidikan Karakter, bagaimana dan ke mana arah yang akan dicapai? Mereka hanya berpikir bagaimana cara lulus.(*)
Continue reading →
Kamis, 09 Agustus 2012

Diklat TIK Kel. 3 - 2012

0 komentar
o-bakrie.com -- Bandarlampung; Diklat-TIK 2012 Angkatan III memasuki hari ke-4. Diklat TIK Berbasis Internet yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Propinsi Lampung cukup menarik minat para peserta yang berasal dari sekolah-sekolah se-Propinsi Lampung. Dari Tingkat SD hingga SMA/SMK mereka tampak antusias. Diklat ini sangat membantu para peserta dalam meng-upgrade kemampuan guru dalam memahami dan menjalankan internet. Ini tentu diharapkan dapat membantu guru saat menyampaikan materi kepada peserta didik.

Diklat dibuka dan diresmikan oleh Drs. Usman, M.M. (Kepala UPTD Propinsi Lampung) sebagai wakil dari Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Lampung. Dia berpesan agar guru tidak ketinggalan dengan peserta didik dalam hal penguasaan teknologi. Tanpa alasan apapun, meskipun di daerah terpencil, guru harus selangkah lebih maju dibandingkan dengan peserta didik.

Diklat TIK Angkatan III diselenggarakan mulai tanggal 06 Agustus hingga 15 Agustus 2012. Semangat tetap tinggi, meskipun berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadhan 1433 H. Pemateri OK, Penyelenggara OK, Peserta OK..., SEGERA TINGGALKAN GAPTEK! (Eddy Nuno)
Continue reading →

Bahan Ajar K3LH (Kesehatan & Keselamatan Kerja) Otomotif

0 komentar
o-bakrie.com -- Sebagai sekolah yang menghasilkan out put pekerja, SMK apapun jurusannya harus menyertakan mata pelajaran kejuruan mengenai keselamatan kerja. Di jurusan Otomotif, akan sangat memerlukan pelajaran ini. Pasalnya out putnya akan memasuki lapangan pekerjaan yang mau tidak mau, suka tidak suka harus mengetahuinya dan menerapkannya.

Pada dasarnya, K3LH akan menjadi dasar dan etika kerja sehingga kecelakaan kerja dapat terhindari. Dengan terhindarinya kecelakaan kerja, maka effisiensi dan goal dari pekerjaan akan tercapai.

Pada postingan saya kali ini, saya akan mencoba menshare bahan ajar tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Anda bisa mendownloadnya dengan gratis. Silakan KLIK tombol di bawah ini!


Kita SELAMAT, Orang Lain juga SELAMAT. Semoga bermanfaat...
Continue reading →

Contoh RPP OTTO Kelas 3

0 komentar
o-bakrie.com -- Hallo kawan-kawan Guru Otomotif, kalau di postingan yang lalu saya memberikan contoh SILABUS tentang Memperbaiki Kerusakan Ringan pada Rangkaian/Sistem Kelistrikan, Pengaman dan Kelengkapan Tambahan, berikut ini Anda dapat melihat contoh RPP dari Silabus tersebut.

Ada tiga (3) RPP yang dapat kawan-kawan donlod:

1. Contoh RPP-1 Klik di sini
2. Contoh RPP-2 Klik di sini
3. Contoh RPP-3 Klik di sini

Bagi yang belum memiliki SILABUS silakan KLIK DI SINI untuk mendonlodnya.

Semoga bermanfaat...
Continue reading →

Silabus OTTO Kelas 3

0 komentar
o-bakrie.blogspot.com -- Bagi kawan-kawan guru yang masih bingung untuk memulai aktivitasnya, tentu akan membutuhkan contoh SILABUS. Saya akan coba share dengan kawan-kawan Guru Ottomotif, contoh saja ya...?

InsyaALLOH tidak perlu bayar, coba KLIK DI SINI!

Untuk mendownload RPPnya Anda dapat lihat di CONTOH RPP...

Semoga bermanfaat...
Continue reading →
Sabtu, 12 Mei 2012

UN dan Sebagian Dampaknya

0 komentar
o-bakrie.com -- Ujian nasional atau UN makin memprihatinkan. Tengok saja pelaksanaannya, selalu terjadi kebocoran soal. Padahal, Mendiknas selalu optimistis bahwa tidak akan ada kebocoran soal UN. Pelaksanaannya pada satu-dua tahun yang lalu memaksa pemerintah berpikir keras bagaimana cara mengantisipasi kebocoran soal.

KEMUDIAN muncul ide untuk membuat soal dalam 5 paket. Namun apa yang terjadi, tetap saja kebocoran soal terjadi di mana-mana. Jawaban dari soal yang akan diujikan telah beredar terlebih dahulu dengan jumlah sesuai dengan paketnya. Percaya atau tidak, ini adalah kejadian nyata di lapangan.

Rencananya, pemerintah bisa saja memberlakukan UN dengan 20 paket soal yang berbeda. Kehebatan pemerintah dalam mengantisipasi murninya nilai dari hasil UN sepertinya sudah dangkal. Banyak para pendidik merasa pesimistis dengan ide seperti ini.

Ada saja oknum yang lebih ’’cerdas’’ untuk menkonter upaya pemerintah dalam hal ini. Lalu, siapa yang dirugikan? Jelas, seluruh elemen bangsa ini rugi. Seorang guru yang sudah bekerja keras untuk mengasah kemampuan siswa ternyata usahanya kandas di tengah jalan.

Sepertinya, tidak ada bekas dari proses kegiatan belajar. Tiga tahun mengajar dan mendidik kalah hanya dengan kiriman SMS dan contekan jawaban. Miris, kerjanya terasa sia-sia, perangkat yang dibuat (bagi guru yang membuat perangkat) sepertinya tidak berfungsi untuk mencerdaskan anak bangsa. Untungnya, perangkat itu masih bisa bermanfaat bagi yang ’’bersertifikasi’’.

Pihak sekolah harusnya ikut merasa dirugikan, tentu bagi yang merasa! Mengapa? Jelas sekali dengan adanya kebocoran soal, maka usaha sekolah untuk mengadakan tambahan jam belajar menjadi sia-sia. Sekolah-sekolah sepertinya sudah tahu akan adanya kebocoran soal. Namun, mereka latah untuk tetap mengadakan tambahan jam belajar sebagai upaya serius menghadapi UN.

Namun apa yang terjadi, dengan adanya bocoran jawaban yang tersebar oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab akhirnya peserta didik 100 persen bisa lulus. Sia-sia, bukan? Masyarakat, sebagai pemilik peserta didik, harusnya juga merasa dirugikan. Bukan masalah lulus, tapi prosesnya.

Anak-anak yang masih kecil/remaja, pikirannya bersih, justru dididik untuk tidak jujur. Diajari menyontek dan bagaimana cara menyebarkan contekan dengan benar. Ini adalah krisis moral dari dampak UN yang sesungguhnya.

Di mana letak krisisnya? Anak-anak yang diajari tidak jujur akan tertanam dalam otak mereka, bahwa tidak jujur asal ramai-ramai tidak jadi masalah. Itu yang pertama. Kedua, negara ini sudah banyak koruptor. Pemerintah saat ini sedang berupaya memberantas mereka. Tidak mustahil pendidikan menyontek akan memupuk penyakit akut korupsi yang ada di negeri ini. Hasilnya krisis moral. Berani menyontek adalah modal utama untuk menjadi koruptor.

Pengawas ujian yang ditugaskan hanya bekerja sekadar sebagai fasilitator. Tugas mereka membacakan peraturan, membagi soal, dan lembar jawaban. Mereka akan salah manakala ketat dalam mengawas. Salah jika tidak membiarkan siswa menyontek. Akhirnya pura-pura tidak tahu. Akhirnya pun jadi benar-benar tidak tahu dan bodoh.

Masyarakat yang resah akibatnya akan menutup hati nurani mereka. Mereka takut anak-anaknya tidak lulus. Mereka tahu bahwa menyontek itu pekerjaan tidak baik (baca tidak halal). Tapi karena mereka takut anak-anaknya tidak lulus UN, akhirnya mengikuti pola yang salah ini.

Saya masih ingat sekali dengan berita tentang Ny. Siami. Dia mencoba jujur tentang pelaksanaan UN di SDN 2 Gadel pada tahun ajaran 2010/2011. Dengan kejujurannya, dia malah jadi terdakwa dan diusir dari desanya. Inilah masyarakat hasil dari pola/sistem pendidikan yang salah.

Sebenarnya, salah di mana? Mengutip pernyataan dari Sosiolog UI Imam Prasodjo, dia memaparkan bahwa kesalahan sistem pendidikan di negeri ini adalah pendidikan yang berorientasi pada hasil. Sementara proses tidak mengikutinya dengan baik. Nilai distandarkan secara nasional tanpa melihat sarana dan prasarana yang dimiliki oleh masing-masing satuan pengelola pendidikan. Namun harus mencapai hasil yang sama. Acuannya, keberhasilan pendidikan adalah dengan berpatokan pada nilai UN.

Ini adalah salah satu tugas pemerintah dalam pemerataan proses pendidikan. Lalu apa bedanya anggaran pendidikan 2 persen dengan 20 persen? Ke mana larinya anggaran-anggaran tersebut?
Sangat jelas sekali perbedaannya, jika sekolah berstatus negeri harus disamakan dengan sekolah swasta yang siswanya tidak dipungut biaya pendidikan adalah hal yang konyol. Gurunya saja kadang harus menerima honor tiga bulan sekali. Jumlah honornya jika dibandingkan dengan gaji tukang cuci di rumahnya pun masih besar gaji tukang cucinya.

Buku pelajaran saja kadang tidak mampu mengadakan kok harus disamakan dengan sekolahan yang tiap hari siswanya bergaul dengan dunia internet. Sungguh ironis negeri ini.

Doktrin lulus 100 persen sudah mengakar, dari pusat hingga daerah dan masuk ke sekolah-sekolah. Akhirnya masyarakat yang jadi korban, mereka menjadi pesimis menghadapi sistem pendidikan yang seperti ini. Sebagian guru-guru dan kepala sekolah tertekan.

Mereka seolah-olah memikul beban yang berat terkait dengan kelulusan peserta didiknya. Satuan pendidikan yang memiliki raw matrial kurang bermutu harus mengimbangi sekolahan yang memiliki tingkat seleksi lebih ketat.

Finlandia pada 2003 menduduki peringkat pendidikan pertama dunia. Jika di Indonesia percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas  pendidikan, lain halnya dengan di negeri Nokia ini. Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang  menghancurkan tujuan belajar siswa.

’’Terlalu banyak testing membuat kita  cenderung mengajarkan siswa, bagaimana cara untuk lolos ujian,’’ ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Baru pada usia 18 tahun, siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua per tiga lulusan berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi.

Peringkat pendidikan Indonesia yang meraih peringkat ke-69 sepertinya tidak terlalu berpengaruh terhadap perbaikan pendidikan di Indonesia jika orientasinya tidak diubah. Beberapa guru sangat mendukung sistem pendidikan dengan evaluasi akhir menggunakan Ebta/Ebtanas. Biarkan satuan pendidikan menggunakan otoritas mereka dalam meluluskan siswanya.

Kemudian untuk jenjang pendidikan selanjutnya harus menggunakan seleksi tes. Sehingga dengan tes tersebut akan diketahui kemampuan masing-masing calon peserta didik. Ini tentu lebih adil, masyarakat lebih tenang, guru-guru bisa lebih kreatif, inovatif, dan introspektif.

Sanggupkah bangsa ini mengamalkan kejujuran dalam pendidikan? Jangan kemudian jika ada yang mencoba jujur malah diasingkan dan dihujat seperti Ny. Siami. (*)
sumber : Radar Lampung
Continue reading →
Kamis, 01 Maret 2012

Tindakan Kita Sebatas Kita Memandang Dunia

0 komentar
p4k -- Bila Anda memandang diri Anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan Anda pun jadi kerdil.

Namun, bila Anda memandang diri Anda besar, dunia terlihat luas, Anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan Anda adalah cerimn bagaimana Anda melihat dunia. Sementara dunia Anda tak lebih luas dari pikiran Anda tentang Anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal, dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Malampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, duniapun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita. ⊛

sumber : Buku Motivasi Net halaman 6
Continue reading →

GURU TEKOR, MURID NYOHOR

0 komentar
Bandarlampung - p4k -- Ini kisah dari Bu Ani. Dia mengajar di sebuah sekolah lanjutan pertama. SMP swasta dengan status disamakan. Sekolahannya kecil, nyempil di antara hunian penduduk. Lokasinya di tengah kota Bandarlampung. Katanya sih sekolah di sana gratis, alias gak bayar SPP. Wah…, hebat. Ada sekolah gratis. Gratis bukan berarti untuk orang-orang kalangan miskin.

Guru-gurunya terlihat berwibawa, namun sederhana. Eit…, kebalik. Guru-gurunya terlihat sederhana, namun berwibawa. Ada namanya Pak Agus. Sosoknya yang tinggi besar, tegap kehitaman. Sosok ini sangat disegani oleh anak-anak murid.

Dari tiga tingkat, paling-paling jumlah kelasnya ada 3 kelas. Kadang-kadang bisa 4 sampai 5 kelas. Bisa dibayangkan jumlah siswanya. Jika 1 kelas berisi 30 kepala, maksimal kira-kira 150-an kepala. Jumlah gurunya tidak sampai 20 orang, itupun sudah termasuk tenaga TU yang kadang harus merangkap jadi guru.

Sekolah ini memang tidak dikhususkan untuk anak-anak orang kaya. Tapi, kebanyakan murid-miridnya berasal dari kalangan bawah alias miskin. Kehidupan mereka terbatas. Bahkan ada yang hampir-hampir kurang makan. Ada yang tidak bawa uang jajan. Pokoknya ngenes-lah kehidupan murid-muridnya.

Para guru sangat paham kondisi anak-anak. Akibatnya mereka, para guru, tidak tega untuk memberikan tugas yang kira-kira harus merogoh kocek mereka. Apalagi membebani urusan orang tua mereka yang kadang-kadang makan kadang-kadang harus puasa.

Lalu siapa yang menggaji para guru? Harus ditanyakan tuh? Dari mana ya kira-kira? Yang jelas bukan dari SPP para siswa. Menurut Bu Ani, gaji guru-guru tersebut diambilkan dari dana BOS. Mereka rela menerima uang gaji kadang 3 bulan sekali. Asyik, jadi makin gede…! Jangan seneng dulu. Uang gaji yang diterima tiap 3 bulan itu dimaksudkan biar terlihat gede. Waduh…!

Seorang guru yang mengajar di sekolah gratis itu hanya mendapatkan rata-rata 250 ribu per tiga bulannya. Jika dirata-rata per bulan tidak sampai 100 ribu. Sementara gaji tukang cuci di rumah Bu Ani dibayar 300 ribu per bulan. Bu Ani sarjana, pembantu di rumahnya paling-paling lulusan SD, atau bahkan nggak sekolah. Getir ya…? Siapa nih yang salah? Bu Ani atau pembantu rumahnya?

Dihitung-hitung untuk biaya operasionalnya saja nggak cukup. Uang 100 ribu, ditengah-tengah kehidupan kota, seperti orang yang numpang lewat. Menunggunya 3 bulan, habisnya sehari. Ya gimana lagi, bulan kemarin saja masih ngebon sama tukang sayur. Sama warung sebelah.

Tapi yang sangat disesalkan, masih menurut Bu Ani, anak-anak didiknya tidak mencerminkan kondisi finansial keluarganya. Mereka terlihat bergaya. Dengan henpon yang bagus-bagus. Gaya pakaian yang sedikit norak seperti artis di sinetron-sinetron. Dandanan rambut yang kadang tidak layak untuk seorang murid SMP. Wah, pokoknya kadang makan ati. Bu Ani hanya bisa mengurut dada.

Ketika disinggung dengan biaya kecil-kecilan saja anak-anak banyak yang mengeluh. Tidak ada duit katanya. Tampilannya saja yang nyohor.

Bu Ani dan kawan-kawan guru yang lain tampak menikmati pekerjaan mereka. Mereka terlihat ikhlas mendidik anak-anak yang kadang kelakuannya menyesakkan dada. Kadang bikin emosi naik. Kadang-kadang bikin darah mendidih. Mereka hanya bisa bersabar dengan uluran tangan pemerintah.

Guru-guru disana hanya bisa meluruskan niat. Bahwa mengajar di sana hanya sebatas mengejar nilai dari sisi ibadahnya. Hanya sebatas pengabdian atas ilmu yang selama ini dipelajari. Lain tidak. Untuk mendapatkan gaji yang layak tidak mungkin, kecuali sertifikasi. Untuk sertifikasi jelas tidak memenuhi kriteria. Pasalnya jumlah jam ngajarnya kurang dari yang dipersyaratkan, yakni minimal 24 jam. Hitungannya dari mana?

Tekor, tekor. Gurunya tekor, muridnya nyohor…! ⊛
Continue reading →

Labels